Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

10 Ciri Rumah Tangga di Ambang Kehancuran !

Tak ada pasangan suami istri menginginkan perkawinan yang berujung perceraian. Namun, ketika suatu pernikahan selalu diwarnai konflik, hal ini juga bisa membuat hubungan di ujung tanduk. Membiarkan konflik berlarut-larut dalam pernikahan memang bisa menjadi biang masalah yang mengakibatkan perceraian. Waspadai beberapa keadaan yang mengancam nasib pernikahan, seperti dikutip dari GeniusBeauty:

1. Kurangnya spontanitas Anda dan pasangan
2. Tidak menginginkan kebersamaan
3. Kurang perhatian pada pasangan
4. Tidak ada waktu untuk diskusi bersama
5. Tidak lagi merencanakan masa depan
6. Kehilangan kepercayaan pasangan
7. Terjadi perselingkuhan
8. Tidak lagi saling menghormati
9. Penurunan gairah bercinta
10. Tidak puas secara seksual
Bila kehidupan pernikahan Anda dan pasangan mengalami beberapa gejala di atas, mulailah membangun komunikasi yang menjadi masalah dalam hubungan.
Jika tak mampu memecahkannya sendiri, bantuan dari orangtua atau orang yang kalian dipercaya bisa memberi solusi. Jika perlu, berkonsultasi dengan konsultan pernikahan sebelum memutuskan perceraian sebagai jalan keluar.(vivanews.com)
sumber :http://takunik.blogspot.com/2010/09/10-tanda-perkawinan-di-ambang.html

Senin, 22 November 2010

Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri Selingkuh,

Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri yang Selingkuh
Saat ditemui wartawan di kediamannya, Johannes Subrata alias Joesoef, suami Cut Tari, tampak sangat tenang menanggapi beredarnya video porno dengan bintang mirip sang istri. Ia mengaku percaya dengan apa pun yang dikerjakan istrinya.

Apakah bintang video tersebut memang Cut Tari atau bukan, memang belum dapat dibuktikan. Terlepas dari hal tersebut, sikap pria ini terkesan sangat bijak dan di luar dugaan. Maklum saja, umumnya pria sangat responsif dengan aksi perselingkuhan yang dilakukan pasangannya, terutama istri. Pria juga cenderung lebih sulit memaafkan perselingkuhan pasangannya. Hal ini kebalikan dengan apa yang terjadi bila istrilah yang menemukan affair suaminya.
Sejak dulu, perempuan selalu dikondisikan untuk memaafkan ketidaksetiaan suaminya, tetapi pria tampaknya cenderung tidak melakukan hal yang sama untuk istrinya.


Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri yang Selingkuh? "Pria bisa memaafkan diri mereka karena kecerobohan mereka, tapi sulit memaafkan pasangan mereka karena hal yang sama," ujar terapis Phillip Hodson, partner di British Association for Counselling and Psychotherapy.


Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri Selingkuh,  Suami Sulit Memaafkan Istri Selingkuh, istri selingkuh, tanda tanda istri selingkuh
Bagi perempuan yang dikhianati, affair pasangan bisa sangat menyinggung harga dirinya. Sedangkan bagi pria yang dikhianati, perselingkuhan istri akan sangat menghina kelaki-lakiannya. Hal itu akan langsung menusuk pusat identitasnya. Hmm... Anda melihat suatu ketidakadilan dan sikap pengecut di sini?

Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri yang Selingkuh?  Bagi para pria suami , komponen seksual dari affair seorang istri adalah yang paling penting. Mereka lebih peduli dengan aspek seksualnya daripada jika sang istri mencintai pria selingkuhannya.

Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri Selingkuh,  Suami Sulit Memaafkan Istri Selingkuh, istri selingkuh, tanda tanda istri selingkuh
Konselor hubungan di Relate, Paula Hall, mengatakan pula, pria akan langsung menganggap hubungan akan berakhir ketika ia mendapati perselingkuhan istrinya.

Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri yang Selingkuh?  "Kalau buat pria suami , komponen seksual itu lebih penting. Bandingkan dengan perempuan yang biasanya akan bertanya, 'Apakah kamu mencintainya?', ketika mengetahui affair suaminya," ungkapnya.

Mengapah Suami Sulit Memaafkan Istri Selingkuh,  Suami Sulit Memaafkan Istri Selingkuh, istri selingkuh, tanda tanda istri selingkuh
Ia juga menambahkan, perasaan dan koneksi emosional cenderung lebih dilihat sebagai ancaman bagi perempuan. Apa artinya memiliki pasangan bila tidak mampu memiliki hatinya, bukan?

Perhatian Dan Komunikasi kepada Keluarga


Jika terjadi sesuatu pada anak – anak kita, maka kitalah yang bertanggungjawab atasnya. Banyak sekali cerita anak – anak yang tumbuh melenceng dari apa yang kita harapkan. Bahkan ada orangtua yang tidak tahu sama sekali perkembangan anaknya sudah sampai sejauh mana dengan alas an terlalu sibuk bekerja untuk keluarga.

Ilustrasi di bawah ini mungkin bisa memberikan pencerahan kepada kita sebagai orangtua, bahwa menyediakan sedikit waktu untuk berkomunikasi dan memberikan perhatian akan memberikan rasa bahagia bagi kedua belah pihak.

Dikisahkan ada seorang anak remaja berusia 18 tahunan. Kedua orangtuanya sibuk bekerja sehingga mereka jarang bertemu. Anak itu punya banyak sekali kegiatan seperti menjadi anggota OSIS, masuk tim basket dan sepakbola, sampai bergabung dalam sebuah band.

Suatu hari sepulang latihan basket, anak itu mengalami kecelakaan. Motornya terpeleset, badannya terpental dan membentur trotoar. Walau begitu baik motor dan tubuh anak itu tidak mengalami kerusakan yang berarti. Anak itu hanya mengalami luka memar saja. Saat pulang ke rumah sang Ibu menanyakan kondisinya yang tidak biasanya. Anak itu hanya menjawab tidak apa – apa. Namun sebagai seorang Ibu secara naluriah beliau langsung mengambil obat oles dan mengobati luka memar anaknya. Tiga bulan setelah kecelakaan itu sang Ibu sering melihat anaknya meringis kesakitan diselingi demam. Kalau ditanyai sang Ibu, jawabnya selalu sama – ‘ngga apa – apa kok Bu, paling cuma masuk angin karena kecapean. Minum obat warung juga sembuh kok’.

Suatu hari sang Ayah melihat anaknya itu terduduk lesu. Diperhatikannya secara seksama sekujur tubuh anaknya, maka terlihatlah warna kuning di semua kulitnya dan suhu tubuhnya pun meninggi. Tak perlu menunggu lama maka dibawalah anak itu ke rumah sakit. Pihak rumah sakit mendiagnosa anak itu terkena penyakit liver diiringi dengan membesarnya ginjal dan penyebaran sel kanker stadium akhir. Mendengar hal itu kedua orangtua anak itupun mengupayakan pengobatan ke luar negeri. Namun rupanya memang sudah tidak ada harapan bagi anak itu.

Di saat - saat terakhir hidupnya, anak itu meminta maaf kepada kedua orangtuanya yang sedang bersedih. Anak itu merasa di hidupnya yang singkat ini ternyata hanya mendatangkan kesedihan saja. Anak itu merasa belum sempat berbakti pada kedua orangtuanya, karenanya anak itu meminta kedua orangtuanya mendoakannya agar segala dosanya diampuni Tuhan.

Anak itu pun pergi meninggalkan kedua orangtuanya dan mereka pun harus mengikhlaskan kepergian putra mereka. Ada penyesalan mendalam dengan kepergian anaknya itu. Seandainya dulu mereka dapat berkomunikasi dengan baik, menyediakan waktu untuk anak mereka dan membangun kebersamaan maka penyakit anak itu pasti akan diketahui sejak dini sehingga bisa diupayakan pengobatan lebih awal.

Sebagai orangtua terkadang kita memang diperbudak pekerjaan. Padahal anak – anak kita lebih memerlukan kita. Kurangnya perhatian membuat anak mencari pelarian ke hal – hal lain seperti narkoba, pergaulan bebas, main game tak terbatas hingga banyak kasus lain yang seharusnya bisa dicegah.

Maka itu bagaimanapun sibuknya, kita harus bisa menyediakan waktu bersama – sama dengan anak kita dan memelihara komunikasi antar anggota keluarga dengan efektif. Dengan perhatian dan komunikasi secukupnya kita mampu membangun dan memelihara keluarga penuh sukacita dan berbahagia.

Minggu, 21 November 2010

Resiko Bila Menikah Tanpa Cinta

Tidak sedikit rumah tangga dimulai tanpa cinta namun akhirnya bahagia dan tidak sedikit mereka memulainya dengan cinta namun berakhir prahara

Mencari arti cinta yang paling sesuai dengan Anda memang membutuhkan waktu. Belum sempat menemukan, usia dan lingkungan semakin mendesak untuk memikirkan sebuah pernikahan. Ya, pernikahan! Momen untuk memutuskan dengan siapa Anda akan menyatukan tujuan hidup dan menghabiskan sepanjang hidup bersama.


Menikah memang butuh banyak pertimbangan, tapi apakah cinta juga 
masih harus dipertimbangkan?
Menikah memang butuh banyak pertimbangan, tapi apakah cinta juga masih harus dipertimbangkan?

Dari momen ini, setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Ada yang berpendapat untuk mencari dia yang paling sesuai untuk tujuan hidup, baik itu prestise, kebaikan hati, kekayaan atau status. Walaupun tanpa cinta. Bagi mereka, cinta akan tumbuh dengan sendirinya dari kehidupan yang menyenangkan. Ada lagi yang berpikiran apa pun itu keadaannya, dengan cinta pasti semua akan bisa dilalui dengan baik.

Kita tidak bisa menilai benar dan salah dari dua pendapat ini, semuanya tergantung kesesuaian dengan pandangan hidup dan pribadi setiap orang yang menjalaninya. Kalau begitu, bagaimana dengan pendapat baku ‘menikahlah dengan orang yang kau cintai’? Mengapa pendapat itu masih dipertahankan banyak orang dalam nasehat perkawinan? Karena risiko menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta cukup menakutkan, Ladies! Seperti yang berikut ini.

Cinta Sejati Datang

Setiap orang dianugerahi rasa cinta yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Sayangnya, dia tidak peduli Anda sudah menikah atau tidak. Banyak wanita mengakui mereka menemukan seseorang yang begitu lekat di hati dan merasa itulah cinta sejati mereka, justru setelah menikah. Dan rasa ini bisa mengalahkan cinta yang mereka bangun dengan pasangan yang memberikan kehidupan yang membanggakan. Jika sudah begini, maka pilihannya adalah mengubur cinta dalam-dalam atau memperjuangkan cinta dengan mengorbankan apa pun itu.

Anak merasa tidak tenang

Mungkin hal ini jarang disadari oleh para orang tua. Seorang anak merasa tenang jika melihat kedua orang tuanya saling mencintai dan bisa mengarahkan pikiran dan energi mereka untuk banyak hal positif dalam hidupnya. Sedangkan anak dengan pasangan yang dingin akan cenderung menjadi anak yang dingin juga dan selalu merasa cemas kalau-kalau dia akan ditinggalkan ayah atau ibunya. Walaupun itu mengobrol, menonton televisi bersama, seorang anak bisa merasakan orang tuanya saling mencintai atau tidak.

Kehidupan yang hambar

Tanpa cinta, kehidupan akan berjalan seperti rutinitas biasa. Melayani suami, menyiapkan makanannya, membelikan kebutuhannya, bahkan saat bercinta tidak akan ada bedanya dengan suatu pekerjaan jika Anda tidak merasakan cinta di dalamnya. Sepanjang hidup seperti itu, siapa yang mau? Tidak masalah jika akhirnya Anda dan pasangan bisa saling jatuh cinta dari rutinitas sehari-hari itu, namun jika tidak, kehidupan rumah tangga akan menjadi siksaan saja.

Rentan pertengkaran

Dua sosok yang berbeda mau memahami sesamanya hanya karena dilandasi cinta. Tanpa itu, segala persoalan bisa menjadi pemicu masalah. Anda tidak terpikir untuk memahami semangat suami dalam bekerja untuk keluarga ketika dia harus sering ke luar kota. Suami pun tidak akan terpikir bahwa sarapan yang Anda siapkan tiap pagi dan kesetiaan Anda membukakan pintu saat dia pulang adalah sebuah bentuk kasih sayang. Walaupun akhirnya rumah tangga Anda tetap bersatu, namun tidak menjadi tempat yang nyaman untuk hidup.

