Minggu, 10 Oktober 2010

Cinta ~ Tanda tanda Orang Menyukai Kita



1. Seseorang yang mencintai kamu, tidak bisa memberikan alasan mengapa, ia mencintaimu. Dia hanya tahu, dimata dia, kamulah satu satunya…
2. Seseorang yang mencintai kamu, sebenarnya selalu membuatmu marah, gila, jengkel, stress. Tapi ia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang sudah ia lakukan, karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu…
3. Seseorang yang mencintai kamu, jarang memujimu, tetapi di dalam hatinya kamu adalah yang terbaik, hanya ia yang tahu…
4. Seseorang yang mencintai kamu, akan marah-marah atau mengeluh jika kamu tidak membalas pesannya atau telp-nya, karena ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi ke kamu...
5. Seseorang yang mencintai kamu, hanya menjatuhkan airmatanya dihadapanmu. Ketika kamu mencoba untuk menghapus air matanya, kamu telah menyentuh hatinya, dimana hatinya selalu berdegup, berdenyut, bergetar untuk kamu…
6. Seseorang yang mencintai kamu, akan mengingat setiap kata yg kamu ucapkan, bahkan yang tidak sengaja dan ia akan selalu menggunakan kata2 itu tepat waktunya...
7. Seseorang yang mencintai kamu, tidak akan memberikan janji apapun dengan mudah, karena ia tidak mau mengingkari janjinya. Ia ingin kamu untuk mempercayainya dan ia ingin memberikan hidup yang paling bahagia dan aman selama-lamanya…
8. Seseorang yang mencintai kamu, mungkin tidak bisa mengingat kejadian atau kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu, tapi ia tahu bahwa setiap detik yang ia lalui, ia mencintai kamu, tidak peduli hari apakah hari ini…
9. Seseorang yang mencintai kamu, tidak mau berkata Aku mencintaimu dengan mudah, karena segalanya yang ia lakukan untuk kamu adalah untuk menunjukkan bahwa ia siap mencintaimu, tetapi hanya ia yg akan mengatakan kata "I LOVE YOU" pada situasi yang spesial, karena ia tidak mau kamu salah mengerti, dia mau kamu mengetahui bahwa ia mencintai dirimu…
10. Seseorang yang benar - benar mencintai kamu, akan merasa bahwa sesuatu harus dikatakan sekali saja, karena ia berpikir bahwa kamu telah mengerti dirinya. Jika berkata terlalu banyak, ia akan merasa bahwa tidak ada yang akan membuatnya bahagia dan tersenyum…
11.

Seseorang yang mencintai kamu, akan pergi ke airport untuk menjemput kamu, dia tidak akan membawa seikat mawar dan memanggilmu sayang seperti yang kamu harapkan. Tetapi, ia akan membawakan kopermu dan menanyakan : “Mengapa kamu menjadi lebih kurus dalam waktu 2 hari?” Dengan hatinya yang tulus…
12. Seseorang yang mencintai kamu, tidak tahu apakah ia harus menelponmu ketika kamu marah, tetapi ia akan mengirimkan pesan setelah beberapa jam. Jika kamu menanyakan : mengapa ia telat menelepon, ia akan berkata : Ketika kamu marah, penjelasan dari dirinya semua hanyalah sampah. Tetapi, ketika kamu sudah tenang, penjelasannya baru akan benar - benar bekerja dan berguna...
13. Seseorang yang mencintaimu, akan selalu menyimpan semua benda - benda yang telah kamu berikan, bahkan kertas kecil bertuliskan 'I LOVE YOU' ada didalam dompetnya...
14. Seseorang yang mencintaimu, jarang mengatakan kata - kata manis. Tapi kamu tahu, 'perhatiannya' sudah menyalurkan semua...
15. Seseorang yang mencintai kamu, akan selalu berusaha membuat mu tersenyum dan tertawa walau terkadang caranya membingungkanmu...
16. Seseorang yang mencintaimu, akan membalut hatimu yang pernah terluka dan menjaganya dengan setulus hati agar tidak terluka lagi dan ia akan memberikanmu yang terbaik walau harus menyakiti hatinya sendiri…
17. Seseorang yang mencintaimu, akan rela melepaskanmu pergi bila bersamanya kamu tidak bahagia dan ia akan ikut bahagia walau kamu yang dicintainya bahagia bersama orang lain…
18.seseorang yg mencintaimu, tidak bny bicara klw dia sayang bgt tetapi dr tindakannyalah dia buktikan,apalagi laki-laki

