Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 November 2010

Indahnya Beristrikan Seorang Sholihah

Hari itu merupakan hari bahagiaku, alhamdulillah. Aku telah menyempurnakan separo dienku: menikah. Aku benar-benar bahagia sehingga tak lupa setiap sepertiga malam terakhir aku mengucap puji syukur kepada-Nya.

Hari demi hari pun aku lalui dengan kebahagiaan bersama istri tercintaku. Aku tidak menyangka, begitu sayangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku dengan memberikan seorang pendamping yang setiap waktu selalu mengingatkanku ketika aku lalai kepada-Nya. Wajahnya yang tertutup cadar, menambah hatiku tenang.

Yang lebih bersyukur lagi, hatiku terasa tenteram ketika harus meninggalkan istri untuk bekerja. Saat pergi dan pulang kerja, senyuman indahnya selalu menyambutku sebelum aku berucap salam. Bahkan, sampai saat ini aku belum bisa mendahului ucapan salamnya karena selalu terdahului olehnya. Subhanallah.

Wida, begitulah nama istri shalihahku. Usianya lebih tua dua tahun dari aku. Sekalipun usianya lebih tua, dia belum pernah berkata lebih keras daripada perkataanku. Setiap yang aku perintahkan, selalu dituruti dengan senyuman indahnya.

Sempat aku mencobanya memerintah berbohong dengan mengatakan kalau nanti ada yang mencariku, katakanlah aku tidak ada. Mendengar itu, istriku langsung menangis dan memelukku seraya berujar, “Apakah Aa’ (Kakanda) tega membiarkan aku berada di neraka karena perbuatan ini?”

Aku pun tersenyum, lalu kukatakan bahwa itu hanya ingin mencoba keimanannya. Mendengar itu, langsung saja aku mendapat cubitan kecil darinya dan kami pun tertawa.

Sungguh, ini adalah kebahagiaan yang teramat sangat sehingga jika aku harus menggambarkanya, aku tak akan bisa. Dan sangat benar apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dunia hanyalah kesenangan sementara dan tidak ada kesenangan dunia yang lebih baik daripada istri shalihah.” (Riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Hari terus berganti dan tak terasa usia pernikahanku sudah lima bulan. Masya Allah.

Suatu malam istriku menangis tersedu-sedu, sehingga membangunkanku yang tengah tertidur. Merasa heran, aku pun bertanya kenapa dia menangis malam-malam begini.

Istriku hanya diam tertunduk dan masih dalam isakan tangisnya. Aku peluk erat dan aku belai rambutnya yang hitam pekat. Aku coba bertanya sekali lagi, apa penyebabnya? Setahuku, istriku cuma menangis ketika dalam keadaan shalat malam, tidak seperti malam itu.

Akhirnya, dengan berat hati istriku menceritakan penyebabnya. Astaghfirullah…alhamdulillah, aku terperanjat dan juga bahagia mendengar alasannya menangis. Istriku bilang, dia sedang hamil tiga bulan dan malam itu lagi mengidam. Dia ingin makan mie ayam kesukaanya tapi takut aku marah jika permohonannya itu diutarakan. Terlebih malam-malam begini, dia tidak mau merepotkanku.

Demi istri tersayang, malam itu aku bergegas meluncur mencari mie ayam kesukaannya. Alhamdulillah, walau memerlukan waktu yang lama dan harus mengiba kepada tukang mie (karena sudah tutup), akhirnya aku pun mendapatkannya.

Awalnya, tukang mie enggan memenuhi permintaanku. Namun setelah aku ceritakan apa yang terjadi, tukang mie itu pun tersenyum dan langsung menuju dapurnya. Tak lama kemudian memberikan bingkisan kecil berisi mie ayam permintaan istriku.

Ketika aku hendak membayar, dengan santun tukang mie tersebut berujar, “Nak, simpanlah uang itu buat anakmu kelak karena malam ini bapak merasa bahagia bisa menolong kamu. Sungguh pembalasan Allah lebih aku utamakan.”

Aku terenyuh. Begitu ikhlasnya si penjual mie itu. Setelah mengucapkan syukur dan tak lupa berterima kasih, aku pamit. Aku lihat senyumannya mengantar kepergianku.

“Alhamdulillah,” kata istriku ketika aku ceritakan begitu baiknya tukang mie itu. “Allah begitu sayang kepada kita dan ini harus kita syukuri, sungguh Allah akan menggantinya dengan pahala berlipat apa yang kita dan bapak itu lakukan malam ini,” katanya. Aku pun mengaminkannya.

Sandal Jepit Isteriku

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

"Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

"Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

"Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!" Jawabku masih dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

*******

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

"Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?"

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah…wanita gampang sekali untuk menangis," batinku. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…" Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

********

Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?" pinta isteriku. "Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku.
"Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.
"Lho, kok bilang gitu…?" selaku.
"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi.

"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

*******

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

"Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.

"Krek…," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidah (*) ku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya."

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

"Maryam…!" panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

"Abi…!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
"Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

******

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu…," ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

Minggu, 07 November 2010

Cacatnya Wanita Penghuni Dua Surga



Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.

Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.


"Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?" Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.
"Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz."
"Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah."
"Amin, syukran doanya Ustadz."
"Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?"
"Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah."
"Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu."
"Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih," balas Fuad penuh senyum.

"Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun."
"Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar," jawab Fuad tak mau kalah.
"Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat."
"Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja."

"Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut."
"Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?"
"Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga."
"Apa saya mengenalnya Ustadz?"
"Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya."
"Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?"
"Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?"
"Belum Ustadz."
"Berarti pas sekali," tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.
"Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz."
"Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain."
"Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin."
"Amin."



"Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi."
"Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik."
"Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat."

Fuad sangat terkejut.
"Cacat maksud Ustadz bagaimana?"
"Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"
Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.

"Insya Allah, saya siap Ustadz," jawabnya dengan mantap.
"Ini keputusanmu?"
"Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya."

"Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?"
"Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah."

"Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut."
"Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat."

"Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?"
"Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang."

"O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?"
"Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama."
"Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin," ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.


Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.

"Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang."
"Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan."

"Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat."

"Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya."

"Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi."

Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat.

Jumat, 05 November 2010

ORANG TUAKU TERLILIT HUTANG RENTENIR

“Ya Rabbi, hamba berlindung kepada-Mu dari belitan hutang dan dari cengkeraman kekuasaan orang lain.” Doa ini selalu kupanjatkan dalam setiap munajatku. Terlebih jika mengingat kisah sedih masa lalu keluargaku.

Cerita dimulai ketika aku akan memasuki bangku Sekolah Menengah Atas. Karena bercita-cita menjadi seorang Arsitek, aku bersikukuh untuk masuk ke STM jurusan Sipil Bangunan. Sekolah ini hanya ada di kota Propinsi, sedangkan kami tinggal di desa yang letaknya jauh dari kota kabupaten.

Ayahku karyawan swasta biasa yang penghasilanya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ibu membantu ayah dengan berjualan di rumah, membuka warung kecil saja. Aku adalah anak kedua dari ibuku dan anak pertama dari ayah, karena sewaktu menikah dengan Ayah status Ibu adalah janda. Aku memiliki tiga orang adik, jadi kami semuanya berlima menjadi tanggungan ayah. Kakakku umurnya 2 tahun di atasku, dia sudah sekolah di SMKK terkenal di kota Propinsi. Hal inilah yang memicu kecemburuanku ingin juga bersekolah seperti kakak di kota. Saat kuutarakan kemauanku untuk sekolah di STM, kedua orang tuaku tidak setuju. Alasannya adalah biaya.

Mendengar penolakan ayah, aku menangis lalu mengambek ke rumah nenek. Kuceritakan semua tentang penolakan ayah, kecemburuanku pada kakak, juga alasanku mengapa ingin bersekolah di sana. Selain karena cita-citaku, aku juga merasa akan mampu bersekolah di STM itu. Sejak SD dan SMP, prestasiku tidak pernah mengecewakan bahkan NEM-ku adalah yang tertinggi di sekolah dan rangking 3 se-kabupaten. Nenek menghiburku dan berjanji akan bicara pada Ayah.

Esok harinya ayah menjemputku dan berkata, “Besok kamu siapkan persyaratan untuk masuk STM.” Seketika aku berteriak kegirangan dan pulang ke rumah. Kutinggal ayah yang masih di rumah nenek yang jaraknya tak seberapa jauh dari rumah kami. Besoknya, ayah menepati janji, mengantarku ke STM di kota propinsi.

Melalui serangkaian pengisian formulir dan tes yang panjang, aku akhirnya diterima menjadi salah satu murid di STM itu. Kegairahanku akan sekolah itu membuatku tak begitu memedulikan wajah ayah yang selalu murung sejak awal, meski coba disembunyikan. Kupikir ini tak ada hubungannya degan uang karena setiap hendak membayar, kulihat ayah memilikinya.

Meski sudah mendapat tempat kos, tapi karena masuknya masih dua minggu lagi, kuputuskan untuk tinggal di rumah saja. Hingga suatu sore, tanpa sengaja aku mendapati pertengkaran kedua orang tuaku. “Besok orangnya datang dan harus dibayar. Kalau tidak tanah kita akan mereka ambil.” Itu adalah sepenggal kalimat ibu yang aku tangkap. Setahuku ibu memang memiliki sebidang tanah sawah yang disewakan. Namun aku tak paham, siapa yang hendak mengambil tanah kami itu dan mengapa. Kuberanikan diri untuk muncul, berharap sanggup menjadi penengah mereka. Keterkejutan akan kehadiranku membuat keduanya terdiam. Bahkan saat kutanya ada apa, tak ada jawaban memuaskan yang kudapatkan, hanya air mata ibu yang berlinangan.