Tidak bahagia

Sudah pasti risiko ini yang paling mendasar. Anda tentu paham bahwa kebahagiaan karena cinta dan kebahagiaan karena materi itu berbeda rasanya. Setiap orang pada dasarnya membutuhkan rasa bahagia, dan hal inilah yang menyebabkan walaupun sudah memiliki segalanya seseorang akan tetap mencari seseorang yang bisa membuatnya dimabuk cinta. Baik Anda maupun suami akan selalu curiga kalau-kalau ada seseorang di luar sana yang akan membuat Anda berstatus janda atau suami menjadi berstatus duda. Tentu bukan kehidupan yang membahagiakan.

Sumber : ruanghati.com


Baca Selengkapnya Disini : http://www.unikaja.com/2010/11/beginilah-resiko-yang-akan-terjadi-bila.html#ixzz15yGChuvN

Jumat, 12 November 2010

POLYGAMI VS ZINA

Masih ingat “kasus” tokoh  muda, saya tidak memanggilnya “kiayi” kasihan nanti kiayi yang lainnya, karena konon kabarnya, dicantumkan kata “kiayi” di depan namanya, tak lain, tak bukan, hanya untuk merebut pasar, entahlah itu urusan yang mempromosikannya, dan beliaupun tak mau disebut “kiayi “  karena waktu itu masih terlalu muda, katanya. Tokok muda yang waktu itu sedang lagi “naik daun” hingga tiada hari TV di Indonesia tanpa ada wajahnya atau penampilannya ? Kemana tokoh muda itu sekarang ? Kemana dia sekarang ? Mengapa TV tak lagi segencar dulu menayangkan ceramah, dialog, tatap muka dan sebagainya ? Kenapa tokoh muda ini sekarang “tenggelam” ? Wah banyak sekali pertanyaan yang muncul di awal tulisan ini.
Semua pertanyaan itu penyebabnya  hanya satu yaitu Polygami ! Ya hanya karena berpolygami, tokoh muda ini “dihakimi” oleh pecinta, pendukung, pengaggum, pengidola, simpatisannya sendiri, terutama wanita, khususnya ibu-ibu ! Ya ibu-ibulah yang paling geram, protes, geregetan, kesal, kecewa, benci dan lain sebagainya. Aneh juga ya , kok ibu-ibu ? Bukan gadis yang belum menikah yang geram, protes, geregetan, kesal, kecewa, benci dan lain sebagainya ?
Jangan-jangan Ibu-ibu, maaf, dalam mimpi-mimpinya adalah tokoh muda ini ? Karena kebetulan tokoh muda memiliki wajah yang “menjanjikan ” Kata Ibu-ibu  enak untuk dipandang, hingga ketika tokoh muda ini bicara, mereka akan “terpaku” di tempat duduknya dan rela berdesak-desakan untuk melihatnya dan mereka selalu membanjiri setiap ada tokoh muda ini. Entah ibu-ibu niatnya mendengarkan ceramahnya atau ingin melihat wajah yang “menjanjikan” ini, atau sambil becanda bilang ” tak apa-apakan sambil dengar ceramah menikmati wajah beliau ? Astagfirullah,  Wallahu a’lam. Jangan-jangan ibu-ibu pada salah niat, bukan mendengarkan ceramah, tapi ingin melihat berlama-lama wajah sang idola ini. Begitulah saat itu yang yang terjadi dan memang nyata.
Lalu kenapa kini tak seperti dulu lagi ? Apa yang salah ? Mengapa “penghakiman” terhadap tokoh ini begitu kejam ? Ya jawabannya, ya karena polygami itu ! Yang repotnya saat berpolygami, yang dikawini bukan janda-janda tua yang mempunyai banyak anak yatim, seperti yang dicontohkan nabi, tapi wanita yang lebih ” segar’ lebih muda. lebih “cantik” dan segala kelebihan yang lain, dibanding istri tuanya yang dimadu.
Inipula yang mungkin menjadi penyebab tambahan, mengapa ibu-ibu semakin geram kepada tokoh muda ini, bahkan waktu itu beredar sms ke seluruh tanah air untuk memboikot seluruh ceramahnya ! Lebih edan lagi, pemerintah mau mengeluarkan semacam peraturan atau perundang-undangan untuk melarang polygami, gara-gara tokoh ini berpolygami, namun dengan berbagai alasan, akhirnya batal !
Lagi pula apa urusanya pemerintah melarang orang berpolyagami? Polygami itu adalah “pintu darurat” dengan syarat-syarat tertentu, dibolehkan oleh agama. Polygami bukan wajib, sunnah, tapi mubah, boleh, tak dilarang, namun tak diharuskan, apalagi diwajibkan. bahkan kalau melihat kontek ayatnya lebih menjurus kepada “pelarangan” karena ada kata ” jika kamu tak mampu berlaku adil, ya satu saja ! “Lelaki mana sih yang bisa adil, kalau yang muda lebih cantik dibanding yang lebih tua ? Nah dengan halus, sebenarnya yang polygami diperingatkan, ” kamu tak bisa berlaku adil, jadi mengapa kamu lakukan ? Tidakah kamu takut dosa, dengan menyakiti sesamamu, istrimu dan anak-anakmu ? Tidak kamu menyadari, betapa sakit hatinya sang istri ketika dimadu ? Betapa “berdarah-darahnya” istri yang dimadu ? Bahkan banyak istri tua yang dimadu, bila mentalnya tak kuat, gila ! Bahkan meninggal dunia, karena tak mampu menahan sakit hatinya dan kalau ada yang tetap bertahan hidup,  akhirnya memilih untuk bercerai ! Maka timbulah kawin cerai, ” lebih baik bercerai, dari pada sakit hati setiap hari, karena dimadu ” katanya.
Dan kalau jadi pemerintah melarang polygami, yang dalam hukum di bolehkan dengan syarat tertentu, berarti pemerintah melarang atau melawan hukum Al Qur’an ! Dan orang yang pertama protes  adalah seluruh ummat Islam yang mengetahui asal hukum polygami dan saya akan ikut protes dan melawan peraturan tersebut yang jelas-jelas salah ! Loh kok salah ? Iya dong, Tuhan aja membolehkan polygami, sebagai jalan darurat atau “pintu darurat”, misalnya karena sang istri mempunyai penyakit yang menahun yang tak bisa disembuhkan, sehinga tak mampu “melayani” sang suami, dalam kasus ini dibolehkan dan kasus yang sejenisnya.
Kalau pemerintah melarang polyagami, yang Tuhan saja membolehkan, berarti pemerintah akan melawan Tuhan, Rosulullah dan ummat Islam ! Pemerintah akan salah besar bila melarang polygami, mengapa ? Ya karena dalam segi hukum, polygami itu boleh, halal hukumnya ! Jadi akan salah kaprah kalau pemerintah melarang polygami ! Yang jelas-jelas harus dilarang oleh pemerintah adalah pelaku zinah, inilah yang harus dihukum berat, kalau mungkin sampai hukum mati ! Karena perzinahan adalah dosa besar yang telah merusak tatanan hidup dan moral manusia ! Dan hukum Indonesia yang mengekor ke Barat, zinah tak terkena hukuman, bila dilakukan suka sama suka, mau sama mau atau membayar PSK atau membayar gigolo !
Nah yang dulu disebut WTS ( Wanita Tuna Susila ) sekarang istilahnya “diperhalus” menjadi PSK  ( Pekerja Sek Komersil ) tapi hakekatnya sama,  pezinah ! Lebih edan lagi, pemerintah berencana mau memungut pajak untuk PSK, nah bila ini terjadi berarti pemerintah yang mayoritasnya adalah ummat Islam, melegalkan PSK, itu berarti melegalkan perzinahan, astagfirullah ! Jadi jangan di bolak balik, yang halal mau dilarang, yang jelas-jelas haramnya, malahan dibiarkan,  bahkan dilokalisasikan, dilegalkan,  edan ! Manusia semakin edan, yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan, dibiarkan !
Semoga pemerintah batal melegalkan PSK, atau ibu-ibu, maaf,  malahan senang dengan adanya PSK, loh kok bisa senang ? Bisa saja di dalam hati kecilnya, ibu-ibu lebih senang ada PSK atau WIL ( wanita idaman lain ) karena keduanya tidak ada ikatan perkawinan, dengan kata lain, yang penting tidak dimadu, tidak dipolygami ! Nah kalau ini yang terjadi, maka ibu-ibupun ikut mendukung atau melegalkan PSK, artinya ya mendukung perzinahan, karena takut dirinya dimadu atau suami melakukan polygami !
Oke, sekarang ibu-ibu protes atau ingin melakukan emansipasi, bahwa laki-laki dan perempuan itu sama, kalau laki-laki atau suami bisa polygami, mengapa perempuan tidak ? Oke , perempuan ikut-ikutan “menyaingi ” laki-laki, bila laki-laki berpolygami, maka perempuan berpolyandry ! Ya silahkan aja melawan kodrat wanita.
Nah mari kita analisa, sekarang bila perempuan berpolyandry, bila dia mengandung, anak siapakah yang dikandungnya, tarohlan perempuan ini punya suami 4 orang,  A, B, C atau D ? Bisakah anak yang dikandungnya anak salah seorang dari mereka ? Tentu saja mereka menolaknya, bila suami A yang ditunjuk, si A akan menolak sambil berkata: ” Enak aja.. aku yang nanggung, “bikinnya” rame-rame, kok aku nangung sendirian, ogah akh ! ” Begitu juga bila yang ditunjuk si B, C atau D, mereka akan menolak dengan alasan yang sama !
Sekarang lihat kalau lelaki yang melakukan polygami, misalnya seorang laki-laki, E mempunyai istri 4 orang, si W. X. Y dan Z, maka bila diantara mereka mengdung atau empat-empatnya mengandung sekaligus bersamaan dan lahir nanti juga bersamaan, tetap saja semua akan disebut anaknya E ! Atau mau contoh ektrem, jaman kerajaan dulu, seorang raja punya istri bukan hanya 4, bahkan lebih, Di jaman kekaisaran Cina, seorang kaisar mempunya istri ribuan, sehingga kaisar tidak ingat mana istrinya, mana anaknya, tapi tetap saja anak-anak tersebut disebut anak kaisar , karena benihnya satu yaitu kaisar ! Sekarang dibalik, gimana kalau seorang ratu, punya suami ribuan, bila sang ratu hamil, ayo anak siapa sekarang ? Butuh waktu yang sangat panjang untuk meniliti benih yang dikandungnya !
Itulah makanya Tuhan membolehkan polygami dan Tuhan tidak menyinggung Polyandry, disinggungpun tidak. Tolong cari, ada  tidak,  ayat mengatakan polyandri dibolehkan atau ayat yang menyinggung polyandri ? Karena kalau ada ayat polyandry, itu berarti melawan kodrat wanita itu sendiri ! Ada memang “kasus” polyandry, tapi itu hanya terjadi di kisah pewayangan, kalaupun ada di dunia nyata, itu hanya sedikit ” kasus”.
Saya sebagai laki-laki, bukan setuju pada polygami, tapi mencoba ‘mendudukan’ polygami pada posisi yang seharusnya. Lagi pula ” Satu istri juga ga habis-habis, jadi buat apa polygami ?”  Yang mau polygami, ya monggo, asal jangan bilang ” sunah rosul, sunah rosul ! ” Giliran yang polygami, bilangnya ” sunnah rosul ” Nah giliran berjihad di medan perang, sunnah tahajud sampai kaki beliu bengkak, puasa senin kamis,  diam seribu bahasa ! Lagi pula kalau mengikuti polygami  yang sunnah rosul adalah mengawini perempuan tua, janda-janda miskin yang punya anak yatim, janda-janda yang suaminya meninggal karena perang jihad, bahkan wanita negro yang hitam legam, tapi beriman ! ” Mau ? Saya yakin, mereka akan angkat tangan alias menolak !
Udeh deh, kawin-kawin aja, polygami-polygami aja, jangan pakai membawa “sunah rosul, sunah rosul ” Katakan sejujurnya, jangan ada dusta diantara kita, bahwa : ” berpolygami karena nafsu, karena calon istri kedua lebih cantik atau lebih segalanya dari istri yang pertama ! ” Lalu bagaimana kalau ada wanita yang mau dipolygami ? Ya jangan dilarang, Tuhan saja membolehkan kok. Jangan dikatakan’ merebut” suami orang, kalau mereka menikah, itu halal !
Tapi memang sebagian besar wanita tak mau dimadu, tak mau dipolygami, ” Suamiku, miliku seorang” katanya, ibu-ibu lupa yakh ? Suami itu adalah amanah Allah yang dititipkan pada ibu-ibu, jadi suami adalah milik Allah, titipan Allah, nah kalau Allah menitipkan suami ibu pada wanita lain, boleh ga ? Ya boleh aja, suami ibu yang punya Tuhan, bukan milik ibu, bukan milik istri ! Apakah Tuhan adil ? Ya,  Tuhan Maha Adil, termasuk dalam membolehkan adanya polygami dan melarang polyandry !