Dakwah ~ Hidup dan Mati …

Hidup dan Mati …

oleh Taufik Hidayat pada 07 Oktober 2010 jam 11:06

Hidup dan mati, tipis sekali batasnya. Baru semenit yang lalu segar bugar, semenit kemudian tinggal nama. Ya, coba tengok korban Hercules di Magetan, Jawa Timur itu. Banyak kejadian semacam ini. Setiap detik. Setiap jam, selalu saja ada orang yang menangis, meratapi kepergian orang-orang yang dicintai.

Orang yang mencintai, yang meratapi, suatu saat juga akan menjadi orang yang ditangisi. Mengihlaskan kepergian orang yang dicintai, juga bukan perkara mudah. Dua bulan lalu, saat ibu meninggal (mudah-mudahan Alloh mengampuni semua dosanya), saya merasakan hal yang sama. Saya berusaha untuk tidak menangis. Toh tidak berhasil juga. Saya bersyukur tidak sampai meratap — sesuatu yang dilarang secara agama. Hanya satu kakak saya, yang selama ini menunggui dan merawatnya, yang begitu terpukul.

Saya punya teman, yang ditinggal orang yang dicintainya, sampai pingsan tiga kali. Dia lelaki seperti saya. Ada juga yang sampai menghukum dirinya dengan tidak mau makan, tidak mau merawat dirinya lagi. Dia sangat terpukul, sampai menyalahkan Sang Pencipta. Menangis, sepanjang tidak meratap, tidak dilarang. Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wassalam, juga pernah mengeluarkan air mata, ketika putranya, Ibrahim meninggal.

Bagaimanapun, hidup memang harus memikirkan mati. Lebih penting lagi, berpikir kehidupan setelah mati. Sayang, termasuk saya, masih lebih senang berpikir tentang hidup di dunia yang sesaat ini, dibanding mengejar hidup yang abadi.

Saya bertemu dengan orang yang sukses, tetapi tetap bisa juga berpikir tentang kehidupan yang abadi. Kita sebut saja dia dengan nama Kohar. Dia ini seorang direktur sebuah perusahaan IT yang dulu sempat maju. Pak Kohar ini, demikian bertanggung jawab terhadap keluarga dan anak buahnya.

Saking inginnya berpikir setelah kematian, dia hidup seimbang untuk dua tujuan: dunia dan akherat. Dia sudah beberapa kali dibongongi timnya sendiri. Orang-orang kepercayaan sendiri. Partner pertama, masuk bui karena terlibat perbuatan tercela. Orang yang kedua, ngemplang utang di bank dan nggak sanggup bayar. Koharlah yang harus menangung. Padahal, ia tidak ikut menikmati uang hasil utang tersebut. “Ya, saya mau nggak mau harus bertanggung jawab. Ya, inilah cobaan. Kalau hidup tanpa cobaan, kita nggak akan naik derajat,” katanya.

Taruhan Kohar sangat mahal. Selain seluruh hartanya bisa disita bank, dia juga harus kehilangan pekerjaan yang sedang berjalan. Untuk efisiensi, ia harus pindah kantor. Semula di daerah Segi Tiga Emas, belakangan minggir ke arah selatan Jakarta. “Biar lebih irit. Perbandingannya begini mas. Di kantor lama sewa sebulan, di sini bisa untuk satu tahun,” katanya.