Besoknya datang dua orang tamu. Seorang wanita keturunan yang katanya dari kota, dengan wajah menahan amarah dan seorang laki-laki berambut cepak seperti tentara. Aku berusaha menguping pembicaraan mereka.

“Gimana, sudah ada belum hari ini uang dan bunganya? Kalau tidak tanah jaminannya akan saya ambil.” Si wanita berkata dengan kerasnya. Ibu dan ayah terperanjat, begitu juga aku dari balik kelambu. Kata-kata ayah bergetar menahan amarah saat meminta perpanjangan waktu pembayaran. Sementara ibu hanya mampu mengeluarkan air mata. Namun itu semua tak mengurungkan niat si wanita untuk menyita tanah kami dengan meninggalkan sisa bunga yang harus kami bayar.

Baru kutahu kemudian, bahwa orang tuaku selama ini terlilit hutang rentenir dengan bunga yang sangat tinggi. Hanya dengan meminjam dua juta untuk menyekolahkan kakak, uang yang harus dibayar melonjak hingga lima belas juta. Jumlah uang yang sangat banyak bagi kami yang hanya orang desa.

Semalam aku menangis. Aku merasa bersalah kepada kedua orang tuaku, kenapa memaksa masuk STM yang berbiaya mahal sementara mereka masih terlilit hutang bahkan harus merelakan tanahnya disita. Aku akhirnya mengambil keputuan. Daripada nantinya putus tengah jalan karena ketiadaan biaya, lebih baik kuurungkan saja niatku sekolah di STM dan memilih di SMAN dekat rumah. Meski, kekhawatiran akan telah tutupnya semua pendaftaran sekolah menderaku.

Ketika keesokan harinya kuutarakan niat itu, ayah berterimakasih atas pengertianku lalu mengusahakan agar aku dapat diterima di SMA. Tidak mudah mendapatkan sekolah saat pendaftaran sudah tutup semua. Namun demi melihat nilaiku yang bagus, sebuah SMA yang berjarak sekitar dua puluh kilometer dari rumah kami mau menerima. Aku merasa beruntung sekali.

Sejak saat itu aku berfikir untuk membantu kedua orang tuaku. Tanpa sepengetahuan mereka sepulang sekolah aku menjadi kondektur angkutan umum. Hasilnya lumayan, aku tidak pernah meminta uang jajan bahkan kadang memberi adik-adikku uang. Ibu pernah menanyakan darimana aku dapat uang dan kenapa tak pernah meminta. Kujawab aku diberi nenek. Namun pekerjaan yang kusembunyikan dari ayah ibu itu suatu ketika terbongkar juga. Seorang tetangga bercerita yang membuat ayah murka. “Kamu mau sekolah apa mau jadi kondetur?” tanyanya. Dengan sabar aku menjelaskan, meski menjadi kondektur aku tak melupakan tugas utamaku bersekolah. Ayah mengerti dan mau menerima.

Berkat kemurahan Yang Maha Pengasih semua utang orangtua ku bisa terbayar dan aku bisa melanjutkan kuliah. Sebenarnya lewat PBUD (Penjaringan Bibit Unggul Daerah) aku diterima di tiga universitas negeri terkenal: UGM, UNDIP, dan UNHAS. Tapi karena sadar akan keadaan ekonomi keluarga aku lebih memilih UMPTN di daerahku. Entah mengapa cita-citaku yang dulu jadi arsitek sirna. Dibanding fakultas teknik, aku justru memilih Fakultas Pertanian. Alhamdulillah aku lulus UMPTN tahun 1995 jurusan Teknologi Pertanian Program Study Pengolahan Pangan Universitas Mataram, NTB. Dalam hati aku berkata, dulu inginnya jurusan teknik arsitek sekarang justru kuliah di jurusan technology pertanian. Tapi tidak apa-apa lah, siapa tahu mampu memperbaiki keadaan di desaku. Hasil produksi pertanian meski melimpah banyak yang rusak karena ketiadaan teknologi penunjang.

Empat tahun aku duduk di bangku kuliah, Alhamdulillah lancar, baik urusan biaya maupun urusan akademik. Disamping jadi Asisten Laboratorium aku juga mendapat beasiswa PA (peningkatan akademik) yang jumlahnya cukup besar. Duitnya bisa aku tabung, bayar kuliah, dan membantu orang tua. Yang paling membanggakan, diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua aku kuliah di universitas swasta fakultas ekonomi kelas malam. Kuliah itu aku selesaikan dalam waktu tiga setengah tahun. Orang tuaku jelas terkejut saat Universitas mengudang acara wisuda di kampus swastaku. Mereka bingung, aku sebenarnya kuliah dimana. Baru setelah kujelaskan, kebanggan itu jelas terbayang di wajah keduanya.

Setelah semua kuliahku selesai, aku masih tetap menjadi asisten dosen dan asisten laboratorium di kampusku sampai akhirnya diterima kerja di sebuah Bank BUMN di kotaku. Pada saat itu banyak sekali kesempatanku karena aku diterima di banyak tempat. Namun aku menuruti saran orang tua yang memilih menjadi pegawai bank saja. selain karena tempatnya dekat di kota kabupaten sehingga tak perlu kos.

Satu tahun jadi pegawai bank sangat membosankan, karena pekerjaannya yang terasa monoton. Tanpa sepengetahuan orang tuaku, aku mendaftar lowongan beasiswa dari ADS, dan diterima. Orang tuaku dan nenek sangat sedih ketika aku memilih sekolah ke Australia dengan melepaskan pekerjaan yang aku punya. Alasannya bahkan tidak rasional. Nenek tidak mau kalau kuliah ke luar negeri pulangnya aku membawa istri bule. Beliau tak ingin mempunyai cucu kafir (pikiran orang desa semua bule adalah kafir).

Akhirnya aku mengambil jalan tengah dan meminta ijin kuliah di Yogya. Mereka setuju, dan aku mendaftar di MEP (Megister Ekonomika Pembangunan), UGM. Selesai dari UGM tahun 2004, aku mendapat pekerjaan di Jakarta. Orang tuaku tidak setuju. Aku disuruh pulang membangun daerah, tapi aku bilang hanya ingin mencoba untuk beberapa lama saja.

Tak disangka jodohku datang pada tahun yang sama aku mulai kerja. Istri tersayangku hanya aku kenal satu bulan di Yogya. Dia juga baru wisuda S1 kedokteran. Kami nekat menikah padahal aku baru saja mulai kerja dengan gaji yang tidak begitu banyak untuk ukuran hidup di Jakarta. Terlebih istriku harus melanjutkan kepanitraannya selama 2 tahun lagi, dan sebagai suami aku yang menanggung semua.

Sebentar lagi istriku akan selesai dari ko-Assnya. Bulan ini adalah bulan-bulan terakhir. Karena dapur kami dua, Jakarta dan Yogya otomatis kebutuhan sangatlah banyak, sehingga sampailah aku pada masa sulit keuangaan. Terlebih setelah buah hati kami lahir.

Disaat kesulitan seperti ini aku selalu ingat pada kisah orang tuaku dulu. Aku tak akan pernah mau berhutang walapun sesulit apapun.

Namun tadi pagi pikiranku benar-benar buntu. Semua gaji sudah kuserahkan pada istri sementara ada kebutuhanku yang harus terpenuhi. Tak mau memberatkan orang tua dan teman-teman, aku hanya mampu berdoa, “Ya Rabbi, hamba berlindung kepada-Mu dari belitan hutang dan dari cengkraman kekuasaan orang lain. Dan hamba memohon diberikan kemudahan setelah kesulitan ini.”

Disaat kebingungan, sahabatku tiba-tiba menawarkan, “Pak Taufik aku ada duit lebih. Boleh titip?” Antara senang dan haru saya jawab boleh banget, karena kebetulan sedang butuh.

Dalam hati aku berbisik syukur, “Ya Rabb. Belum kering lidahku memohon pada-Mu, Engkau kirim malaikat-Mu. Maha Suci Engkau ya Rabbi.”



Selasa, 02 November 2010

Lelaki itu.........

"Dua puluh tujuh sama!" kata wasit setelah melihat hakim garis memberikan tanda masuk. Gemuruh suara pendukung calon pemenang membahana, sedangkan pendukung lawan senyap seketika. Pertandingan bulu tangkis tunggal putra antar divisi di perusahaan kami dalam rangka memperingati hari kemerdekaan sudah memasuki babak semifinal. Kebetulan divisi kami termasuk salah satu semifinalis yang sekarang sedang berjuang.

Ada yang menarik perhatianku. Sosok seorang laki-laki yang sedang bertanding dari kubu lawan. Dengan postur tubuh yang tidak begitu tinggi, kulit agak kehitaman, dan betis yang besar mengingatkanku pada seseorang. Dia lebih menarik perhatianku daripada score yang terus bertambah untuk divisiku.

Sebut saja namanya Ian. Dia adalah kakak kelasku semasa SMU. Seorang olahragawan juga, hanya saja olahraga yang digelutinya adalah basket. Dengan baju kebesarannya: kaos tanpa lengan, celana pendek, dan jaket kulit dengan tulisan “Chicago Bulls” di punggungnya, membuatku ingin sedikit mengenangnya.