Kamis, 11 November 2010

Istri Pergi Dari Rumah Tinggalkan Anak Dan Saya



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Saya ingin menyampaikan permasalahan yg sedang saya alami.
Saat ini rumah tangga saya sedang mengalami masalah, usia pernikahan kami sudah 9 tahun kami dikaruniai seorang anak laki-laki berumur 7,5 tahun.

Dua tahun belakangan ini hubungan saya dan istri saya tidak harmonis hal ini dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, karena saya memiliki penghasilan yang masih kecil dan belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga, saya sangat menyadari betul akan hal itu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, tapi memang belum ada rejekinya. Tapi walaupun demikian saya selalu memberi nafkah kepada keluarga walaupun sedikit. Saya sangat menyayangi istri dan anak saya.

Nah akhir-akhir ini istri sering keluar rumah tanpa seijin dari saya sbg suaminya, dengan alasan untuk mencari tambahan nafkah, dia suka pergi mengantar temen2nya belanja dan lain-lain. Saya sudah berusaha mengingatkannya secara baik-baik untuk tidak keluar rumah tanpa seijin saya tapi dia tetap saja pergi. Semenjak itu kami sering bertengkar dengan persoalan yang sama dan setiap kali bertengkar dia selalu minta cerai. Dan sudah sebulan ini istri saya pergi dari rumah meninggalkan saya dan anak saya, dan dia bersikeras untuk cerai dari saya, dengan alasan saya terlalu mengekang, padahal saya sebagai suami hanya ingin dia menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk saya dan anak saya.

Sebelum dia pergi dari rumah, kami bertengkar hebat dan diketahui oleh saudara-saudara istri saya dan ibunya, dia sudah dinasihati oleh saudara-saudaranya dan oleh ibunya, tapi dia tetap merasa tidak bersalah atas sikapnya itu, dia malah membantah, dalam keadaan terpaksa dan emosi saya akhirnya mengeluarkan kata-kata talaq kepada istri saya. Saya sangat menyesal telah mengucapkan kata talaq, karena saya sebenarnya tidak ingin bercerai dengan istri saya, saya sangat mencintai istri saya, saya ingin tetap mempertahankan rumah tangga saya sampai akhir hayat saya.

Pertanyaan saya, bagaimanakah menurut islam tentang permasalahan rumah tangga saya ini dan apakah kata2 talak yg saya ucapkan dalam keadaan emosi dan terpaksa tersebut syah menurut Islam? mohon penjelasannya. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Chandra

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh
Bapak Tjandra yang dirahmati Allah, sungguh saya turut prihatin dengan kondisi rumah tangga Anda yang sedang diuji Allah. Di balik ujian ini pastilah ada hikmahnya, oleh karena itu jangan lupakan syukur karena segala syukur hanya layak kita haturkan di hadapan Allah yang Maha Pemberi Nikmat tanpa berbatas. Yakinlah, Ia lah yang membagi rezeki untuk hamba-Nya dengan seadil-adilnya dan dengan penuh kasih sayang. Tak mungkin ada hamba-Nya yang terdzolimi dengan keputusan-Nya.
Istri Anda nampaknya juga tengah mendapat ujian keimanan, mestinya apapun yang diusahakan oleh suami dengan susah payah haruslah tetap dihargai. Itu sebabnya pak Tjandra, apapun keadaan anda dan rezeki yang anda terima, seyogyanya anda dan istri tak sedetik untuk tak bersyukur dengan-Nya. Jangan pula pernah mengkufuri nikmat-Nya karena kekufuran itu mendatangkan murka dan bencana.
Problem yang anda sedang hadapi ini, Sesungguhnya adalah ujian yang akan melihat bapak sebagai imam keluarga untuk bijaksana menghadapi perilaku anggota keluarga bapak, terutama istri. Ada baiknya kejadian ini juga dijadikan perenungan karena sebuah problem, sebenarnya tak pernah berasal dari satu pihak saja namun dapat berasal dari interaksi antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Lewat cerita bapak yang terbatas, mungkin saja ada masalah pada pola interaksi dan komunikasi yang bapak bangun. Apakah ketika nafkah yang Bapak berikan tidak mencukupi, bapak menjelaskan hal itu kepada istri bapak dan mengangkat problem itu sebagai problem bersama? Atau bapak hanya pasif dan membiarkan istri mencari sulusi sendiri? Kalau dibicarakan bersama maka istripun akan ikut musyawarah dan mencari solusi agar ketahanan keluarga bapak tak tergoyahkan. Jadi keputusan yang diambil adalah buah kesepakatan bersama dan masing-masing saling ridlo. Banyak kejadian kesalahpahaman pada suami-istri adalah berasal dari kurangnya keterbukaan, sehingga masing-masing saling menafsirkan perilaku pasangan menurut persepsi subyektif masing-masing. Nah di sinilah masalah berawal. Jika pola komunikasi searah, misalnya anda melarangnya keluar rumah tanpa anda beri istri anda peluang untuk mengeluarkan isi hatinya. Maka istri akan merasa dikekang. Mengapa Anda tak menanyainya dengan penuh pengertian, apa alasannya pergi, sehingga ganjalan di hatinya yang berkaitan dengan perasaan kurang dari sisi ekonomi, menjadi meledak karena ia melihat anda menjadi sosok otoriter yang pandai melarang sementara kebutuhannya tak semuanya terpenuhi. Ini menjadi problem bertumpuk-tumpuk baginya.
Memang tak mudah menjadi istri sholihah, sebagaimana pula, tak mudah pula menjadi suami sholih. Semua itu membutuhkan perjuangan. Itu sebabnya, dalam rumah tangga, seorang suami wajib mendidik istrinya. Tugas suami adalah mendidik istri dalam kebaikan dan jika belum berhasil maka berdoalah dengan serius dan sungguh-sungguh agar hidayah juga masuk ke dalam seluruh hati anggota keluarga anda.
Bapak Tjandra, perkataan thalaq sudah terjadi, apakah ketika Anda mengucapkannya dalam keadaan marah sekali, dalam keadaan mabuk dan dalam keadaan terpaksa? Jika tidak maka sudah menjadi talak 1 yang berarti masih bisa ruju’, oleh karena itu berhati-hatilah para suami agar tak mudah mengucapkan kata cerai. Karena kata cerai itu, bercandanya sama dengan seriusnya. Anda masih bisa merujuknya bila ia mau dan masih dalam masa iddah. Tetapi bila sudah keluar dari masa iddah, yaitu tiga kali masa suci dari haid, anda harus mengulang akad nikah.
Bpk Tjandra, usahakan bicara baik-baik pada istri, Anda masih mencintainya, ini modal bagus Anda merubah sikap lebih persuasif pada wanita. Minta maaf kepada istri dengan tulus, lembut, dapat melunakkan hati wanita karena ketulusan hati seorang suami pasti akan ditangkap istrinya. Sudahkah anda mengunjunginya dan mengubah sikap anda untuk mendengarkan uneg-uneg dihatinya? Insya Allah bila istri anda masih menginginkan kebaikan untuk hidup bersama anda, Allah akan menyatukan anda kembali .
Bpk Tjandra yang sholih, namun bila memang ia tak mau kembali kepada anda, semoga anda mendapat gantinya yang lebih baik. Bicarakan masalah Anda pada keluarga besar dan tokoh agama setempat untuk mencari solusi terbaik. Allah adalah sebaik-baik penolong, maka berdoalah selalu. Allah menolong hamba-Nya selama sang hamba serius untuk menolong agama-Nya. Terirng do’a dari saya ya pak.
Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Jeritan Hati Isteri Ke Dua

saya adalah istri ke-2 dari suami sy. istri pertama suami sy kecelakaan geger otak saat hamil 4 bulan anak ke-3. saat ini kondisi istri pertama lemah sudah tidak bisa lagi melayani suami dengan penuh dan tidak bisa merawat anak2. sebenarnya sejak usia 1 tahun pernikahan mereka, suami sy sudah ingin menikah lagi. tapi pada saat itu di tentang oleh orang tuanya. alasan menikah lagi karena alasan suami kurang puas. skr krn kondisi istri pertama sudah sangat lemah, akhir nya suami sy menikah lagi dengan saya. kami tinggal 1 rumah. selama saya tinggal serumah dengan istri pertama, saya tidak melihat keharmonisan suami dengan istri pertama. istri pertama tidak pernah patuh kepada suami, baik sebelum maupun setelah kecelakaan. istri pertama tidak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik(tidak bisa membereskan rumah, tidak bisa masak, tidak bisa merawat anak,tidak bisa merawat tubuh). dalam komunikasi pun suami tidak suka mendengar suara nya. bukan hanya suami tapi saya dan anak2 nya pun tidak suka dengan suaranya. suara nya tidak enak di dengar telinga.dalam hubungan intim dengan isri pertama pun suami sering kesulitan(tidak bisa berdiri). lalu saya bertanya kepada suami, apakah masih ada perasaan cinta ke istri pertama??? suami sy menjawab sulit untuk mencintai nya. krn sudah dari dulu suami ingin menikah lagi.saya jadi bingung dengan rumah tangga ini. sy sering ingin pisah rumah tapi suami dan anak2 nya melarang saya untuk pergi.anak2 nya kurang sayang kepada ibu nya. krn ibu mereka kurang memperhatikan anak2.

saya harus bagaimana menghadapi kondisi seperti ini?

terima kasih

yani

Jawaban

Ibu Yani yang dirahmati Allah,
Saya memahami yang Anda rasakan; Anda adalah istri kedua yang tentunya ingin membantu keharmonisan keluarga besar Anda dan suami Anda dapat pulih dan terwujud. Semoga Anda selalu berniat baik untuk melakukan amal sholih bagi orang lain. Ibu Yani, adanya pernikahan kedua dengan Anda sudah terjadi, bagaimanapun saat itu mungkin menyakitkan bagi istri pertama. Sebagai sesama wanita, Anda tentu lebih mudah berempati tentang perasaan wanita, bukan? ..... ini penting Bu... agar ada solusi yang adil, suatu hal mendasar dalam sebuah perkawinan poligami. Keadilan adalah syarat mutlak dalam poligami, kalau ingin mendapat barokah dari perkawinan tersebut.
Ibu Yani yang dirahmati Allah,
Alasan suami menikah lagi menurut penjelasan Anda adalah karena istri pertama yang berakhlak buruk dan kurang dapat berperan sebagai ibu yang baik. Sebenarnya suami bertanggungjawab mengingatkan istrinya, karena suami adalah qawwam (pemimpin) yang akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Jika ketika terjadi hal yang mengecewakan dari istrinya kemudian dia akan mencari pengganti, wah...repot juga ya...; ini adalah preseden buruk tentang tanggungjawab seorang laki-laki pada keluarganya. Bagaimana jika nanti ada hal-hal yang tidak disukai dari Anda, apakah kemudian semudah itu pula dia mencari wanita lain?
Ibu Yani yang dirahmati Allah,
Terhadap istri pertama memang selayaknya Anda merasa empati, bahwa tentu pernikahan suaminya dengan wanita lain adalah hal yang tak mudah diterima begitu saja. Apalagi kondisinya sekarang lemah setelah kecelakaan yang dialaminya. Bagaimanapun keadaannya, semua istri harus mendapatkan pembagian adil dari suami, yakni pada hal-hal yang secara fisik dapat dibuat adil, seperti pembagian jatah hari dan nafkah. Adapun masalah hati dan kecenderungan adalah hal yang sulit sehingga untuk dapat sama persis tidak disyaratkan, namun tak mengurangi kema’rufan yang menjadi landasan sikap sebuah keluarga.
Tentang hambatan seksual suami, mungkin ini disebabkan karena faktor psikologis. Dengan tetap menghormati istri, menghargainya, maka suami akan dapat berdaya lagi, insya Allah.pertanyaan yang belum terjawab, misalnya, sesungguhnya istri pertama suami anda itu sakit selemah apa? Kalau dia tidak bisa melayani suami anda, toh nyatanya mereka masih berusaha untuk berhubungan, dan yang tidak bisa menjalankan fungsinya kan justru suami anda? Lalu apa yang sudah suami lakukan untuk mengobatinya kalau dia memang perlu diobati? Pengobatan penyakit apapun sesungguhnya sangat ditunjang oleh kondisi psikisnya. Bila secara psikis dia sehat, didukung oleh orang-orang yang mencintainya, dipedulikan oleh orang-orang di sekitarnya, Insya Allah selalu ada perbaikan dengan penyakitnya.
Ibu Yani, alhamdulillah Anda dekat dengan anak-anak dari istri pertama; berarti Anda cukup diterima mereka. Namun tak sepantasnya jika kemudian anak-anaknya menjauhi Ibunya; ingatkanlah mereka untuk tetap birrul walidain.