Dia tetap tegar. Tak sepatah kata pun dari dia yang menyiratkan dia patah semangat. Toh ia tetap manusia. Yang punya rasa takut. Punya rasa khawatir. Memiliki keterbatasan daya. Dia mengaku, sering menangis bila sholat malam. Ia curahkan semua gundah gulana ini kepada Sang Pemberi Hidup. Bukan kepada ciptaan-NYA.

Saya dulu punya teman SMA, yang setiap kali sholat air matanya selalu berurai. Sholat apapun, dia selalu begitu. Saya bertanya, mengapa dia menangis? “Karena ini mungkin sholat saya yang terakhir,” katanya.

Luar biasa. Memang, salah satu resep agar sholat bisa khusuk, adalah dengan membanyangkan sholat itu sebagai ibadah terakhir. Saya pernah mencoba, tetapi hanya beberapa kali berhasil. Itu pun, seingat saya, hanya di awal-awal rokaat. Selebihnya, pikiran telah berlalu lalang, entah ke mana. Bahkan, terkadang bacaan yang sedang dibaca pun lupa.

Banyak kisah-kisah generasi Salaf (awal) yang menangis setiap kali sholat. Mereka menangis, karena bacaan yang sedang dibaca. Jika bertemu ayat-ayat tentang ancaman, tentang neraka, mereka seperti tersekat lehernya. Tiba-tiba bacaannya terhenti, menangis, dan melanjutkan bacaan. Yang luar biasa, mereka sanggup membaca satu ayat yang isinya ancaman itu berulang-ulang kali dalam satu rakaat. Dan, setiap membaca menangis pula.

Bagaimana sekarang? Di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, tidak sedikit imam yang melakukan hal yang sama. Tentu, jamaah yang tidak mengerti makna ayat yang dibaca, tidak bisa ikut menangis. Seperti saya, ya hanya menebak-nebak saja isi ayat tersebut.

Di beberapa masjid di Jakarta, kabarnya ada juga imam yang sering begitu. Saya beberapa kali mengalami. Ada yang aneh. Ayatnya, setahu saya, bukan tentang ancaman, kok imam itu membaca dengan suara gemetar. Setengah menangis. Saya tidak tahu apa maksudnya. Di situ ada ayat tentang bersyukur dan ruh.

Akhlak ~ Adab bercanda

1. berhati-hatilah, hendaknya materi bercanda jangan mengandung nama
Allah, ayat2-Nya, sunnah rasul-Nya atau ayi'ar2 islam. Allah berfirman
tentang orang2 yang memperolok2 sahabat nabi,yang ahli baca Qur'an
yang artinya: " dan jangan kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa
yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab,"sesungguh nya kami
hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." katakanlah," apakah
dengan Allah, ayat0ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? "
tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah
beriman."(At- taubah 65-66)

2. jangan sampai percandaan itu mengandung dusta maupun mengada-ada
cerita2 khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah SAW bersabda:"
celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dangannya
orang banyak jadi tertawa.celakalah baginya dan celakalah."( HR.ahmad
dan dinilai hasan oleh al-albani)

3. percandaan jangan sekali kali mengandung unsur menyakiti perasaan
seseorang. Rasulullah SAW bersabda,"janganlah seseorang diantara kamu
mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh2; dan
jika telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikan
kepadanya."( HR.ahmad dan abu daud;dinilai hasan oleh al-albani)

4.

jangan bercanda terhadap orang yang lebih tua atau terhadap orang
yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya, atau terhadap
permpuan yang bukan mahram.

5. janganlah memperbanyak canda sehingga menjadi tabiatmu, maka
jatuhlah wibawa yang mengakibatkan mudah dipermainkan oleh orang lain.

Motivasi ~ Sekuat Apakah Mental Anda

Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh
Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada
saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.
Tipe kedua, tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan
tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau
mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
Tipe ketiga, tipe kapas. Tipe ini

cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi.
Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat
finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.
Bangun network
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti
rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
sekuat apakah mental Anda?