Di tengah gemuruh suara pendukung bulu tangkis dengan selisih score yang tipis antara dua peserta semifinalis, tidak menghapus anganku untuk kembali ke masa lalu. Masa yang indah, sendainya aku bisa kembali, tetapi itu tidak mungkin karena masa lalu adalah sesuatu yang paling jauh.

Tiga belas tahun yang lalu, aku masuk SMU. Sengaja aku memilih sekolah kejuruan yang sekarang lebih dikenal dengan nama SMK dengan alasan ingin cepat bekerja. Syukur alhamdulillah, aku diterima setelah mengikuti sederetan tes. Disana lah aku bertemu dengan Ian.

Semasa SMK, Ian adalah laki-laki yang penuh prestasi. Disamping pandai, jago main basket, aktif di OSIS juga masih banyak sederet prestasi lain yang mengagumkan. Beruntung aku dapat mengenalnya. Dengan perbandingan jumlah perempuan dan laki-laki 1:3 dalam satu angkatan, aku bisa cukup dekat dengannya. Ian adalah kakak kelasku. Kebetulan aku memilih ekstra kurikuler yang sama dengannya. Dia menjadi pelatih kami. Aku lumayan sering berdiskusi dengannya, mungkin karena aku adalah ketua team basket yunior perempuan. Yang sangat menarik, walaupun dia penuh prestasi tetapi dia tetap rendah hati dan tidak jaim. Ian adalah sosok kakak yang baik, agak jahil dan suka menggoda tetapi masih dalam taraf sopan.

Selepas SMK, di sekolah kami ada program magang. Ian diterima magang di salah satu perusahaan telekomunikasi di ibukota. Setelah delapan bulan magang, dia diangkat sebagai pegawai tetap oleh perusahaan tersebut. Sedangkan aku selepas SMK, magang enam bulan di perusahaan telekomunikasi di Surabaya setelah itu bekerja sebagai tenaga kontrak di tampat yang sama hanya beda divisi.

Karier yang melejit menempel di diri Ian karena kecerdasan, kepandaian dan keberuntungannya. Info tentang kakak kelas, teman sealumni masih lancar. Ada cerita apa saja, aku masih mendengar walaupun hanya sambil lalu. Menikah di usia muda menjadi sesuatu yang sangat wajar di alumni sekolah kami karena mungkin faktor ekonomi yang mendukung.

Sempat terfikir dalam hati. Seandainya boleh memilih aku mau menikah dengan Ian. Tetapi takdir berkata lain. Dari milist SMK yang aku ikuti, Ian mengundang kami semua di acara pernikahannya. Surprise? Sakit hati? Itu pasti, tetapi dengan berjalannya waktu aku ikhlas menghadapinya. Sengaja aku tidak datang di acara pernikahannya.

Dari cerita sambil lalu yang aku dengar, Ian menikah dengan teman sekantornya karena dijebak oleh si perempuan. Karier bagus Ian sebagai taruhannya. Kecewa sekali aku mendengarnya. Laki-laki sebaik dia harus mendapat jodoh dengan cara seperti itu.

Cerita sambil lalu tentang Ian menghampiri telingaku lagi. Istrinya tidak boleh bekerja. Untuk kedua kalinya aku kaget mendengar berita tentang dia. Seperti tidak percaya dan aku serasa tidak mengenal sosok Ian yang sekarang. Beda sekali dengan Ian yang dulu kukenal. Yang selalu punya ambisi dan cita-cita tinggi tetapi tetap rendah hati. Cerita yang aku dengar lagi, dia tidak melanjutkan kuliah. Mungkin karena kariernya sudah mapan sehingga tidak memikirkan hal itu lagi. Berbeda dengan aku dan teman-teman yang senasib, yang masih menjadi pegawai kontrak dan harus memperbaiki nasib dengan meneruskan sekolah yang lebih tinggi.

Kuliahku sudah selesai tiga tahun yang silam. Pekerjaan yang lebih baik belum aku dapatkan. Aku hanya bisa berusaha dan berdo'a, ikhlas dan bersabar dengan takdir yang menghampiriku hingga saat ini. Aku belum menikah tetapi aku sangat bersyukur karena masih bisa menjalankan hari-hariku dengan baik.

Semalam, sahabatku, teman SMP-ku dulu main ke rumah. Ternyata dia sekantor dengan Ian. Dari dia aku mendengar berita bahwa Ian menikah lagi. Aku menjadi semakin tidak mengerti dengan jalan fikirannya, walaupun hal itu diperbolehkan oleh agama tetapi miris yang aku rasakan. Bersyukur sekali do'aku beberapa tahun yang lalu ditolak oleh Allah.

"Boleh jadi kamu membenci sesama, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak." (QS. 2:216).

Teringat dengan salah satu firman Allah, aku langsung mengambil air wudlu dan bertaubat memohon ampun kepada-Nya

Minggu, 31 Oktober 2010

Hukuman yang nikmat


Kemarin kawan saya yang bekerja di kilang milik salah satu BUMN sempat berkisah, “Mas Lamb, dulu pernah ada manajer di kantor pusat Jakarta yang sempat salah jalan. Dia itu orangnya pandai dan kinerjanya bagus. Sayangnya dia lalu korupsi. Sayangnya lagi, korupsinya terlacak dan dia harus menjalani proses klarifikasi internal.”

“Oh, sayang ya, padahal dengan bekerja normal saja, sukses sudah di depan mata”, sahut saya.

“Mau tahu mas, apa hukuman yang dia terima?”, lanjut kawan tadi.

“Oiya, dia pasti dipecat dan akhirnya dihukum berapa tahun?”

“Salah mas. Dia ngga dipecat, tapi ditempatkan di ruangan tersendiri, harus hadir setiap hari, non-job, tetapi gaji jalan terus”, jawab dia.

“Wah asik dong, bisa ngeblog, fesbukan atau browsing seharian.”

“Bener mas, tapi dia orangnya gaptek, jadi dia merasa tersiksa dan akhirnya mengajukan pensiun dini.”

“Sayang ya. Coba kalau saya yang dapat hukuman seperti itu, pasti saya seneng banget. Hobi tersalurkan dan dapat gaji lagi. Itu hukuman yang nikmat banget buat saya”, jawab saya.

Setelah diskusi itu saya sempat merenung sejenak sambil berandai-andai. Oh, alangkah indahnya hidup ini seandainya Tuhan hanya memberikan hukuman yang bersifat mendidik seperti itu. Bukan dengan extreme reward and punishment berupa imbalan 72 bidadari atau ancaman api yang menyala-nyala dan membakar dengan dahsyat.

Rabu, 27 Oktober 2010

Karma itu Akibat Ulahku Juga

broken1Tuhan ..benarkah karma itu ada? Aku memang pernah melakukan satu dosa besar di masa lalu ..Tapi mengapa Kau timpakan karma itu padaku pada saat kutelah sadar dan mencoba untuk mendekat-Mu ..Inikah adilmu??Apakah memang takdirku sesungguhnya adalah menjadi orang yang selalu kalah ...

Sebenarnya aku tak ingin menggugat takdir ..aku juga sudah bisa menerima semua peristiwa yang kualami kini sebagai karma yang harus dgn ikhlas kuterima. Namun ..aku hanya manusia biasa yang punya sakit hati, punya nafsu, punya rasa, punya cinta ..punya harapan-harapan dan keinginan-keinginan ..

Dan ketika keinginan-keinginan itu satu persatu lepas dari tangan ..aku merasa begitu rapuh, begitu miskin, begitu lemah, begitu terhinakan, begitu terbelenggu, begitu sedih ..bahkan terpikir untuk mengakhiri hidupku ..

Sebut saja aku Dani. Sebenarnya aku bukan cowok yang jelek. Bahkan banyak yang bilang aku ini ganteng,rajin dan pintar. Di tempat kerjaku, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, bahkan banyak cewek yang terang-terangan menunjukkan perasaan sukanya padaku.

Namun anehnya, tak ada satupun yang mampu menaklukkan hatiku ..kecuali Ranti (bukan nama sebenarnya), teman
sekantor yang bertugas di bagian akunting.Sayangnya cewek itu sudah punya tunangan yang juga teman sekantorku ..Itulah yang membuat aku begitu sakit hati dan tertekan.

Sudah kucoba berulangkali untuk menerima kenyataan itu. Tapi tiap kali pula batinku menolak untuk merelakan Ranti menjadi milik orang lain. Apalagi toh mereka belum terikat perkawinan. Seperti pepatah, sebelum ada 'janur melengkung' maka sah-sah saja aku berusaha mencuri hati dan perhatian Ranti dari tunangannya itu.

Gilanya,aku mulai dirasuki perasaan cemburu dan iri dengki yang berlebihan. Bahkan perasaan cintaku mulai membuatku jadi orang yang tak waras. Aku selalu diliputi kegelisahan, keresahan berkepanjangan. Keinginan untuk memiliki Ranti begitu besar, begitu membutakan mataku.Aku seperti tak melihat wanita lain di dunia ini, selain Ranti. Pesonanya benar-benar telah menguasai hati dan perasaanku.Bahkan aku seolah-olah, tak bisa bertahan, tak bisa hidup lagi tanpa kehadirannya di sisiku.Tapi Ranti ternyata wanita yang luarbiasa setia ..dia tak tergoyahkan meski telah kubombardir dengan ribuan godaan. Dan justru itulah yang membuatku semakin tergila-gila padanya.