Ibunya adalah sosok yang perlu dikasihani, janganlah dibiarkan sendiri, Ibu mereka butuh kasih-sayang, dukungan sekaligus nasihat. Namun yang lebih penting juga ingatkan suami agar tidak melalaikan kewajibannya sebagai qawwam dalam keluarga besarnya. Janganlah kepentingan individu yang dikedepankan, namun kepentingan anggota keluarga, istri-istri dan anak-anaknya.
Itulah sebabnya, meski berpoligami, Rasulullah adil dengan apa yang beliau lakukan. Beliau tidak mendzolimi salah satu istrinya dan mengutamakan istri yang lain dalam hal-hal yang bisa dibagi. Meski dalam urusan cinta tidak ada yang bisa mengalahkan kecintaan beliau kepada Aisyah. Itu sebabnya pula rumah mereka terpisah, tidak menyatu seperti yang anda lakukan, agar kegiatan privat yang mestinya menjadi rahasia mereka berdua tidak dilihat oleh madunya.
Semoga Allah tetap membimbing seluruh umat yang mau menaati-Nya. Teriring do’a dari saya, Allah akan terus mengokohkan dan menyatukan hati segenap keluarga Anda. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
bu Urba.

Rabu, 10 November 2010

Ketika Polygami Dianjurkan Negara

Pada masa Perang Dunia I, di Perancis banyak Laki-laki yang gugur. Semula mereka melarang poligami, namun kemudian berubah menjadi menganjurkan untuk berpoligami…

Hal ini dikarenakan, bagaimana nasib para janda tersebut ? dan bagaimana pula nasib anak-anak yatim itu ? Jika Poligami masih tetap dilarang…

Jadi sebenarnya ada situasi tertentu secara perorangan atau dalam masyarakat, poligami bisa dibenarkan…

Poligami memang persoalan yang penuh kontroversial. Kita sering mendengar, banyak rumah tangga yang hancur, gara-gara sang suami nekad kawin lagi. Namun, sering kali kita juga mendengar, tentang Kisah Poligami yang Sukses.

Bagaimana sesungguhnya Poligami itu ?

Benarkah Poligami itu Sunnah ?

Ketika membahas persoalan yang berkaitan dengan Poligami, Ustadz Quraish Shihab menulis:

Poligami itu dibolehkan oleh agama, selama yang bersangkutan memenuhi persyaratan, yaitu yakin atau diduga keras dapat berlaku adil. Dan keadilan yang dituntut adalah keadilan di bidang materi bukan keadilan di bidang hati. Poligami bukan perintah, tetapi izin. Bedakan perintah dengan izin. Poligami bukan perintah, bukan sunnah, bukan pula anjuran, akan tetapi boleh kalau memenuhi persyaratan (sumber : Forum Swaramuslim dan Kajian Lintas Agama).

.

Kisah Imam Hanafi dan Poligami

Dahulu, ada salah seorang penguasa dinasti Abbasiyah yang isterinya tidak senang pada suaminya, dikarenakan suaminya baru kawin lagi. Maka dia mengadukan hal ini kepada Khalifah, yang bernama Abu Mansyur.

Lalu Khalifah berkata, “Baiklah, kita mengundang seorang ulama besar yang bernama Abu Hanifah atau Imam Hanafi.”

Diundanglah ulama tersebut. Mereka hadir bertiga dalam diskusi. Sang suami, bertanya kepada ulama tersebut, “Berapa banyak seorang laki-laki diperkenankan untuk kawin ?“.

Maka Abu Hanifah menjawab, “4 orang isteri“. Suami kemudian berkata dan melirik kepada isterinya, “Nah kamu udah dengar tuh“.

Isteri menjawab, “Ya saya sudah dengar. Bolehkah seseorang keberatan jika suaminya kawin lebih dari satu ?“.

Imam menjawab, “Tidak boleh karena itu ketetapan Tuhan“. Suami berkata lagi kepada isterinya, “Dengar tuh“.

Kemudian Imam berkata, “Tetapi wahai penguasa, Tuhan itu menetapkan harus adil. Dan bagi yang tidak mampu adil sebaiknya mengikuti tuntunan Tuhan, supaya cukup satu“.

Isterinya yang mendengar ini berkata balik kepada suaminya, “Dengar tuh“.

Selesai diskusi, beberapa hari kemudian, sang isteri kemudian mengirim hadiah kepada Imam Hanafi. “Terima kasih, engkau sudah menasehati suamiku“.

Imam kemudian mengembalikan hadiah itu, dan dia berkata “Saya berucap menyampaikan hal itu, bukan berbasa-basi kepada kamu. Tetapi saya menyampaikan, inilah pandangan saya tentang poligami yang saya pahami dari Al Quran“.

.

Dalil Berpoligami

Al-Quran surat Al-Nisa’ [4]: 3 menyatakan :

Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil (dalam hal-hal yang bersifat lahiriah jika mengawini lebih dari satu), maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Ayat itu turun karena ada orang-orang yang sedang memelihara anak-anak yatim yang kebetulan anak-anak yatim itu cantik, masih muda dan punya harta. Mereka ingin mengawini anak-anak yatim itu, atau juga ingin mendapatkan hartanya namun dengan tidak ingin membayar maharnya yang sesuai. Itu namanya mereka tidak berlaku adil.

Karena itu, Allah melarang para pengasuh anak yatim ini, “Kamu harus berlaku adil, kalaupun kamu ingin mengawininya lantas tidak berlaku adil, maka kawinilah perempuan yang lain, karena anak-anak yatim itu lemah.“

Ayahnya sudah meninggal sehingga tidak ada yg membela dia, tetapi kalau perempuan yang lain, mereka masih punya orang tua yang bisa membela dia dan sebagainya.

Atas dasar ayat ini, Nabi Saw. melarang menghimpun dalam saat yang sama lebih dari empat orang istri bagi seorang pria. Ketika turunnya ayat ini, beliau memerintahkan semua yang memiliki lebih dari empat orang istri, agar segera menceraikan istri-istrinya sehingga maksimal, setiap orang hanya memperistrikan empat orang wanita.

Imam Malik, An-Nasa’i, dan Ad-Daraquthni meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda kepada Sailan bin Umayyah, yang ketika itu memiliki sepuluh orang istri. Pilihlah dari mereka empat oranq (istri) dan ceraikan selebihnya.

Di sisi lain ayat ini pula yang menjadi dasar bolehnya poligami. Sayang ayat ini sering disalahpahami. Redaksi ayat ini mirip dengan ucapan seseorang yang melarang orang lain memakan makanan tertentu, dan untuk menguatkan larangan itu dikatakannya, “Jika Anda khawatir akan sakit bila makan makanan ini, maka habiskan saja makanan selainnya yang ada di hadapan Anda selama Anda tidak khawatir sakit“.

Tentu saja perintah menghabiskan makanan yang lain hanya sekadar untuk menekankan larangan memakan makanan tertentu itu.

Pertanyaan pertama yang kemudian muncul adalah : Kalau ayat ini turun berkaitan dengan pengasuh anak-anak yatim yang ingin mengawini mereka itu yang kemudian dilarang karena khawatir mereka tidak bisa berlaku adil tapi kemudian diperbolehkan untuk berpoligami dengan wanita lain, maka apakah izin poligami ini hanya berlaku pada pengasuh anak-anak yatim ?

Kalau jawabannya hanya berlaku pada pengasuh anak-anak yatim seperti ada yang berpendapat seperti ini, itu keliru, karena sahabat-sahabat Nabi pun yang tidak memelihara anak yatim ternyata berpoligami.

Pertanyaan kedua : Berapa banyakkah berpoligami itu, karena dikatakan “dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat” ? Berapakah jumlahnya ? Bolehkah 18 (dari 2+2+3+3+4+4) ?

Bukan itu maksudnya. Tidak boleh 18. Ataukah bolehkah 9 (dari 2+3+4=9) ? Tidak boleh 9. Nabi menjelaskan maksimal 4 orang isteri. Kita lihat lebih jauh di ayat itu, “Kalau kamu takut (khawatir) tidak berlaku adil“.

Kita kaji seperti berikut :

1. Kalau yakin tidak adil bolehkah ? Tidak boleh.

2. Kalau menduga keras tidak berlaku adil, bolehkah ? Tidak boleh.

3. Kalau ragu bisa berlaku adil atau tidak ? Ada ulama yang menjelaskan kalau dia ragu, itu boleh. Namun sebaiknya, orang yang ragu meninggalkan keraguannya menuju yang baik. Jadi kalau ragu, mestinya tidak boleh.

4. Kalau yakin bisa berlaku adil bolehkah ? Boleh.

5. Kemudian apakah boleh itu berarti perintah atau hanya sekedar boleh ? Itu boleh saja. Istilah dalam bahasa agama, itu mubah/boleh. Bukan sunnah, bukan wajib, bukan makruh tapi mubah/boleh.

6. Sekarang kalau menduga keras bisa berlaku adil ? Boleh, tapi syaratnya adil.

Apa yg dimaksud kemudian dengan adil ? Jadi sebelum berpoligami, harus melihat dulu diri kita. Kira-kira mampu berlaku adil atau tidak. Melihat diri itu, berarti mempelajari diri dari segi ekonomi dan dari segi jasmani pula. Jangan sampai Anda sakit2an mau berpoligami, bisa tidak adil. Lalu pelajari dari segi mental.

Ada orang kaya yang sehat jasmaninya tapi boleh jadi terlalu cenderung kepada isteri muda, walaupun uangnya banyak kecendrungan hatinya terlalu padanya maka ini namanya juga tidak berlaku adil. Kalau syarat-syarat ini memenuhi, maka ketika itu bolehlah berlaku adil dan dibolehkanlah poligami.

Selasa, 02 November 2010

PERKAWINAN TAK HARMONIS? MUNGKIN NEUROSIS


Kenapa perkawinan bisa gagal? Salah satu penyebabnya, mungkin suami atau istri terkena gangguan neurotik, sehingga tidak mampu lagi menoleransi kelemahan pasangannya. Biasanya penderita neurosis tidak mampu mengatasi ketegangan sarafnya karena mengalami ketidakdewasaan emosional.

Iwan mengeluh gampang marah dan gugup. Pria berusia 30-an tahun ini tidak bisa mengendalikan matanya yang terus berkedip. Ia pun sering mengerut-kerutkan otot wajahnya. ”Kedipan mata ini sangat mengganggu saya,” keluhnya ketika datang berkonsultasi ke psikiater kondang. ”Saat membaca, tenggorokan saya ikut terganggu dan otot-otot wajah saya ikut tegang. Akibatnya, saya sering uring-uringan dan apa saja yang dilakukan istri selalu salah.”

Apa yang dia alami sebenarnya reaksi ketegangan terus-menerus sepanjang kehidupan perkawinannya. Ternyata gara-garanya, setelah anak kedua mereka lahir, istrinya tidak bergairah lagi di ranjang. Kalaupun bersedia ”main”, dirasakannya cuma sekadar memenuhi kewajiban sebagai istri. Namun karena Iwan tidak mau berterus terang kepada istrinya, ketegangan yang dia rasakan mengakibatkan keluhan tadi. Lebih runyam lagi, belakangan ia pun mengeluh tidak lagi bergairah terhadap istrinya. Boro-boro berasyik-masyuk, soal sepele bisa jadi bahan pertengkaran hebat di antara mereka. Sungguh menyedihkan, romantika dalam kehidupan perkawinan mereka sudah tak bersisa.

Untuk mengatasinya, jelaslah peran sang istri sangat diperlukan. Beruntung ketika diberi tahu tahu akar masalahnya, sedikit demi sedikit sang istri berusaha memulihkan kehidupan seksualnya. Selang beberapa bulan, saat kehidupan seksual mereka membaik, bim salabim, gejala mata berkedip dan ketegangan otot pada wajah Iwan pun sirna!

Dalam kasus ini Iwan tidak menunjukkan kedewasaan emosional, sehingga tidak mampu menoleransi apa yang sedang dihadapi. Suami macam dia menjadikan diri sebagai martir: membiarkan diri menderita tanpa berusaha melakukan apa pun untuk memperbaiki situasi. Terang saja, semakin hari derita yang ia rasakan semakin menyesakkan.

Dalam situasi demikian ia mengalami fase pradepresi atau keletihan mental (nervous breakdown). Cetusannya bisa berupa pelbagai keluhan fisik seperti yang dialaminya.

Masih bagus Iwan mau datang ke psikiater. Banyak pria macam dia justru mencari pelarian pada wanita lain atau minum-minum. Tragisnya, istri yang merasakan perubahan sikap suami cuma bisa mengeluh, merasa sang suami tidak setia, tidak menghargai serta tidak mencintainya lagi. Namun akar masalahnya sering tidak diketahui. Padahal kalau saja sang suami mau berterus terang, mungkin persoalan lebih mudah teratasi.

Perkawinan tengah baya

Gangguan neurotik macam itu juga bisa terjadi pada pasangan tengah baya. Coba tengok yang terjadi pada Tugabus. Pria berusia 55 tahun ini mengeluh belakangan ini sering bertengkar dengan istrinya. Si istri mengeluh, suami tidak lagi mencintainya. Tubagus kini lebih banyak meluangkan waktu di klub malam, perhatian pada anak-anak menurun, dan jarang mengajaknya ke pesta-pesta seperti dulu.

Sebaliknya, Tubagus juga mengungkap alasan mengapa sikap terhadap istrinya berubah. Pasalnya, istri terus-menerus mengeluh kurang sehat, gencar mengritik serta menuduh bahwa ia tidak cinta lagi. Beberapa dokter yang didatangi bilang, istrinya mungkin sedang menghadapi masa pramenopause sehingga mengalami perubahan kepribadian.

Wanita tengah baya yang sedang menghadapi masa pramenopause memang acap kali mengalami kondisi, seperti ketidakstabilan emosi (mudah menangis atau marah), keletihan yang tidak semestinya, menilai apa saja serba salah dan tidak memuaskan. Ia menghadapi depresi. Sebagai reaksi, sering timbul perasaan mengasihani diri sendiri, kehilangan rasa percaya diri, frustrasi dalam soal hubungan seksual dengan pasangan, tapi merasa tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan perasaannya. Gejala neurotik tampak pada diri sang istri.

Suami yang tidak tahu akar permasalahannya, bisa memberikan reaksi senada. Mungkin ikut gampang marah, tindakan sehari-hari bertambah serius, dan ikut mengeluh kurang sehat. Tidak mampu menemukan sumber masalahnya, ia menjadi sering uring-uringan. Tidak heran kalau sering timbul pertengkaran.

Apa yang dialami pasangan tengah baya ini bisa juga dialami ribuan pasangan lain. Mereka saling menggelisahkan satu sama lain hingga akhirnya timbul ”letusan-letusan” yang tidak diharapkan. Yang dikhawatirkan, perkawinan menjadi sekadar hidup berdampingan, tidak lagi terasa keindahannya. Dengan situasi seperti ini, yang lebih lemah sistem sarafnya bakal lebih menderita. Kalau tidak segera ditemukan permasalahannya, hidup perkawinan yang demikian akan semakin hambar.

Resep kebahagiaan

Mungkin persoalan dalam perkawinan akan bisa diselesaikan kalau saja setiap pasangan mengetahui kiat-kiat yang bisa dilakukan. Beberapa petunjuk yang boleh diikuti:

  • Hindari percakapan yang bisa menimbulkan perdebatan. Bila kira-kira kita tidak mampu mengontrol perbedaan pendapat yang muncul, lebih baik tidak mendiskusikannya sama sekali. Apalagi, kalau hanya soal sepele. Kalau pun perlu dibicarakan, tunggu sampai kepala dingin atau berlatih berbicara tidak dengan nada tinggi.

  • Berusahalah mengerti segi-segi psikologis lawan jenis. Ada sifat tertentu dari pria maupun wanita yang dapat ditangani sejak awal. Misalnya, kaum pria umumnya merasa dirinya penting. Suka dipuji dan diberi semangat. Banyak wanita melakukan kesalahan menyepelekan suami, bukannya membiarkan mereka merasa paling penting dalam keluarga. Umumnya wanita tidak ingin mendominasi pria. Kebanyakan justru lebih suka memperlakukan suaminya sebagai pelindung.

  • Ada beberapa hal dalam diri wanita yang tidak diketahui pria. Umumnya mereka ingin diperlakukan sebagai kekasih dan sekali waktu ingin dipuji. Memberikan perlindungan tidak cukup hanya dalam hal materi. Istri juga ingin tetap dicintai dan dianggap ikut andil dalam kesuksesan suami.

  • Bila sampai terjadi ketidakcocokan dalam kehidupan seksual, harus dilakukan suatu tindakan. Pasangan yang tidak mau atau jarang melakukan kontak fisik biasanya sering mengalami cekcok. Tentu tidak mudah tinggal dengan istri yang frigid. Seorang suami yang terkena gangguan seksual pun mungkin akan menjadi rewel, selalu mengeluh bahwa kesehatannya kurang beres. Orang yang mulai terkena gangguan neurotik biasanya kurang toleran dan tidak melakukan usaha apa pun saat menghadapi masa frustrasi seksual. Padahal persoalan seperti itu tidak perlu terlalu dirisaukan. Banyak buku yang bisa dibaca untuk menanggulangi masalah itu, atau bisa berkonsultasi pada pakar yang dianggap bisa membantu.

  • Perkawinan merupakan kerja sama antara suami-istri, bukan bersaing untuk menunjukkan mana yang lebih unggul. Pribadi pasangan kita tidak bisa diubah sesuai dengan keinginan kita. Dalam kenyataan, masing-masing tetap merupakan individu unik yang memiliki pikiran bebas dan mempunyai hak atas dirinya.

  • Usahakan untuk sedikit mungkin mengutarakan keluhan. Rata-rata kita tidak suka pada orang yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain, terus-menerus mengeluh tidak sehat, beralih dari dokter satu ke dokter lain, atau selalu mengeluh soal pekerjaan di kantor atau kewajiban di rumah. Orang yang kondisi kejiwaannya sehat akan merencanakan segala sesuatu dengan diam-diam dan berusaha mengatasi sendiri hal-hal yang kurang berkenan. Lebih baik melakukan sesuatu daripada hanya mengeluh tanpa berbuat apa-apa.

  • Mencari sendiri cara terbaik untuk membina hubungan dengan pasangan maupun dengan orang di sekitar kita. Hendaknya tidak menggantungkan kebahagiaan diri pada orang lain. Berusahalah untuk mencari variasi hidup atau menggali minat yang menyenangkan agar hidup tidak membosankan dan perkawinan tetap harmonis. Misalnya dengan membaca buku, mendengarkan musik, mengembangkan hobi, masuk klub, atau mengikuti kursus yang bisa meningkatkan kemampuan.

  • Orang yang merasa tidak bahagia umumnya malas berinisiatif. Mereka lebih suka mencari-cari alasan ketidakbahagiaannya, misalnya dengan mengatakan ”Seandainya aku menikah dengan orang lain, tidak akan seperti ini nasibnya.”

  • Jangan berdalih. Banyak suami atau istri neurosis mudah sekali menyalahkan pasangan untuk ketidakbahagiaannya. ”Ini ‘kan gara-gara dia tidak mau berubah,” tudingnya. Padahal sebenarnya ia harus mengubah diri sendiri sebelum mengharapkan pasangannya berubah. Kalau ingin memperbaiki kehidupan perkawinan, patutlah bertanya pada diri sendiri apakah sudah melakukan yang terbaik agar perkawinan sukses.

  • Kalau langkah yang terbaik telah dilakukan tapi belum juga berhasil, cobalah mencari solusi lewat orang ketiga, misalnya psikolog atau penasihat perkawinan yang dinilai bisa ikut membantu. Banyak perceraian dapat dicegah asalkan masing-masing mampu menghadapi masalahnya secara realistis dan mau melakukan konsesi yang dirasakan perlu.

  • Di atas segalanya, yang paling penting adalah kemauan kedua belah pihak untuk menerima tanggung jawab masing-masing dalam menghadapi hubungan yang dirasakan mulai kurang serasi agar perkawinan tetap utuh. (Oleh: Dr. Frank S. Caprio, M.D./Sumber: Kompas Online)

Senin, 01 November 2010

bal Kadının Portreleri




Bu yazıda okudum hikaye, hayali gerçek değildir. Ancak bu hikaye (kurban) adı, yeri gerçek olayları bilerek samarkan sayısı / konumu hoparlörler korumak uğruna. Bu hikaye Umarım, biz bütün bir ders alabilir.

Söylentiler uzun kulağımda kulağa vardı. Mas Eki (ki öyle) başka bir kadınla tekrar evlendi yönünde söylentiler insanların sevgili kocam. Oysa daha önce, en ufak değil-değil ona karşı bana oluştu düşündüm. Mas Eki Ben şimdiye kadar herhangi bir biçimde beni incitmeye asla inanıyorum çünkü.



Mas Eki değişmeden inancı. kazara bir gün kadar, ben inanıyorum ki hepsi bu kadar değil de, ilk bakışta tanık oldu. bir rüya gibi, ben kendi gözlerimle Mas Eki başka bir kadın benim kasabasında tanınmış bir kolejde şefkatle tutuyordu ile tanık oldu. Ama onlara yaklaştı garip zaman, kocam sakin. Tam tersi tutum açıkça rahatsız görünüyor kadın tarafından görüldü.



Acı olay aniden beni duygusal yapmaz. hayal kırıklığı ve gönül yarası kadar kazık rağmen, sen sakin ve kocam ile konuşmak için doğru zamanı bakmak deneyin. ortasında kalp, ben tür kocam zina önlemek için arzu bırakarak ne olabileceğini sanırdım olmaya çalışıyorum. Olabilir.



Sonunda zamanı gelmişti. bu Ağustos 1982 yılında düştüğü zaman ben, bir kere hatırlıyorum. Yatsı namazından sonra, rahat oturuyordum kocam yaklaştı. kalp güçlendirilmesi, ben sessizce ve sakince sordum, ona öyle aniden gelmek mümkün değildir sorumu duymak şaşırmıştı bir an için "Babacığım, bu doğru babam tekrar? evli". bir an için bir sessizlikten sonra, kocam sessizce yanıtladı: "Evet, ben zaten başka kadınlarla Siri evlendi" diye crisply söyledi.



cevap uğruna çok sessiz çalışan Yüreğimi bir bıçak gibi dilimlenir. Nasıl yapamadım, benim için orada olmuştu kocam suçlu hissetmeden beni incitmek yüreğe sahip, sadık görünüyor? Ama ben onun önünde benim üzüntü ve acı göstermek asla. Ben yukarı sertleştirmek zorunda düşünüyorum. Bu kırık-boğuk kırık kalp hisseder dürüst olmak her ne kadar cesaret nedeniyle, ben, "sakin" uygulamaya çalışın. sinirlenmek yerine, yerine ben hemen kendi seçtiği çokeşlilik "cesaret" kutlamak için ona elimi itme. Daha sonra yaptığım her şeyin kendime işkence bir bahane olduğunu öğrendim.



bal için "Benim samimi" tat bir formu olarak, iki gün sonra, ben genç karısı ile bir görüşme ayarlamak için benim Mas Eki sordu. ağırlığında sonra bir toplantı üçümüz tutmak benim kasabasında küçük bir otel seçildi.