Hingga akhirnya, aku benar-benar nekat ..aku melakukan hal yang curang dengan berusaha 'menyingkirkan' kehadiran tunangan Ranti dengan cara yang tidak simpatik, melalui jasa 'orang pintar' yang tak lain adalah pakde-ku sendiri.

Bukan menyingkirkan dalam artian kematian yang kuharapkan. Aku hanya ingin mereka merasa 'tak betah' dan tak lagi merasa cocok satu sama lain.Sehingga ada peluang bagiku untuk mendekati dan mendapatkan hati Ranti ..dan aku sudah menyiapkan 'pengasihan' untuk melaksanakan niatku itu.

Benar juga. Tak perlu menunggu waktu lama ..aku melihat hubungan Ranti dan tunangannya mulai memburuk. Itu bisa kucermati dari sikap mereka yang terlihat dingin satu sama lain ..bahkan mereka tak lagi pulang bersama-sama dari tempat kerja. Aku sengaja menjauh dan tidak ingin kelihatan terlibat dalam urusan mereka. Namun sungguh ...saat itu aku merasa sangat puas dan merasa telah melihat 'kemenangan' di depan mata.Astagfirullah ...

Hingga akhirnya peristiwa itu benar-benar terjadi. Ranti memutuskan tali pertunangannya dengan kekasihnya.. Tanpa pikir panjang dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, akupun mulai berusaha memasuki dan mengisi 'kekosongan' hati Ranti yang sedang berduka. Kondisi Ranti yang sedang tidak stabil semakin mempermudah rencanaku untuk mempengaruhi jiwanya.Akupun mulai melancarkan 'serangan'..mencoba menjadi pahlawan kesiangan yang siap mengobati luka hatinya ..dan lengkaplah sudah ketika gayung tersambut. Tanpa ingin melepaskan esempatan yang sudah terpegang tangan, akupun memperkuatnya dengan ikatan mantra dan beberapa benda yang menjadi prasyarat sebuah ritual pengasihan.Aku tak pernah berfikir tentang dosa. Yang ada dalam benakku hanyalah Ranti harus dan mutlak menjadi milikku.

Tujuan itupun terwujud. Bahkan aku tak harus berlama-lama menunggu kesediaan Ranti untuk menjadi pendamping hidupku.. sebagai istriku. Duh bahagianya aku saat itu ..Padahal di sisi lain, ada yang sangat terluka bahkan frustasi dengan kebahagiaanku. Siapa lagi kalau bukan mantan tunangan Ranti ..aku tak tahu persisnya yang terjadi. Tapi terakhir kudengar dia telah dipecat dari perusahaan karena dianggap sering absen da kinerjanya makin amburadul.

Tapi apa peduliku ..yang penting, aku telah mendapatkan Ranti. Dan itu menjadi momen yang paling penting di hidupku.Jadilah Ranti istriku. Bangga dan bahagia rasanya, akhirnya aku bisa mendapatkan orang yang sangat aku cintai. Kami pun bahagia ..hidup normal ..punya seorang anak laki-laki yang kini telah berusia enam tahun.

Semua bilang kami pasangan yang harmonis dan serasi ..Aku sangat menyayangi dan menjadikan Ranti dan anak semata wayangku sebagaimana permata yang harus selalu kujaga. Bahkan saking ingin 'meratukan' Ranti, aku mengizinkan apa saja yang dia mau ..termasuk mengizinkan keinginannya untuk berhenti bekerja. Biarlah aku yang menjadi nakhoda penuh ..bertanggungjawab mencukupi segala kebutuhan rumah tangga.. aku dengan ikhlas dan senang hati, ibarat kepala jadi kaki-kaki jadi kepala akan aku lakukan demi membahagiakannya.Lambat laun kehadiran Ranti dalam hidupku juga
mempengaruhi sikap, bahkan keimananku

..Aku yang dulu sengaja 'menjauhkan diri'dari Tuhan lantaran sering merasa terkecewakan dan jadi pecundang ..mulai belajar, membekali diri lagi dengan siraman dan pengetahuan spiritual yang mendekatkan diri dengan-Nya ..Kebetulan ada seorang teman yang konsist sekali membagikan ilmu spiritualnya.

Begitulah waktu berlalu ..begitu normalnya kehidupan rumahtanggaku sehingga aku lupa akan kewajibanku untuk 'membaharui' mantra dan prasyarat pengasihan yang seharusnya kulakukan tiap tiga tahun sekali. Sama sekali tak kuduga bila itu akan membuka gerbang dan episode baru dalam sejarah hidupku ..Entah karena kelalaianku yang tak memperbarui mantra atau memang sudah tiba pada suratan takdirku ..tiba-tiba saja hari itu, Ranti berperangai aneh ..Sepulang aku kerja, dia tidak menyambutku manis seperti biasanya. Malah dia memborbadirku dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku tak kan sanggup menjawabnya.

"Yah, apa yang sudah kamu lakukan selama ini padaku? Ayah mengguna-gunai aku agar menjadi istri ayahkan? Ayah sengaja menghancurkan hubunganku dengan tunangankukan? Tak kusangka ..ayah ternyata orang yang kejam .." katanya bertubi-tubi membuat mukaku terasa panas, menahan malu ...terbongkar sudah semuanya ..


Tanpa aku balik bertanya darimana dia mengetahui semua itu ..Ranti sudah menjelaskan sendiri bahwa dia baru saja kedatangan tamu, teman lamanya,perempuan yg ternyata memiliki 'daya linuwih' alias kemampuan khusus untuk melihat 'sesuatu' dari aura seseorang. Dari temannya itulah akhirnya Ranti tahu tentang rahasia terbesar yang telah kupendam bertahun-tahun.

Aku tak bisa mengelak, selain hanya diam ..lalu mengakui semuanya. Tapi kulakukan itu semua karena aku sangat
mencintainya ..tak ingin kehilangannya ..aku tak bisa hidup tanpa dirinya ..bahkan aku rela melakukan apa saja asalkan dia tidak meninggalkanku ..Hanya itulah yang bisa kuungkapkan padanya. Nyatanya toh sia-sia ..Ranti tetap saja marah, bahkan sangat marah ...tidak pernah sekalipun aku melihat dia semarah itu ..dan ironisnya ..dia langsung bergegas ke kamar, mengepak barang-barang. Kulihat samudra kekecewaan yang teramat dalam di matanya ..

Aku benar-benar panik dan takut ..Tidak !! Aku tak boleh membiarkan Ranti pergi, tidak sekarang atau selamanya ..Apalagi kami sudah dikaruniai seorang anak..yang pada saat kejadian itu masih belum pulang dari sekolah lantaran ada kegiatan
ekstrakurikuler. Itupun tak menyurutkan langkahnya untuk tetap pergi ..Aku begitu kalut ..lantas serta merta kupeluk dia dan
memohonnya agar tidak meninggalkanku ..sama sekali tak kuduga bila tiba-tiba tubuh Ranti tak bisa menahan keseimbangan dan terjatuh ..kepalanya berdarah membentur tepian ranjang ..

Aku bertambah panik, sementara Ranti semakin histeris saja setelah mengetahui kepalanya terluka. Hal ini justru semakin menguatkannya untuk meninggalkan aku ..dan satu hal yang tak pernah kuduga sebelumnya ..Ternyata, setelah bangun ..sambil memegangi kepalanya yang berdarah,

Ranti langsung bergegas keluar rumah ..menyetop taksi ..dan ..melaporkanku ke kantor polisi dengan delik aduan kekerasan dalam rumah tangga ..Duhhhh Kujalani, kuterima semua proses hukum tanpa terbelit-belit untuk membuktikan niatku yang tulus ..akupun sempat mendekam di dinginnya hotel prodeo, meski hanya beberapa malam ..Semua kuterima dengan ikhlas demi Ranti ..

Lepas dari masalah pidana, masalah lain yang lebih berat menghadang ..Ratih menggugat cerai.Duh ..sedemikian benci dan jijikkah dia padaku ..Benarkah tak ada sisa2 cinta sama sekali??Mungkin aku bersalah ..berdosa telah 'memaksakan cinta' ..tapi tak adakah celah kebaikan sedikitpun yang dia lihat dariku ..tentang kerelaanku tuk selalu bahagiakannya dan anak semata wayang kami ..tidakkah itu bisa menahan langkahnya ??

Ternyata tidak ..sama sekali tidak mampu membuatnya tersentuh ..Ranti tetap ngotot minta cerai ..bahkan kulihat ada bilur-bilur kemarahan yang sangat pijar di matanya. Duh ..bagaimana bisa aku tak meluluskan keinginan2nya bahkan yang paling menyakitkan sekalipun.. Apalagi jelas-jelas aku dalam posisi bersalah ..

Dan bercerailah kami ..dengan anak semata wayang kami yang hak perwaliannya jatuh pada Ranti. Sakit, sedih, kecewa ..tapi aku tak berdaya, aku pasrah karena teringat dengan kesalahan terbesar yang pernah kulakukan itu. Aku bahkan tak peduli lagi dengan kehidupanku yang laun menjadi kacau ..terjebak dalam penyesalan berkepanjangan ..namun di sisi lain aku merasa bersyukur pernah mengecap kehidupan manis itu dengan orang yang paling kucintai di atas jagad ini ..sakit di hati ini mulai menyerang organ tubuhku yang lain ..membuat diriku menjadi rapuh ..Hari-hari hanya kuisi dengan do'a dan do'a memohon ampun dan tobat sambil berharap suatu hari Ranti dan anak kami akan datang kembali padaku ..sebelum vonis tumor otak itu merenggut nyawaku ....