Açıkçası, ben çok kocam ikinci karısı görmek için "heyecanlı" değilim. o patlak rağmen, ben onu hala benim kocam dikkat gerekir ve üç çocuk benim varoluş anlamak içinde duygusu yaratmak istiyordu. Benim koca genç eşim kuralları takip etmek istediğim gibi kocam ikinci karısı tanıştığımda, sana sürece bal istekli olduğunu birkaç açısından neden diye soruyorsun,'s. Kısacası, toplantı bir sorun olmadan gitti. Ben bal olarak kabul eder ve o da başka ne benim kurallara uymak konusunda anlaştılar. Ama ertesi gün kocam genç eşi anlaşmaya itaatkâr değil başladı yaptı.



kocam tekrar evlendi, ben çocuklara daha fazla dikkat dökülüp ile benim sefalet unutmak ve bir özel lisede öğretmen olarak benim faaliyetleri konsantre çalıştı. Ben açıklık değerleri ile benim çocuklar yetiştirmek. Ailemizin isabet Herhangi bir küçük sorunları bildikleri için hakkı vardı. Hatta ekonomik koşullara rağmen kadar. Onların kocam olmuştur ve ben yapıyoruz hataları tekrarlamak istemiyorum umuyoruz.



Benim Faaliyet giderek ben İslami bir kadın örgütlerinin sosyal faaliyetlere daha fazla ciddiye girmeye karar verdik ve zaman zaman da siyasi partilerin faaliyetleri, kalabalık. 1994 yılında, ben bir olay sosyal bir kurum tarafından düzenlenmektedir İslam'da kadın haklarını güçlendirme başlıklı izledi. İronik olarak, ben de kadın hakları, acı olaylar reoccur teşvik faaliyetlere katılımı ile. Kocam üçüncü kez evlendim. Bu kalp ağrı hissediyor. bana bir şey yalnız denemeler izin verilsin mi?



bir kadın eylemci, ben gerçekten haksız davranış Mas Eki bana bir şey yapamam üzgünüm. Ben her zaman dua, Mas Eki ailemiz için bir koca ve iyi bir baba olarak geri bilinç bulabilirsiniz.



bir okul etkinliği de öğretmenlik bir gün Mas Eki Eve. Değil, her zamanki gibi 3 aylık bir kız bebek taşıyan o geldi sabah. Ben de bebek üçüncü karısı yaptığı evlilik sonucu olduğunu düşündüm. Ben basıldığında, ben haklı çıkıyor. Üçüncü karısı kocam resmen evlenmek istemiyordu çünkü kocam, boşanma ve çocuk istedi verdi. defalarca kez Eşim durumu anlamak ve o küçük bebeğin bakımı almaya karar verdi. Elhamdülillah, bebek artık büyümüş ve sıra bir ortaokul oturdu.



Ağustos 2002 gün çok eşim için çok zor olmasıdır. ikinci karısı olan kocamın evlilik çocuk, ben kelime Mas Eki vuruş var. çok düşünmeden, ben anında görmek ve kendi evimde onu eve götürmek çocuklarla değilim. İlk başta onun ikinci eşi evdeydi. dinlenme birkaç gün sonra Yüce Tanrı, yardımı sayesinde, kocam yavaş yavaş iyileşti ve hatta öğretim döndü.



Üzücü olay kocam devam eden çizgi oldu. Ocak 2004, onun ikinci eşi tarafından atıldı. Nedenle hasta daha sık evime Mas Eki zamanında ona göre hangi, o kadar nadir otomatik harçlık alır, makul değildir. giysi içeren iki çanta taşıma evime Mas Eki düz ev crackle. O ikinci eşi boşanma olduğunu bana söyledi.



Şimdi Mas Eki o başlangıç ve son sonuna kadar gelen, İnşallah tek eşidir. Benim için dünya bazen garip. Bir zamanlar, kocamın taze-fit, o 2 kere çok eşlilik yaparak beni incitmek kalp öyle oldu zaman. Hatta yalnız benim evde psikolojik ve ekonomik şiddet mağduru oldu. o bir vuruş geri çarptı Şimdi zaman, aslında sadık ve onu önemseyen kaldı tek kadın oldu. Ben zaten o bana zarar tıpkı "istifa" o benim kocam seviyorum çünkü bilmiyorum, değil mi? Kesinlikle değil, sadece benim kocam tarafından, ben haksızlık oldum, hissetmek başka bir ulus tarafından şimdiye kadar zarar hissetmişti

Potret Perempuan Di madu

Kisah yang anda baca pada tulisan ini adalah nyata, bukan fiktif. Namun, untuk kepentingan melindungi penutur kisah ini (korban) maka nama, tempat/lokasi kejadian yang sesungguhnya sengaja kami samarkan. Semoga dari kisah ini, kita semua dapat mengambil hikmahnya.

Rumor itu sudah lama terdengar di telingaku. Mas Eki (sebut saja demikian) suamiku tercinta digosipkan orang sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Padahal sebelumnya, tidak sedikit pun terlintas dalam diriku pikiran yang bukan–bukan terhadapnya. Aku mempercayai Mas Eki karena selama ini tidak pernah berusaha menyakitiku dalam bentuk apapun.



Kepercayaanku pada Mas Eki tidak berubah. Sampai suatu hari secara tidak sengaja, aku menyaksikan pemandangan yang pada awalnya, sama sekali tidak aku percayai. Seolah mimpi, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri Mas Eki bersama perempuan lain sedang bergandengan mesra di sebuah kampus ternama di kotaku. Namun anehnya saat aku hampiri mereka, suamiku tenang-tenang saja. Sikap berlawanan justru diperlihatkan oleh perempuan itu yang jelas sekali terlihat salah tingkah.



Kejadian menyakitkan itu tidak sekonyong–konyong membuatku emosional. Kendati rasa kecewa dan sakit hati menumpuk, aku coba menenangkan diri dan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan suamiku. Di tengah kegalauan hati, aku berusaha untuk berbaik sangka bahwa apa yang dilakukan suamiku mungkin saja berangkat dari keinginan untuk menghindar dari perbuatan zina. Bisa saja.



Akhirnya waktu itu pun datang juga. Aku ingat sekali, waktu itu jatuh pada bulan Agustus 1982. Setelah salat Isya, aku hampiri suamiku yang tengah duduk santai. Dengan menguatkan hati, aku bertanya kepadanya dengan suara pelan dan tenang, ”Ayah, apakah betul Ayah menikah lagi?” Sejenak dia terlihat kaget mendengar pertanyaanku yang mungkin bagi dia datang begitu tiba–tiba. Setelah diam selama beberapa saat, suamiku dengan pelan menjawab: ”Ya betul, aku memang telah menikah siri dengan perempuan lain,” ujarnya singkat.



Demi mendengar jawabannya yang sangat tenang itu, hatiku bagai diiris–iris pisau. Bagaimana tidak, suamiku yang selama ini tampak setia mendampingiku, tega menyakitiku tanpa merasa bersalah? Namun aku pantang memperlihatkan rasa sedih dan sakit hatiku di depannya. Aku rasa, aku harus tegar. Karena dorongan itu, aku mencoba berlaku ”tenang”, walau jujur saja hati ini terasa hancur remuk-redam. Alih–alih marah, aku malah langsung menyodorkan tanganku kepadanya untuk mengucapkan selamat atas ”keberanian” nya memilih poligami. Belakangan aku tahu, semua yang aku lakukan adalah sebuah kepura-puraan yang justru menyiksa diriku sendiri.



Sebagai bentuk rasa ”ikhlasku” untuk dimadu, dua hari kemudian, aku meminta Mas Eki mem pertemukan ku dengan istri mudanya. Setelah menimbang–nimbang, dipilihlah sebuah hotel kecil di kotaku guna mengadakan pertemuan kami bertiga.



Terus terang, aku sangat ”bersemangat” bertemu dengan istri kedua suamiku. Walau sudah terlanjur terjadi, aku ingin menciptakan pengertian di dalam diri perempuan itu agar mengerti keberadaanku dengan tiga orang anak yang masih membutuhkan perhatian suamiku. Itu sebabnya, saat aku bertemu dengan istri kedua suamiku itu, aku mengajukan beberapa syarat yaitu aku rela di madu asalkan istri muda suamiku mau mengikuti aturanku. Singkat kata, pertemuan itu berjalan tanpa masalah. Aku menerimanya sebagai madu ku dan sebaliknya dia juga sepakat menuruti segala aturanku. Namun hari-hari berikutnya istri muda suami ku mulai tidak manut dengan kesepakatan yang dibuat.



Semenjak suamiku menikah lagi, aku mencoba melupakan penderitaanku dengan lebih banyak menumpahkan perhatian kepada anak-anak dan berkonsentrasi kepada aktivitasku sebagai guru di sebuah SLTA swasta. Aku didik anak-anakku dengan nilai-nilai keterbukaan. Sekecil apapun permasalahan yang menimpa keluarga kami, mereka pun berhak tahu. Bahkan sampai kondisi ekonomi sekalipun. Aku berharap mereka kelak tidak mengulangi kesalahan yang telah aku dan suamiku lakukan.



Aktivitasku semakin padat, aku memutuskan untuk terlibat lebih serius dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di sebuah ormas perempuan Islam dan sesekali juga dalam kegiatan partai politik. Tahun 1994, aku mengikuti sebuah kegiatan bertajuk penguatan hak-hak perempuan dalam Islam yang diadakan oleh sebuah lembaga sosial. Ironisnya, bersamaan dengan terlibatnya aku dalam kegiatan yang memperjuangkan hak-hak perempuan, kejadian menyakitkan terulang kembali. Suamiku menikah untuk yang ketiga kalinya. Sakit sekali rasanya hati ini. Cobaan apalagi yang menimpaku?



Sebagai aktivis perempuan, aku sungguh menyesal tidak bisa berbuat apa–apa dengan perilaku tidak adil Mas Eki kepadaku itu. Aku selalu berdoa, semoga Mas Eki menemukan kesadarannya kembali sebagai seorang suami dan ayah yang baik bagi keluarga kami.



Pada suatu hari Mas Eki pulang dari kegiatan mengajarnya di sebuah sekolah. Tidak seperti biasanya, pagi sekali dia datang, sambil menggendong seorang bayi perempuan berumur 3 bulan. Akupun sudah beranggapan bahwa bayi itu adalah hasil pernikahannya dengan istri ketiga. Saat aku desak, ternyata dugaanku benar. Istri ketiga suamiku meminta cerai dan menyerahkan anak itu, karena suamiku tidak mau mengawininya secara resmi. Untuk kesekian kali aku memaklumi kondisi suamiku dan memutuskan merawat bayi kecil itu. Alhamdulillah, bayi itu sekarang sudah besar dan duduk di bangku sebuah sekolah menengah pertama.



Agustus 2002 adalah hari–hari yang sangat berat buat suamiku. Dari anak hasil pernikahan suamiku dengan istri keduanya, aku mendapat kabar Mas Eki terkena stroke. Tanpa banyak pikir, aku bersama anak-anak langsung menjenguk dan membawanya pulang ke rumahku sendiri. Semula ia di rumah istrinya yang kedua. Berkat pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, setelah beberapa hari istirahat, suamiku berangsur sembuh dan bahkan kembali bisa mengajar.



Kejadian menyedihkan terus beruntun menimpa suamiku. Januari 2004, dia diusir oleh istri keduanya. Alasannya sangat tidak masuk akal, yakni menurut dia pada saat sakit Mas Eki lebih sering berada di rumah ku, dan otomatis dia jadi jarang mendapat uang belanja. Mas Eki langsung pulang ke rumahku dengan membawa 2 tas kresek yang berisi pakaian. Dia menyatakan kepadaku bahwa dirinya telah menceraikan istri kedua itu.



Kini akulah satu-satunya istri Mas Eki yang dari awal dan bertahan hingga akhir, insya Allah. Bagiku dunia ini memang kadang aneh. Dulu, saat suamiku segar-bugar, dia begitu tega menyakitiku dengan melakukan poligami sampai 2 kali. Aku bahkan menjadi korban kekerasan psikologis dan ekonomi di rumah tanggaku sendiri. Kini saat dia kembali dilanda stroke, justru aku adalah perempuan satu–satunya yang tetap setia dan peduli terhadapnya. Aku tak tahu, apakah karena aku sudah terlanjur mencintai suamiku hingga aku ”pasrah” saja saat dia menyakitiku? Yang jelas aku merasa, bukan hanya oleh suamiku saja aku pernah dizalimi, namun oleh sesama kaumku pun aku pun pernah merasa tersakiti

Portraits of Women in honey

The story you read in this paper are real, not fictitious. However, for the sake of protecting the speakers of this story (the victim) the name, place / location of real events that we deliberately samarkan. Hopefully from this story, we can all take a lesson.

Rumors had long sounded in my ears. Mas Eki (say so) beloved husband of people rumored to have married again with another woman. Whereas before, not the slightest thought occurred to me that not-not against him. Mas Eki because I believe so far never tried to hurt me in any form.

Belief in Mas Eki unchanged. Until one day by accident, I witnessed at first sight, not at all I believe. As if a dream, I witnessed with my own eyes Mas Eki with another woman was holding tenderly in a renowned college in my town. But strangely when I approached them, my husband calm. Precisely the opposite attitude demonstrated by the woman who obviously looks uncomfortable.

Painful incident does not suddenly make me emotional. Despite the disappointment and heartache piling up, I try to calm down and look for the right time to talk with my husband. In the midst heart, I try to be kind would have thought that what my husband might be leaving from the desire to avoid fornication. Could be.

Finally the time had come. I remember once, when it fell in August 1982. After Isha prayers, I approached my husband who was sitting relaxed. By strengthening the heart, I asked him quietly and calmly, "Daddy, is it true my father married again?" For a moment he looked surprised to hear my question which is impossible for him to come so suddenly. After a silence for a moment, my husband quietly replied: "Yes, I was already married siri with other women," he said crisply.

For the sake of the answer is very quiet, my heart is sliced like a knife. How could I not, my husband who had been there for me seem loyal, have the heart to hurt me without feeling guilty? But I never show my sadness and pain in front of him. I think I have to toughen up. Because of that encouragement, I try to apply "calm", although to be honest this feels broken heart broken-muffled. Rather than get angry, instead I immediately thrust my hand to him to congratulate the "courage" of his choosing polygamy. I later learned, everything I do is a pretense which was torturing myself.

As a form of taste "ikhlasku" to dimadu, two days later, I asked my Mas Eki to arrange a meeting with his young wife. After weighing, chosen a small hotel in my town to hold a meeting the three of us.

Frankly, I'm very "excited" to see my husband's second wife. Although it break out, I wanted to create a sense within her to understand my existence with three children who still need my husband's attention. That's why, when I met my husband's second wife, I ask you a few terms that I was willing in honey as long as the young wife of my husband want to follow my rules. In short, the meeting went without a problem. I accept it as my honey and he also agreed otherwise obey what my rules. But the next day my husband young wife began not obedient to the agreement made.

Since my husband married again, I tried to forget my misery with spilling more attention to children and concentrate on aktivitasku as a teacher at a private high school. I educate my children with the values of openness. Any small problems that befall our family, they had the right to know. Even until the economic conditions though. I hope they will not repeat the mistakes that have been my husband and I are doing.

Aktivitasku increasingly crowded, I decided to engage more seriously in social activities in an Islamic women's organizations and occasionally also in the activities of political parties. In 1994, I followed an event titled strengthening women's rights in Islam which is held by a social institution. Ironically, I along with involvement in activities that promote women's rights, painful events reoccur. My husband got married for the third time. This heart feels pain. Let alone trials that happen to me?

As a woman activist, I'm really sorry can not do anything with unfair behavior Mas Eki me that. I always pray, may Mas Eki find consciousness back as a husband and good father for our family.

On a day Mas Eki home from teaching at a school activity. Not as usual, the morning he came, carrying a 3-month-old baby girl. I too have thought that the baby was the result of his marriage to third wife. When I pressed, it turns out I was right. The third wife gave my husband asked for a divorce and child, because my husband did not want to marry officially. For the umpteenth time I understand my husband's condition and decided to take care of that little baby. Alhamdulillah, the baby was now grown up and sat on the bench a junior high school.

August 2002 is the days are very hard for my husband. From the child of my husband's marriage with his second wife, I got word Mas Eki stroke. Without much thought, I'm with the kids instantly see and take it home to my own home. At first he was at home his second wife. Thanks to the help of God Almighty, after several days of rest, my husband gradually recovered and even returned to teaching.

Sad incident happened to my husband's continued streak. January 2004, he was expelled by his second wife. The reason is not reasonable, which according to him at the time of Mas Eki sick more often in my house, and he so rarely gets automatic spending money. Mas Eki straight home to my house carrying two bags containing clothes crackle. He stated to me that he was divorcing second wife.

Now I was the only wife of Mas Eki that from the start and last until the end, God willing. For me the world is sometimes strange. Once, when my husband's fresh-fit, he was so heart to hurt me by making polygamy to 2 times. I even become victims of psychological and economic violence in my household alone. Now when he was hit by a stroke back, actually I was the only woman who remained loyal and care about him. I do not know, is it because I already love my husband that I "resigned" just as he hurt me? I certainly feel, not only by my husband, I've been wronged, but by any other nation I had ever felt hurt

Kamis, 28 Oktober 2010

Harga Diri Diinjak-injak Istri


Yth Ibu Rieny
Saya seorang laki-laki (37) berasal dari keluarga yang disiplin, religius dan cukup terpandang di desa saya. Saya sarjana bekerja pada perusahaan BUMD di ibu kota propinsi (merantau), dengan gaji yang cukup untuk menghidupi saya beserta istri dan satu anak.
Istri saya (27) adalah hasil perjodohan oleh paman, dan berasal dari keluarga pas-pasan dengan pendidikan SLTA. Setelah berlangsung 7 tahun mengarungi biduk rumah tangga banyak riak dan gelombang yang saya hadapi.

Yang menjadi masalah adalah perbedaan cara pandang kami soal masa depan. Saya menganggap istri saya tak mau belajar dari kelemahan atau kejadian yang telah terjadi. Padahal, bukankah orang pintar mengatakan pengalaman adalah guru terbaik? Ia tidak mau menerima pandangan dari saya. Sebaliknya, istri saya sangat menghargai ucapan, atau nasihat itu dari ibu atau ayahnya. Lalu apa artinya saya sebagai suami?

Bukan sekali dua kali saya menasihati atau mengajari tapi istri memang wanita keras kepala. Ia juga menolak saran saya untuk mencari kerja agar bisa menabung untuk persiapan masa depan. Jika hal ini saya bicarakan dengan orangtuanya, mereka malah membela anaknya dan membanding-bandingkan dengan pasangan yang lain yang istrinya juga tak bekerja tetapi toh dapat tetap hidup sejahtera.

Komunikasi antara saya, istri dan mertua tidak terjalin dengan baik karena setiap ide saya tidak ditanggapi dengan baik. Dia beranggapan saya ingin mengatur.

Yang membuat saya lebih risau, perlakuan mertua dan istri terhadap saya ini berpengaruh kepada cara pandang tetangga dan kerabat menilai diri saya. Kini, saya makin jarang dimintai pendapat bila ada masalah atau akan ada acara di kampung. Padahal, dahulu saya adalah rujukan utama mereka. Ini, kan merusak harga diri saya, Bu.

Beberapa kali saya mengajukan usul untuk bercerai, kalau sudah demikian, sikap mertua dan istri akan membaik. Tetapi hanya untuk sementara waktu saja. Sesudahnya, ya kembali seperti semula. Umur saya sudah mendekati 40, istri pun sudah bukan anak-anak lagi, tetapi mengapa kok kami tak bisa berinteraksi secara dewasa? Harus menunggu sapai usia berapakah hingga kedewasaan itu datang?

Saya ingin cerai Bu, tetapi seringkali saya ragu karena ingat anak yang pasti akan menderita karena perpisahan kami. Akan tetapi, membayangkan saya harus hidup lebih lama dalam situasi begini, membuat saya benar-benar merasa drop! Kapan sebenarnya seseorang itu boleh, atau pantas, atau malah sudah seharusnya bercerai dan masyarakat tidak menghakimi ini sebagai kesalahan suami, Bu? Kok saya merasa lingkungan ini berpihak pada wanita ya Bu. Saran Ibu saya tunggu. Terima kasih.
Joko di X

Mas Joko yth,
Setiap hari yang berlalu akan otromatis membuat kita semakin tua.

Tetapi menjadi dewasa, sesungguhnya adalah sebuah pilihan. Bila bertambahnya usia tidak disertai kehendak dalam diri untuk menjadi semakin dewasa, maka makin tua tak akan otomatis membuat seseorang jadi dewasa. Buat saya, dewasa adalah sebuah proses, to become kalau bahasa kerennya, dan bukan sebuah keadaan (to be).

Karena menjadi dewasa adalah sebuah proses, maka butuh upaya berkelanjutan untuk memelihara agar tidak terhenti di sebuah tahapan saja. Dan semakin hari mestinya ditandai oleh makin ikhlasnya kita untuk menerima kenyataan bahwa hidup ini adalah rangkaian dari pembuatan keputusan-keputusan yang tersedia di hadapan kita. Selain itu kita juga seharusnya semakin menyadari dan akhirnya makin berani mengambil tanggung jawab penuh atas konsekuensi yang ditimbulkan oleh pilihan yang kita ambil.

Menyalahkan lingkungan, menganggap diri adalah korban dari keputusan yang diambilkan orang lain untuk kita, pada hemat saya menunjukkan bahwa kita masih perlu kerja keras untuk sampai pada tingkat kedewasaan yang memadai.

Dari surat Anda, saya berpendapat Anda gamang akan penghayatan peran Anda sebagai seorang suami, menantu, serta anggota masyarakat yang amat butuh penghargaan, tetapi tak kunjung memperolehnya. Akibatnya, perasaan positif terhadap diri lalu melemah dan Anda kemudian merasa 'power' sebagai individu juga ikut melorot.

Dua hal yang saya harap akan membantu Anda untuk segera mengatasi masalah ini adalah mengubah gaya komunikasi saat berinteraksi dengan istri dan keluarganya. Faktor kedua, mengubah pemahaman Anda tentang apa yang disebut harga diri dalam kaitannya dengan citra diri dan rasa percaya diri.

Harga diri tidak pernah bisa dicederai oleh orang lain tanpa izin Anda, Mas Joko. Artinya, harga diri hanya bisa turun kalau kita memang mengizinkan orang untuk meremehkan dan menghina kita. Bagaimana cara orang lain memperlakukan Anda akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana Anda memperlakukan orang-orang yang berinteraksi dengan Anda.

Kesalahan yang paling sering dilakukan oleh kita adalah berharap orang lain akan terlebih dahulu menghargai kita dan membuat kita merasa punya 'harga' yang tinggi. Kita lupa bahwa orang lain juga punya kebutuhan yang sama, kan? Maka, apa salahnya kalau dalam rangka menghargai diri dan menghormati diri sendiri, kita mendahului menampilkan sikap hormat pada lingkungan?

Pemahaman, kesediaan untuk selalu mencari sisi kelebihan orang lain, sembari menyadari bahwa tak ada orang yang memang tepat sama dengan kita cara berpikir dan memandang suatu masalah, pasti akan membawa Anda pada peluang lebih besar untuk merasa nyaman berada di lingkungan Anda. Ketika ini terjadi, maka Anda pun akan memancarkan energi-energi positip pada lingkungan. Ini ditandai oleh kalimat-kalimat yang tidak sinis atau mencela, kemampuan untuk mengucapkan maaf kalau memang Anda yang khilaf. Anda jadi lebih mahir bertoleransi pada orang lain, dan ketika Anda mampu membuat orang lain nyaman berada bersama-sama Anda, percaya deh Mas joko, wibawa Anda akan muncul.

Jembatan paling utama bagi semua ini memang adalah komunikasi, yaitu bagaimana kita mencerimati apa yang sampai ke telinga, mata dan indera kita yang lain dan kemudian menafsirkannya. Mendengarkan itu jauh lebih penting dari bicara. Karena kalau kita terbiasa mendengar dengan menyimak, kita akan makin tahu, apa sebenarnya yang orang lain harapkan dari kita.