Selasa, 26 Oktober 2010

Kisah Kelam Mahasiswi

Sebut saja aku Amanda, usia 25 tahun, calon ibu dari seorang anak berusia tiga bulan di dalam rahimku, yang pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di salah satu kota pelajar di Jawa Timur. Tidak sedikit orang yang mengatakan aku pintar, cantik, dan menarik. Tapi rupanya nasib tak setara dengan kecantikan fisikku. Terlahir sebagai anak sulung dari delapan bersaudara, di sebuah kota kecil di Trenggalek Jatim, perjalanan hidupku bagaikan sebuah cerita sedih bersambung yang tak pernah berakhir ... bagaikan sumur tanpa dasar.


Kisahku bermula ketika aku lulus SMU beberapa tahun silam. Meski dengan kondisi ekonomi pas-pasan, aku bertekad ingin menggapai kehidupan masa depan yang lebih baik dengan kuliah. Kedua orang tua mendukungku, bahkan karena ingin anaknya bisa mengangkat status sosial ekonomi keluarga, mereka rela menjual sepetak sawah-satu-satunya benda keluarga yang berharga dan memungkinkan dijual, untuk bekal aku kuliah.

Jadilah aku mahasiswi. Sebagai anak kampung, penampilanku biasa-biasa saja, bahkan banyak yang bilang aku terlalu polos dan lugu, enggak cocok jadi anak kuliahan. Padahal, teman-temanku rata-rata 'penggila mode'. Apa aku yang salah ambil tempat kuliah ya? Kenapa aku bisa terjebak dalam lingkungan perkuliahan (yang ternyata) mahasiswanya rata-rata dari kalangan 'the have'? Kembali lagi, mungkin karena aku terlalu kuper, sehingga untuk masuk kuliahpun aku tak punya banyak referensi tentang perguruan tinggi yang harus kupilih. Padahal, di kota itu bejibun PTS bisa kupilih. Bahkan, ada juga PTS yang banyak 'menampung' orang udik tapi punya uang kuliah seperti aku. Nasi sudah jadi bubur basi! (Tak mungkin disantap lagi meski sudah disulap jadi bubur ayam).

Untuk menutup perasaan minder dan menghindari 'sirik mode', aku sempat memutuskan untuk memakai jilbab. Tapi akhirnya kutanggalkan karena itu tidak membantuku, malah membuatku jadi seperti orang asing. Dan aku sadar betul, ada perasaan tidak tenang dalam hatiku karena jilbab itu kupakai bukan lantaran keikhlasan dan kesadaran, namun semata-mata karena sebab lain. (sekedar tahu, sekarang pun aku memakai jilbab. Namun kali ini kupakai betul-betul karena panggilan hati).

Akhirnya, kegelisahanku tertangkap juga oleh salah seorang dosenku, sebut saja Jerry. Dia lelaki setengah matang, berperawakan tegap, tampan dengan kumis dan cambang khas seorang perlente. Diam-diam laki-laki yang betah membujang dengan usianya yang di atas kepala empat itu terus memperhatikan aku. Dia seakan terus menguntitku, kemanapun aku pergi. Hingga akhirnya, entah kapan mulainya, tak berapa lama dia menjadi teman curhat istimewa bagiku. Bahkan, perlahan-lahan dia mulai membantu keuangan bulananku yang mulai kembang kempis.

Namun ternyata, tidak ada makan siang yang gratis! Semua yang diberikan Jerry kepadaku, harus kutebus mahal dengan kehormatanku. Aku dipaksa menyerahkan keperawananku di sebuah kamar hotel di kawasan wisata tak jauh dari kota tempatku kuliah. Tentu saja, setelah 'laki-laki biadab' itu membubuhkan sesuatu di minumanku. Keperawananku sakit, tapi lebih sakit lagi perasaanku. Aku merasa menjadi perempuan paling kotor di dunia. Tiba-tiba saja bayangan wajah ibu, bapak, dan adik-adikku di kampung melintas begitu saja. Semuanya bagaikan ingin menelanku hidup-hidup. Tapi untunglah itu hanya ilusi ketakutan atas segala dosa yang baru saja kulakukan.

Aku menangis sejadi-jadinya. Tapi Jerry nampak tenang. Bahkan dia sama sekali tidak menyatakan penyesalannya. Tak ada kata maaf pun meluncur dari bibirnya. Dia hanya mengatakan bahwa dengan 'pengorbanan kecil' ini dia akan membuat hidupku berubah. Berubah? Ya Tuhan ...Ternyata yang dia maksud dengan berubah itu adalah merubah Amanda yang kuper, polos dan lugu ini menjadi Amanda yang glamour, bebas, dan binal !

Perlahan namun pasti, perilaku dan kehidupanku pun mulai berubah. Lewat 'tangan dingin' Jerry, akhirnya aku menjadi 'ayam kampus' berkelas. Bukan hanya antar sesama penganut freesex seperti Jerry yang bisa menikmati tubuhku, tidak sedikit pejabat maupun pengusaha berkantong tebal yang pernah memeluk dan mereguk kenikmatan dariku. Uang pun tak lagi menjadi soal bagiku. Bahkan, sawah bapak yang pernah terjual di kampung sudah berhasil aku ganti dengan yang lebih luas. Begitu juga adikku nomor dua dan ketiga aku kuliahkan, meski tentu saja tak harus sekota denganku. (Karena di kampung aku mengaku menjadi Sekretaris di sebuah perusahaan ternama).

Lama-lama, aku pun menikmati pekerjaan ini. Aku sudah tidak perduli lagi dengan kasak-kusuk di kampus, atau diusir dari satu kos lalu pindah ke kos lain. Entahlah, segala bentuk dosa sudah kulakoni, dari free sexs, membohongi orang tua, termasuk menggugurkan kandungan hingga tiga kali. Dan aku tak lagi berfikir, apalagi berkhayal tentang surga karena aku begitu yakin bahwa tempatku memang di neraka jahanam!

Namun, memasuki tahun ke empat, tepatnya setahun lalu, tiba-tiba aku menemukan sesuatu yang ganjil dalam hatiku. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kurasakan, aku jatuh cinta kepada salah seorang pemilik konter handpone langgananku. Keseringan membeli pulsa, menukar handphone, membuatku diam-diam memperhatikan Ramzy-sebut saja begitu. Seorang pemuda yang sangat biasa, ramah, santun, lembut, dan suka mencandaiku dengan kalimat-kalimat yang 'nyess' di hati. Yang menarik perhatianku, Al-quran dan sajadah selalu saja menghiasi sudut paling atas rak di konternya.

Obrolan yang saling nyambung, perasaan teduh dan tenang bila menatap matanya, tutur katanya yang lembut, membuatku benar-benar tak berdaya. Hingga singkat kata, kami pun merasa saling cocok hati dan pacaran (meski dengan tata cara versi dia yang sangat sopan). Tak lama setelah saling mengungkapkan perasaan, dia pun melamarku ke kampung. Aku pun bahagia bukan kepalang. Bahkan saking bahagia nya aku lupa bahwa masih ada 'tembok penghalang' lain yang bisa saja meruntuhkan kebahagiaanku sewaktu-waktu.

Benar juga. Jerry ternyata tidak terima dengan perlakuanku yang langsung 'hilang' begitu saja darinya setelah aku jadian dengan Ramzy. Meski nomor handphone lama sudah kubuang, ternyata dia bisa melacak keberadaanku. akibatnya fatal, dia membeberkan semua aib masa laluku kepada Ramzy yang selama ini kusimpan rapat. Tentu saja Ramzy shock berat. Apalagi aku sempat berbohong kepadanya bahwa keperawananku sudah hilang sejak SMP karena belajar naik sepeda. Duh ...aku memang salah, aku tak jujur mengatakan segalanya kepada Ramzy. Tapi aku terlalu sayang, terlalu cinta pada Ramzy dan takut akan kehilangannya. Aku takut kejujuranku akan membuatnya jadi membenciku. Aku merasa benar-benar bersalah. Bahkan seandainya, aku tak ingat banyaknya dosa yang telah kubuat dan tak ingat akan kesempatan bertobat yang telah diberikan Allah SWT, saat ini aku pasti sudah bunuh diri.

Apalagi kini aku tengah mengandung anak Ramzy. Memang usianya baru tiga bulan ...namun cukup menjadi alasan kuat bagiku untuk tetap mempertahankan hidup. Meski (mungkin) nantinya Ramzy menceraikan aku setelah jabang bayi lahir, aku pasrah bila memang itu hukuman duniawi yang harus kujalani. Karena ternyata aku masih lebih takut hukum di akherat nanti. Tapi seandainya boleh berharap aku pasti tetap mendambakan Ramzy mau memaafkan aku.

Tapi yang jelas, meski masih serumah, hingga hari ini, dia masih saja diam membisu. Bahkan seolah-olah tidak menyadari kehadiranku di sisinya, sebagai istrinya. Tak ada kata marah, tak ada kata cerai dari mulutnya ...namun sikapnya itu membuat aku semakin tersiksa. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Seatap dengan suami sah, tapi tidur sendiri, semuanya sendiri. Bahkan, Ramzy tak mau menyentuh sama sekali makanan yang kuhidangkan. Bila pulang kerja, dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar shalat. Duh, sampai kapan aku harus bersabar ...