Nah, cobalah ubah gaya Anda ketika menyampaikan gagasan. Hindari pemakaian bahasa tinggi-tinggi ketika mau berdiskusi tentang masa depan. Misalnya, tanyakan pada istri apa yang ia inginkan untuk dijadikan tujuan dari perkawinan ini, 10 atau 15 tahun mendatang.
Ajak istri dan mertua untuk merasa bahwa mereka dilibatkan dalam apa saja keputusan yang ingin Anda ambil dalam rumah tangga Anda. Dengan demikian Anda akan terasa makin demokratis di mata mereka. Bila ini dapat terjadi, saya yakin sikap penolakan ataupun negatifi dari istri dan mertua akan berangsur menghilang.

Jadikanlah bercerai sebagai pilihan terakhir, Mas. Mudah-mudahan dengan gaya interaksi yang lebih mampu mengakomodasi perbedaan antara Anda dan lingkungan istri, Anda akan segera merasakan bahwa bukan power yang merupakan kebutuhan utama Anda, melainkan rasa nyaman karena Anda merasa diterima sekaligus dihargai sebagai suami maupun menantu. Salam hangat.

Tersiksa Batin, Disia-siakan Suami


Foto: Ilustrasi

Satu kebohongan harus selalu ditutupi oleh kebohongan lain yang kelak akan memunculkan kebutuhan untuk tidak ingin terlalu dekat dengan pasangannya, agar kebohongan tidak terbongkar.

Ibu Rieny yang baik,

Saya Sulung (S) dari 3 bersaudara. Orangtua bercerai sejak masih kecil. Beserta adik-adik, kami ikut ibu yang membiayai hidup kami. Sekarang saya bekerja dan sebagian penghasilan dipakai membantu ibu dan adik-adik yang masih sekolah.

Saya baru menikah 6 bulan yang lalu dengan A, setelah berpacaran lebih dari 2 tahun. Walau keluarga kami tak setuju, kami tetap menikah. Seminggu nikah, ada W, wanita lain, datang marah-marah karena merasa dikecewakan oleh A.

Kami ribut, tapi cepat selesai. Masalah muncul lagi ketika Ayahnya memberi tahu ke Ibu saya bahwa A punya wanita lain yaitu R yang sering datang jika istrinya sedang tidak ada di rumah. Kami ribut lagi.

Saya tinggal berpisah dengan A, saya di kota J dan A di kota C. Seminggu sekali saya datang ke rumahnya, bukan dia yang datang untuk menjenguk saya. A berprinsip, seorang istri harus mengabdi ke suami.

Saya minta pendapat A untuk mengundurkan diri dari perusahaan agar fokus ke rumah tangga. Jawaban A menggantung status saya.

Selama menikah, setiap malam Sabtu, saya pulang ke A dan Senin pagi berangkat lagi. Pernah, saya pulang, dia malah ke luar kota bersama R. Ketika mengadu ke orangtuanya, Ayahnya berkata “Kalian bodoh. Percuma dilanjutkan juga, bakalan hancur. Memangnya kamu tahan dengan kebrengsekan A?”

Saya hanya diam. Bisa Ibu bayangkan, saya malah dipulangkan ke orangtua saya. Lalu, A tidak menghubungi kecuali jika ingin berhubungan intim. Seminggu setelahnya, A minta saya datang ke satu hotel, untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

A mentransfer Rp 100 ribu untuk ongkos dan check in di hotel, padahal sebelumnya tak pernah transfer. Demi keutuhan rumah tangga, saya pulang dari J ke C. Saya berpikir positif, Bu. Mungkin dia ada itikad baik untuk mempertahankan rumah tangga.

Ternyata pikiran saya salah, ya? Saya dilecehkan, Bu. Saya dipulangkan ketika tak dibutuhkan, diminta datang ketika ingin berhubungan intim, dan diperlakukan seperti pelacur.

Besoknya, saya bilang ke A untuk memproses perceraian di pengadilan agama, tapi ditolaknya. A lebih memilih lewat amil.

Sorenya, tanpa sepengetahuan A, R mengajak bertemu. R sempat hamil tapi diaborsi atas kemauan A, berdekatan dengan hari pernikahan saya. Saya dicerai di hadapan amil yang kemudian membawa buku nikah saya. Ini kesalahan saya, Bu. Saya langsung percaya, buku nikah dipegang orang yang diberi kuasa oleh A. Saya dipersulit mau mengambil buku nikah saya, Bu.

Pernah ia minta rujuk, tapi saat bertemu, kami rebut lagi. Malah dia mengatai-ngatai saya dan mengatakan, saya persis ibu saya yang menjanda seumur hidup.

Allahu Akbar , Bu, jika orangtua yang dicaci maki, saya tidak ridho. Apalagi dia bilang saya mengambil keuntungan dari dia. Untung darimana? Setelah menikah, saya yang menanggung hutang biaya nikah dan kebutuhan hidup.

Bu, Apakah saya harus memproses ke pengadilan agama, mengingat saya hanya sah cerai secara agama? Keluarga saya sakit hati oleh kelakuan A, apalagi A akan menikah dengan R dalam waktu dekat.

Saya masih di kota J sendirian, Bu. Setiap hari pikiran saya dikuasai oleh A, berat badan saya pun turun drastis. Saya berusaha menyibukkan diri, dengan membaca buku termasuk rubrik psikologi asuhan ibu, bergaul dengan tetangga.

Saya berusaha kuat untuk bisa ridho dengan keputusan Allah. Tapi, sulit sekali memaafkan dan melupakannya. Saya pernah berharap suatu saat nanti, ketika A “ditampar” oleh Allah, dia akan meminta maaf ke saya dan keluarga.

Bu, mudah-mudahan Ibu bisa membantu saya yang sedang sakit hati. Terimakasih.

Sulung di J

Jeng Sulung Yth,

Sebenarnya sangat mudah jika Anda mau menjahilinya. Dia tak bisa menikahi R tanpa izin Anda sebagai istri sahnya, kecuali kawinnya di bawah tangan. Jadi, bila R tak mau menjadi istri tak resmi, mestinya ia yang meminta A menceraikan Anda di Pengadilan Agama.

Tetapi, saya lebih menyarankan, Anda “ cool down” saja dulu. Bukan untuk kembali padanya, tetapi biarkan dulu waktu berlalu, dan emosi anda serta keluarga mereda dulu. Sibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, ya?

Menghadapi kasus yang Anda alami, saya selalu merasa tak nyaman dalam menawarkan solusi, karena ada konflik internal (dalam diri saya) antara nilai-nilai yang saya yakini tentang perkawinan dengan kenyataan yang ada dalam permasalahan yang dihadapi oleh Jeng S.

Saya percaya, perkawinan adalah sebuah ikatan emosional yang legal dan sah di mata ALLAH, yang makin lama makin terbukti merupakan pula sebuah wadah paling “sehat” bagi orang-orang yang terikat di dalamnya.

Sehat dalam arti mampu memberi peluang bagi suami dan istri untuk mengembangkan diri secara independen, tapi juga sekaligus memberi peluang kebersamaan yang kokoh yang senantiasa meberi kekuatan untuk mengatasi masalah, tidak sendirian, namun berdua.

Maka, inginnya sebisa mungkin mereka yang menikah itu tidak bercerai. Di sisi lain, memang ada kasus yang ditelaah dari sisi manapun, harapan untuk mempertahankan kelangsungan perkawinan sudah sangat tipis atau malah tak terlihat, seperti yang Anda alami.

Tentu saja, saya tidak memakai pendekatan seperti “ketik reg spasi...” yang bisa menerawang dari jauh. Tetapi, dengan 3 pertanyaan saja rasanya sudah cukup untuk itu.

Pertanyaan pertama, apakah Anda dan suami pernah duduk bersama membahas apa yang ingin dicapai bersama melalui perkawinan ini? Bahasa kerennya, apa visi yang ingin dicapai? Visi ini adalah sebuah cita-cita yang dijadikan satui tujuan untuk dicapai bersama.

Cinta? Sebenarnya cinta adalah faktor perekat yang pada awalnya berfungsi untuk mempercepat lekatnya dua orang yang pada dasarnya punya banyak perbedaan, sebanyak persamaan yang ada pada keduanya. Tetapi, cinta tak pernah cukup untuk bisa menjawab masalah perekawinan, Sayangku.

Setelah VISI, hal ke-2 yang harus ada adalah MISI, yakni cara yang disepakati akan membawa kita ke tujuan tadi. Bentuknya adalah batasan-batasan yang dibuat dan kemudian dihormati sehingga kita nyaman, dipahami, diperhatikan, demikian pula sebaliknya.

Supaya suami-istri bisa mengawal sikap dan perilakunya sesuai batasan yang dibuat, dibutuhkan komitmen sebagai landasan utamanya. Komitmen bukan sekedar janji, tetapi lebih merupakan kesediaan memikul konsekuensi daripada pilihan yang telah diambil

Anda pilih suami macam gitu, mestinya disertai kesediaan memikul tanggung jawab atas keputusan memilihnya. Jadi, bila ia sudah berkomitmen untuk memilih Anda sebagai istri, mestinya tak ada perempuan lain yang dia hamili, bukan?

Hal ke-3, adalah kejujuran dan keterbukaan yang akan melahirkan rasa hormat. Sayangnya, tanpa komitmen tak ada kebutuhan untuk memelihara kejujuran dan keterbukaan terhadap pasangannya. Respek tidak terbentuk, yang ada rasa takut saja, sehingga di belakangnya, apa-apa yang tak disukai pasangannya pasti akan didahulukan

Ayo kita lihat sejenak, saat menikah dengan Anda ternyata di hari yang sama pacarnya sedang aborsi. Mana mungkin ia akan jujur bercerita kepada Anda?

Dan telah kita ketahui, satu kebohongan harus selalu ditutupi oleh kebohongan lain yang kelak akan memunculkan kebutuhan untuk tidak ingin terlalu dekat dengan pasangannya, agar kebohongan tidak terbongkar. Tidak heran bila suami lalu tidak nyaman tinggal sekota dengan Anda, bukan?

Orang yang membaca kisah Anda mungkin akan bertanya setengah menyalahkan, kok, sudah tahu suami begitu, Jeng Sulung tetaaap saja mau berhubungan dengan suami?

Inilah masalahnya. Orang yang berniat positif, punya penghayatan peran sebagai suami atau istri yang juga berlandaskan nilai-nilai agama yang benar, tentu akan mencoba berlaku baik dan benar. Tapi, itulah rumitnya manusia, karena wadah yang namanya perkawinan ini pada hakekatnya harus dibina dua orang, tak akan berjalan bila hanya satu pihak saja yang berusaha.

Nah, di sinilah yang namanya penalaran harus segera kita jadikan hal utama dalam melihat seluruh permasalahan dan menekan emosi, apalagi rasa cinta (jika masih ada).

Harus dan harus Jeng Sulung akui, bila terus menjadikan emosi Anda sebagai panglima, maka suami akan mampu terus mengaduk kehidupan dan ketenangan batin. Jelas, sebagai laki-laki, dia punya citra diri yang buruk. Ciri utamanya adalah dia sendiri yakin, dirinya tidak punya kelebihan-kelebihan sehingga dia perlu melakukan hal-hal buruk agar tetap nyaman dengan dirinya.

Kok bisa? Ya, memang demikian adanya. Bila seseorang punya gambaran diri yang buruk, dia secara tidak sadar akan melakukan hal-hal buruk, agar lingkungan punya anggapan yang sama dengannya bahwa dia tidaklah pantas dihormati dan dihargai. Kemasannya yang lalu terlihat, bagaikan orang yang bertindak ngawur dan tidak berfikir panjang.

Perlu kesabaran dan kesediaan untuk membimbing pasangan seperti ini dan ingin kita bantu untuk berubah. Nah, ini yang pada hemat saya, tidak perlu Anda usahakan lagi, Jeng. Makin cepat Anda bisa memutuskan hubungan secara emosional, makin baik. Bila hati sudah bisa tertata rapih untuk tidak memberi celah lagi bagi bercokolnya suami di benak Anda, pasti lebih tenang dan dapat menyusun langkah yang lebih matang untuk kelak lepas dari ikatan perkawinan ini.

http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Pasangan/Tersiksa-Batin-Disia-siakan-Suami

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...