Terkuaknya Tabir Khianat Suamiku

sadAku tak tahu, perasaan seperti apa yang harus kuungkapkan saat ini, marah, sedih, bahagia, menyesal ataukah kecewa ..semuanya berkecamuk dalam dada dan menorehkan kepedihan dan sakit yang teramat sakit di dalam hati ini. Pernahkah terbayangkan, seseorang yang kita cintai, kita sayangi dan hormati, tiba-tiba meninggalkan kita dengan sejuta kenyataan yang sangat sulit kita terima ..bahkan menyisakan bongkahan permasalahan yang mengigit..

Gempa yang melanda ranah Minang, menjadi saksi terkuaknya tabir yang selama ini tidak aku ketahui sama sekali. Dibalik porak poranda kota Padang .. tersisa kisah yang sungguh menyakitkan hati. Bagaimana tidak, suamiku yang menjadi salah satu korban runtuhnya sebuah hotel di kota itu, ternyata meninggalkan jejak, seorang anak perempuan kecil yang kini sebatang kara dan diantarkan ke hadapanku sebagai anak dari 'istri lain' laki-laki pujaanku itu.

Anak berusia 4 tahun yang wajahnya memang mirip suamiku itu, kini tinggal bersamaku dan aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Membencinya, menyiksanya, atau malah mengasihinya sebagaimana anakku sendiri. Di sisi lain hatiku, aku sangat kasihan kepadanya, namun di sisi lain ada perasaan sakit, benci, dan dendam yang sulit aku singkirkan. Begitu juga anak-anakku (ada dua orang, laki-laki dan perempuan kelas sebelas es em a dan kelas tujuh SMP) Sepertinya mereka sulit menerima kenyataan aneh ini. Atau karena mereka ingin menjaga perasaanku? Entahlah, yang jelas mereka terlihat acuh tak acuh ..

Karena bingung dan bimbang dengan perasaanku sendiri, perempuan kecil yang diberi nama Nayla (bukan nama sebenarnya) itupun cuma kuserahkan kepada seorang pembantu, terserah mau diapakan .. karena terus terang aku belum terlalu rela menerima kehadirannya.Ikhwal kemunculan Nayla adalah ketika kami menerima kabar tentang suamiku, sebut saja Mas Budi (samaran) yang menjadi salah satu korban meninggal dalam peristiwa gempa Padang. Mas Budi 'terkubur' di sebuah hotel ketika sedang mengikuti sebuah seminar. Setelah mendengar kabar tidak mengenakkan tersebut, akupun langsung 'terbang' ke TKP untuk memastikan benar tidaknya pria yang sangat kucintai sepenuh hati dan jiwaku itu ikut menjadi korban. Ternyata memang benar, suami terkasihku itu adalah salah satu dari korban yang meregang nyawa di antara reruntuhan bangunan hotel di pusat kota Padang itu.

Hancur luluh hatiku menerima kenyataan pahit itu. Sungguh aku tak menyangka bila nasib Mas Budi akan berakhir tragis seperti itu. Belum habis airmataku menangisi kepergian Mas Budi, tiba-tiba, bak tersambar petir di siang bolong, ada seorang ibu tengah baya menghampiri aku ketika tengah mengurus segala keperluan pemakaman Mas Budi di kota itu. Perempuan yang kira-kira usianya tak jauh berbeda denganku itu menggendong anak kecil dan mengatakan bahwa anak dalam gendongannya itu adalah anak suamiku dari adik perempuannya.

Bagaikan tidak percaya dengan penglihatan dan pendengaranku sendiri aku bahkan tidak bisa bicara apa-apa. Lidahku serasa kelu, otak dan pikiranku terasa buntu ..bagaikan ada sebongkah batu besar yang menindih tubuh dan jiwaku! Aku tak tahu, tidak siap diterpa kenyataan yang menyakitkan itu. Ya Allah ternyata itu anak suamiku dan Erni (bukan nama sebenarnya), mantan asisten pribadi Mas Budi yang pernah kepergok menjalin affair dan kemudian dipecat atas dasar pertimbangan 'penyelamatan muka' dan harga diri keluarga besar kami.

Jadi, selama ini Mas Budi ternyata masih tetap menjalin hubungan terlarang dengan Erni. Bahkan berdasarkan keterangan dari kakak Erni, mereka sudah menikah sirih sekitar empat tahun lalu di Padang karena Erni terlanjur mengandung benih Mas Budi.Ya Tuhan, bodohnya aku ..aku yang selalu mengantar kepergian Mas Budi ke tempat tugasnya (karena Mas Budi memang memiliki beberapa bisnis di beberapa kota) dengan hati tulus ikhlas, dengan kepercayaan penuh dan tanpa prasangka, ternyata telah menjadi korban kebohongan laki-laki yang telah menganugerahi aku dua orang anak itu ... pedihhhhhh rasanya ..

Tapi apa dayaku, inilah realita kehidupan yang terpaksa kujalani. Ironisnya, Erni dan keluarganya yang lain ternyata juga menjadi korban bencana itu. Tinggal kakak Erni dan anaknya semata wayang yang juga masih kecil ..yang tidak mungkin menanggung beban hidup Nayla .. Antara percaya dan tidak percaya aku terima 'penyerahan' Nayla itu kepadaku ..Aku tak bisa berkata apa-apa selain mencoba menata hati, perasaan dan jiwaku yang terlanjur hancur berantakan ... Bahkan aku tak tahu, bagaimana aku bisa 'terbang' balik ke rumah dengan seorang anak yang menjadi simbol pengkhianatan itu? Kekuatan apa yang telah menggerakkan aku untuk menerima kenyataan pahit itu? Sementara di sini, jujur kuakui ..hatiku masih berdarah-darah .. masih sakittt ...Aku tak tahu, akan aku apakan Nayla ....

Pantaskah Aku Disebut Guru

Aku perempuan yang saat ini berusia 34 tahun, memiliki seorang putri berusia 7 tahun. Profesiku guru di sebuah sekolah di kawasan Jakarta Timur. Sejak empat tahun lalu aku menjadi singel parent dan berusaha menghidupi keluarga dengan segenap kemampuanku.

Kisahku bermula ketika aku masih SMU. Saat itu aku seringkali ‘nongkrong’ di tempat mangkalnya anak-anak gunung di sekitar kaki Gunung Salak Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu aku bertemu dengan Irfan yang membuat hidupku berubah total.

Awalnya aku gadis yang bisa disebut pendiam dan alim walaupun aku senang sekali beraktifitas bersama club pencinta alam. Namun Irfan memberiku banyak ‘pelajaran’ tentang caranya bergaul dengan ‘anak gunung’. Di sebuah acara pelantikan anggota baru aku akhirnya mengenal apa itu, drugs, seks dan bahkan orgasme.

Malam itu aku memang tak kebagian tempat untuk mendirikan tenda sendiri, dan Irfan menawarkan tendanya untukku.

Malam semakin larut, udara dingin pegunungan semakin menusuk hingga tulang-tulang terasa ngilu, namun acara pelantikan belum juga berakhir dan aku memutuskan untuk meninggalkan acara dan tidur. Karena esok pagi kami akan melanjutkan acara di salah satu puncak gunung yang membutuhkan tenaga ekstra untuk menjangkaunya.

Entah pukul berapa aku mendadak terbangun, karena mendengar suara seseorang yang menggigil kedinginan di depan pintu tendaku, setelah kutegur aku mendengar suara Irfan yang menyahut. Karena tak tega aku menyuruhnya masuk agar ia tak terlalu kedinginan.

Karena tenda yang hanya muat untuk satu orang kami akhirnya duduk berhimpit-himpitan. Dan mendadak ada rasa hangat yang menyelimuti diriku.

Entah bagaimana awalnya, aku membiarkan saja ketika Irfan mulai memelukku, menciumi leherku. Aku justru malah membalas apa yang ia lakukan terhadapku. Saat itu aku merasakan sensasi yang luar biasa yang membuat seluruh tubuhku hangat dan nyaman. Hingga akhirnya Irfan berhasil membuat tubuh telanjangku menggigil, melenguh dan mengejang walau diakhir ‘acara’ aku merasakan perih di pangkal pahaku.

Aku memang tak menyesali apa yang sudah kami lakukan malam itu, yang aku sesali adalah Irfan tak menginginkan aku menjalin hubungan dengannya. Buatnya seks malam itu adalah cinta sesaat yang tak harus berujung dengan ikatan apapun, itulah pergaulan yang berlaku bagi mereka. Untunglah perbuatan malam itu tak membuatku hamil.

Hingga aku akhirnya berkenalan dengan Andi di lokasi yang sama. Awalnya kami hanya berteman, namun kemudian perasaan yang kami miliki berubah menjadi sebuah perasaan cinta. Kami sepakat menjalin hubungan yang lebih intim dalam artian kami memiliki komitmen yang sama, saling mengasihi, saling mengisi dan saling memberi perhatian. Perjalanan cinta kasih kami berjalan sangat indah.

Begitulah seterusnya, aku dan Andi jadi sering berhubungan intim dan kami kecanduan perbuatan itu. Seperti biasa aku harus menggugurkan kandungan setiap kali hamil.

Tidak tanggung-tanggung, perbuatan itu aku jalani hampir dua tahun lamanya. Di tahun kedua hubungan kami, pertengkaran kerap terjadi. Puncak pertengkaran terjadi ketika aku hamil untuk yang kesekian kalinya. Aku berkeras mempertahankannya dan menuntut Andi segera menikahiku.

Tuntutanku tidak membuat Andi melunak bahkan sebaliknya. Aku tak pernah tahu berapa kali tamparan keras Andi menerpa wajahku. Aku hanya ingat rasa sakit luar biasa saat tangan Andi memukul perutku sambil memaki yang menuduhku sebagai pelacur yang tidur dengan banyak laki-laki. Saat itu aku merasakan kepedihan luar biasa bukan lagi di perutku tetapi batinku. Sejak kejadian itu, setiap kali melihat lelaki, aku selalu merasakan emosi yang meledak-ledak.

Sebulan sejak kejadian itu, aku bertemu seseorang, sebut saja namanya yang pernah memberi perhatian lebih padaku. Singkat cerita, sejak itu aku mulai menjalin hubungan dengan Soni. Namun hubungan ini tak berlangsung lama. Begitu banyak perbedaan di antara kami. Kami berdua berupaya tetap berkomunikasi namun ternyata tak berhasil memulihkan hubungan.

Rasa frustasi, kecewa berkecamuk dalam bathinku, tapi tak ada lagi air mata yang harus kutumpahkan, air mata itu sudah habis terkuras. Dan Soni seperti juga aku, rasa kecewa membuatnya menjadi dekat dengan alkohol dan drugs. Kami berdua sama-sama menangisi diri sendiri seolah kekecewaan sudah tak bisa lagi disembuhkan.

Namun kenyataan berbicara lain, putus dengan Soni, aku menjalin kasih dengan Jefri yang merupakan teman satu club Soni. Hingga Jefri akhirnya menikahiku. Di luar itu aku masih memelihara hubunganku dengan Soni karena hati ini tak lagi bisa dibohongi bahwa aku mencintai Soni, benar-benar mencintainya.

Dari hubungan itu aku akhirnya hamil dan untungnya Jefri menyangka bahwa janin itu adalah anaknya. Setelah melahirkan, ada perubahan nyata yang ditunjukan Jefri. Ia mulai jarang pulang ke rumah. Ia lebih banyak berkumpul bersama teman-tamannya, dan aku begitu terkejut saat banyak tagihan datang kepadaku, tagihan hutang yang tak pernah aku lakukan. Setelah kuteliti ternyata tagihan-tagihan Jefri.

Demikianlah akhirnya, perjalanan rumah tanggaku begitu hancur, semua hasil jerih payahku bekerja dijual Jefri dan aku tak tahu untuk apa uang yang selama ini kuberikan. Sementara Soni harus pontang panting membantu keuanganku khususnya untuk anakku yang nota bene adalah anaknya. Hingga kini keadaan tersebut sama sekali tidak pernah berubah, aku tetap mengajar, Jefri tetap merongrongku dan Soni tetap pontang-panting menghidupi anakku.

Minanti, Jakarta Timur



Kisah Hikmah ~ Sepondok dua istri sekandung


oleh Taufik Hidayat pada 26 Oktober 2010 jam 16:34

Bayangan indah sebuah rumah tangga menjadi impian setiap orang, entah itu perempuan atau pun laki-laki. Mereka yang menikah saling mencintai biasanya akan berusaha untuk saling membagi rasa. Berjalan beriringan dalam keadaan suka maupun duka. Namun, tidak semua rumah tangga akan berjalan mulus sesuai yang diharapkan sebelumnya. Seperti mimpi dan harapanku akan sebuah keluarga yang sakinah, berjalan dijalan rel kejujuran. Bagaikan godam menghandam kelapa saat kenyataan harus aku terima dan kuhadapi.

Aku terdiam sejenak dan dadaku berdetak kencang saat mendengar pengakuan adik kandungku Kelly telah hamil. “ Maafkan aku Mbak Sumi, aku telah hamil dengan Mas Rudi,” kata adikku. Kalimat pendek itu telah menusuk jantungku. Sakit dan kaget jelas aku rasakan. Dalam keadaan limbung aku menyebut Asma Allah, aku mohon kekuatan dan iman yang tegak untuk menghadapi cobaan ini.

Waktu terus berjalan, aku tidak banyak bicara hingga sore tiba. Segera aku mandikan anakku paling bungsu, juga kuperintahkan anakku pertama dan kedua untuk segera mandi. Dalam keadaan resah aku menyiapkan makan untuk mereka, lalu aku titipkan ketiga anakku dirumah mertua yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dengan perasaan tidak sabar aku menanti suamiku pulang dari salon pribadinya, dekat pasar.

Tepat mendekati adzan mahgrib, suamiku pulang, aku sambut dengan senyum walaupun hati terasa teriris. Aku berusaha bersikap seperti biasa supaya tidak membuatnya curiga. Setelah makan malam, aku ajak suamiku masuk kamar. Aku bertanya apakah masih ingat kenangan masa lalu sebelum nikah. Dia menjawab, ingat semua kenangan manis itu, bahkan dia dengan antusias bercerita saat pertama jalan bareng. Ah, dia masih menyimpan semua kenangan itu, tetapi kenapa dia menusukku dari belakang.

“ Mas Rudi, Kelly hamil, “dia ceritakan juga padaku, siapa yang menghamilinya.”

Mas Rudi diam, aku terus tatap wajahnya yang merah padam, dengan tenang aku menanti jawaban dari bibirnya. Tak sedikitpun aku berpaling dari bola matanya. Aku cari kebenaran di riak matanya, aku cari kejujuran di sinar matanya, perlahan aku terucap sebuah permintaan maaf sambil aku mencium tangannya.

Tak mampu aku menahan segala rasa, aku hanya mampu terdiam dalam beku. Aku pandangi suamiku tercinta, suami yang aku harapkan membuka pintu surgaku, suami yang menjadi panutan langkahku, suami yang selalu mengingatkanku tentang air wudhu, suamiku yang selalu mengajakku sholat malam, kini tersimpuh ditelapak kakiku tanpa berucap sepatah katapun.

Ya, Allah terbuka semua kebohongan dan rahasia selama ini, setahun yang lalu aku mendapat khabar kalau adikku Kelly sering berduaan dengan suamiku. Aku pikir itu hal biasa, karena selama ini Mas Rudi juga ikut membesarkan Kelly. Aku menikah dengan Mas rudi enam tahun yang lalu, saat itu adikku Darmanto, Katon, dan Kelly masih sekolah sedangkan Sugik adikku nomer dua sudah bekerja membantu aku membiayai mereka. Aku anak pertama dari lima saudara, ibuku meninggal disaat melahirkan Kelly, lalu tiga tahun kemudiaan ayah kecelakaan dan menyusul ibu.

Setelah meninggalnya ayahku, aku dan adik-adik dalam asuhan bibiku, dia adik tiri ayahku. Semua peninggalan ayah diserahkan bibi untuk dikelola sebab waktu itu kami masih kecil-kecil. Kebaikan bibi tidak seperti sewaktu ayah masih ada, bibi menguasai sendiri hasil sawah dan kebun bapak, aku dan adik-adik tidak mendapatkan sesuai perintah almarhum ayahku. Aku diam, karena memang aku tidak dapat berbuat apa-apa selain mengalah. Dalam pikiranku bagaimana cara mendapatkan uang.

Berhenti sekolah jalan yang aku tempuh untuk bisa bekerja dipasar sebagai pelayan toko. Sedikit demi sedikit sebagian uang gajiku aku kumpulkan, hingga akhirnya aku bisa membuka warung sendiri. Setelah Sugik adikku nomer dua lulus SMA lalu bekerja ikut Pak Haji Basri berdagang ke kota, kemudian aku menikah dengan Mas Rudi yang kini menjadi suamiku. Begitu besar rasa tanggung jawab Mas Rudi pada adikku, karena kebaikannyalah adikku bisa sekolah semua. Dan kini orang yang selama ini aku cintai, aku hormati dan aku anggap sebagai penolong hidupku telah bersimpuh sujud ditelapak kakiku.

Aku tak mampu lagi bertanya kapan dia melakukan begitu pada adikku, dengan kehamilan adikku itu sebagai cermin atas perbuatannya. Tanpa tangis dan dengan hati hampa aku bertanya pada suamiku, “ Sekarang apa yang akan mas lakukan, meneruskan rumahtangga ini, atau mas memilih menikah dengan adikku?”

Dalam linangan air mata suamiku diam, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ingin aku menangis lalu mencakarnya atau memukulnya, namun kekuatan Allah tetap menggenggam dalam ketegaran. Aku diam tidak banyak bertanya lagi, karena hanya akan membuatku sakit hati. Keperihan dan rasa jijik terus menyergap, apalagi yang dihamili adik iparnya sendiri, sunggu keterlaluan sekali.

Kini, aku tidak berdaya, tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan bayi itu anak suamiku. Sesak dadaku semakin menyiksaku, ingin aku menangis sekeras-kerasnya tapi itu semua tidak akan bisa menyeleseikan masalah yang aku hadapi. Kurengkuh tangan suamiku untuk kembali duduk dikursi, aku tatap matanya yang sembab oleh air mata penyesalan, kuusap dengan tanganku. Aku berusaha tersenyum, walaupun hatiku terasa tercabik-cabik, kupegang erat kedua tangannya untuk sekedar memberi ketenangan padanya.

Merelakan suamiku menikah dengan adikku jalan yang kuanggap terbaik. Tetapi sebelum itu, aku ingin mengajukan cerei lebih dulu, karena aku tidak mungkin hidup seatap ada dua istri, apalagi istri kedua suamiku adik kandungku sendiri. Kemudian, bagaimana pandangan tetangga pada keluarga kami. Ya, inilah jalan terbaik buatku dan adikku Kelly. Terpaksa, anakku yang menjadi korban, tapi bila aku melarang mereka menikah adikku pasti akan mengancam akan bunuh diri.

Dengan bimbingannya aku kuatkan untuk bicara, “Mas, tolong bawa anak-anak pulang, malam ini kamu tidur dirumah ibu dulu. Biarkan anak-anak tidur bersamaku dikamar ini, besok pagi akan aku beri tahu keputusan masalah ini. Aku akan musyawarah dengan Sugik lebih dulu, apa yang terbaik kita lakukan.

Perlahan suamiku melangkah keluar dari kamar, aku pandangi kepergiannya dengan linangan air mata, padahal saat suamiku ada aku tak sanggup untuk menangis. Dengan langkah pelan, aku mendekat di pintu kamar Kelly, memastikan apakah sudah tidur atau belum sekalian menanti suamiku kembali membawa anak-anak pulang. Aku tempelkan telingaku dipintu, tidak ada suara apapun, padahal biasanya sampai malam Kelly mendengarkan radio. Tapi, saat ini masih sore dia sudah tidur.

Aku lemparkan pandanganku dipigora yang menempel didinding, terlihat rukun foto kami berlima. Terlihat sekali kebahagiaan disana, walaupun kami sudah tanpa orang tua lagi. Kudengar suara langkah suamiku dan anak-anak pulang, kusambut anakku dengan senyuman supaya tidak terlihat kalau hatiku galau. Kubawa anak-anak masuk dalam kamar untuk tidur, lalu aku keluar lagi, kulihat suamiku masih berdiri diruang tamu hendak pamitan padaku, setelah pamit dia beranjak pergi sambil menutup pintunya.

Aku lihat jam dinding menujukkan jam sepuluh, aku yakin sebentar lagi Sugik pasti pulang. Hatiku kembali gundah, teringat kata-kata Kelly tadi siang, dia mengatakan akan bunuh diri bila tidak diijinkan menikah dengan Mas rudi, padahal dia tahu siapa Mas Rudi. Begitu besar beban yang aku tanggung saat ini, ibuku dulu pernah berpesan padaku untuk membahagiakan dan menjaga Kelly, karena akulah sebagai pengganti ibunya. Tapi, kenapa harus Mas Rudi dicintai kelly, bukan laki-laki lain, padahal banyak pemuda dikampung tetangga yang suka pada Kelly.

Aku akui Kelly cantik dan tinggi, terus apa yang ada dipikiran dia sehingga tega merebut suami kakaknya sendiri. Kejadian ini membuatku tidak akan pernah terlupakan. Aku yakin, kalau ayah dan ibu masih ada, pasti mereka akan marah sekali. Entah, bagaimana reaksi Sugik maupun Darmanto bila tahu kejadian ini. Kudengar ada suara langkah kaki dari luar, pasti dia Sugik. Aku melangkah mendekati jendela, lalu aku mengintipnya, benar Sugik yang datang. Dengan tidak sabar aku bukakan pintu untuknya.

Dengan wajah heran Sugik menatapku. Yah, memang tidak biasanya aku menunggu dia sampai larut malam begini, karena pagi-pagi aku harus sudah pergi kepasar. Tapi, saat ini aku belum juga tidur, dengan tidak sabar aku bawa adikku masuk dalam kamarnya yang paling belakang, sehingga tidak akan mengganggu anak-anakku yang sedang tidur. Aku tetap membisu, saat adikku terus melontarkan pertanyaan padaku, memang aku sengaja tidak menjawab pertanyaannya sebelum masuk dalam kamar, aku takut kalau anakku bangun atau didengar Kelly pembicaraan kami.

Setelah kami sampai dalam kamar, lalu baru aku ceritakan semua pengakuan Kelly kepadanya, dia diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku semakin bingung, kenapa Sugik tidak ada tanda-tanda kaget atau marah. Padahal, seharusnya dia marah dengan tindakan Kelly maupun suamiku. Ternyata, Sugik sudah mencium gelagat mereka berdua, tepatnya dua hari yang lalu. Ada keinginan untuk segera cerita padaku hal yang mencurigakan itu, tapi adikku Sugik lupa.

Hingga larut malam aku bermusyawarah bersama Sugik, akhirnya mendapat satu keputusan kalau aku tetap akan menikahkan suamiku dengan Kelly, lalu aku akan mengalah untuk bercerai dan pergi. Tentunya, aku harus sholat malam lebih dulu, memohon pertolongan kepadaNya. Dengan hampa aku tinggalkan kamar adikku kembali kekamarku sendiri. Aku pandang satu persatu wajah anakku yang sedang tidur pulas, terlihat jelas semburat kelucuannya, tidak berapa lama cinat ayahnya akan berbagi dua.

Pagi terlihat cerah, tapi tak secerah wajahku yang kusut karena semalam tidak bisa tidur nyenyak. Pagi ini aku tidak pergi kepasar untuk menjaga toko, begitu juga suamiku. Aku kumpulkan semua adik-adikku kecuali Darmanto karena dia bekerja diKalimantan. Setelah kumpul semua, aku minta maaf pada mereka karena selama ini tidak bisa menjaganya dengan baik dan tidak bisa menjadi kakak yang bisa dijadikan panutan. Dengan tegar aku jelaskan kenapa semua aku kumpulkan, memang tidak biasanya ini aku lakukan.

Setelah semua aku jelaskan semua hasil musyawarah, lalu aku tanyakan pada suamiku. Dengan berat dia menyetujuinya, kulihat gurat-gurat kekecewaan dan penyesalan dimatanya tapi itu semua tiada artinya karena jelas adikku sudah hamil. Hari itu juga aku dan suamiku datang pada keluarganya untuk menjelaskan masalah yang telah kami hadapi, sekalian untuk meminta restu padanya tentang rencana ini.

Satu minggu kemudian, acara akad nikah telah digelar dengan sangat sederhana. Hanya keluarga besar suami saja yang diundang. Di depan keluarga suamiku, aku menikahkan mereka berdua. Berkat kekuatan Allah, aku tidak menitikkan air mata, aku selalu tersenyum pada setiap tamu yang datang. Lain dengan mertuaku perempuan, dia tak henti-hentinya menangis. Entah, apa yang dirasakan sekarang ini, mungkinkah dia merasa terpukul dengan masalah ini? Yah, pasti merasa terpukul, karena selama ini suamikulah anak yang dianggap baik dan taat beribadah tapi kini mencoreng mata keluarga.

Dalam rasa yang hampa aku masih bisa mengucap syukur, hatiku lega acara bisa berjalan dengan lancar. Terlihat ada setitik sinar bahagia diwajah adikku. Aku tinggalkan acara itu dengan langkah cepat, mencari tempat yang aman untuk menumpahkan tangisku yang tertahan. Kulangkahkan kakiku dimana kedua orangtuaku dimakamkan. Kutumpahkan tangisku disana, kucurahkan semua segala beban yang aku rasakan. Sehingga membuat aku semakin iklas melepaskan suamiku pada adikku tercinta.

Mimpi-mimpiku saat ini memang masih penuh dengan warna hitam, trauma akan perbuatan suamiku masih belum sepenuhnya aku lupakan, bahkan terkadang aku merasa jijik bila melihat dia. Dalam rasa hampa aku berusaha untuk melupakannya kejadian yang baru terjadi. Bayang-bayang masa lalu saat masih bahagia selalu menghantuiku. Begitu sulit aku melupakan, tapi kenyataan mengharuskan untuk melupakannya, karena Mas Rudi sebentar lagi bukan suamiku lagi, tapi dia sekarang menjadi adik iparku.

Setelah bercerai dengan suamiku, aku putuskan untuk pergi jauh dari mereka. Aku titipkan anakku pertama dan kedua pada mertuaku dan yang bungsu tetap aku bawa pergi. Aku tidak bisa harus terus bersikap sandiwara untuk menyembunyikan rasa cemburu. Aku hanya manusia biasa yang bisa merasa sakit dan cemburu bila suaminya bersanding dengan wanita lain. Dalam rasa kecewa dan ketakutanku ini aku hanya menyerahkan diri pada Allah dan aku berfikir, jodoh dan mati hanya Allah yang tahu. Aku hanya berharap bisa menjadi ibu yang saleh bagi anak-anakku.



Jumat, 22 Oktober 2010

Kisah Haru ~ Diatas Sajadah Cinta

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.

Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.

qad aflaha man zakkaaha.

wa qad khaaba man dassaaha

…”

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,

sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya

…)

Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.

***

Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si

musyriqun bi dhau’

wal hubb al wariq

…”

(jika aku pencinta malam maka

gelasku memancarkan cahaya

dan cinta yang mekar

…)

***

Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

“Bagaimana, kau terima atau…?”

“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

***

Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

“Be…benarkah?”

“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”

Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

***

Keesokan harinya.

Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

“Aku mau melanjutkan perjalananku!”

Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.

“Tidak usah.”

“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.

***

Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

***

Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”

***

Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.

***

Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,

Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum

Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.

Zahid,

Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

Wassalam

Afirah

===============================================================

Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :

Kepada Afirah,

Salamullahi’alaiki,

Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.

Afirah,

Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )

Afirah,

Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :

“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”

Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.

Afirah,

Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.

Wassalam,

Zahid

===============================================================

Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.

Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.

Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :

Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum,

Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.

Wassalam,

Afirah

===============================================================

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.

Diambil dari buku dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy.

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...