Keluarga ~ Bila Suami kembali Cinta pada Pacar Lama

Bila Suami kembali Cinta pada Pacar Lama

oleh Taufik Hidayat pada 04 Oktober 2010 jam 11:10

Jatuh Cinta Pada "Pacar" Lama

Ibu Rieny yang terhormat, Tolonglah saya menemukan kembali logika yang raib entah kemana. Yang saya punya saat ini hanyalah emosi dan perasaan semata. Dan ini betul-betul memporak-porandakan hati dan akal sehat saya. Saya ibu dari 2 anak, usia saya 33 tahun. Rumah tangga saya sampai detik ini baik-baik saja. Saya bersyukur Tuhan menghadiahkan seorang suami yang nyaris sempurna bagi saya. Mencintai, menyayangi, baik hati, pengertian, tanggung jawab. Sungguh bukan pilihan yang salah. Akan tetapi Bu, sejak 4 bulan lalu, muncul "sosok" lain yang mulai memporak-porandakan logika saya. Satu sosok dari masa lalu yang tiba-tiba muncul dan langsung menduduki rating I di kehidupan saya. Kurang lebih 12 tahun lalu, jauh sebelum mengenal suami, saya punya seorang "kakak" yang merupakan segala-galanya bagi saya ketika itu. Dia sangat mencintai, menyayangi, mengerti jiwa saya saat itu yang sedang gencar-gencarnya mencari pengakuan dan jati diri. Kami tidak tinggal sekota, sehingga hubungan hanya via surat. Namun itu bukan halangan. Dari dirinya, saya bisa dapatkan kasih sayang, cinta, perlindungan, perhatian, hiburan, sampai-sampai saya tidak membutuhkan pacar. Semua ini berjalan lancar-lancar saja karena kebetulan kami masih ada hubungan kerabat. Waktu itu saya belum menyadari apa arti cinta dalam arti khusus. Yang saya ketahui, saya menyayangi dia, demikian juga dia. Semua terasa indah dan menyenangkan. Sampai suatu ketika, dia memutuskan menikah secara tiba-tiba dengan wanita yang dia cintai yang saat itu sudah hamil. Tidak tahu kenapa, saya syok, terpukul, rasanya dunia betul-betul kiamat. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu perasaan kehilangan yang amat menyakitkan. Satu-satunya orang tempat saya bersandar dan berpegang diambil orang. Saya menangis berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Dia juga merasa bersalah pada saya, lantaran prosesnya mendadak dan tiba-tiba. Saat pernikahannya pun saya enggan hadir bila tidak dipaksa. Bagaimanapun dia "kakak" saya. Akhirnya, saya hadir, tapi bisa Ibu bayangkan, sejak saya menginjakkan kaki di kota tempat dia melangsungkan pernikahan sampai kembali lagi ke rumah, yang namanya air mata tidak kunjung berhenti. Apalagi saat prosesi pernikahan di gereja (kami keluarga Kristiani yang fanatik dan kuat). Semenjak itulah, saya memutuskan tidak lagi mengingatnya. Saya membulatkan tekadharus mandiri, tanpa dukungan orang lain. Semua berjalan seiring waktu, kami tak pernah kontak lagi sampai saya pun kemudian menikah. Pernikahan saya sempat tidak direstui keluarga, karena kami lain agama, dan kalau tidak karena saya hamil mungkin orang tua tidak bakal merestui. Sekarang semua sudah berlalu, rumah tangga kami kini baik-baik saja, orang tua juga sudah bisa menerima menantunya (meski mungkin sangat terpaksa). Saya dan "kakak" jarang sekali bertemu. Paling kalau ada perhelatan besar di keluarga besar kami baru bertemu, itu pun just say hello tanpa pernah mengungkit masa lalu. Sampai di akhir Januari lalu, saya jatuh sakit. Cukup parah dan saya sendiri sempat syok berat begitu dokter memvonis saya mengidap penyakit ini. Di tengah kekalutan, kekacauan hati, tiba-tiba saya teringat kembali pada sosok "kakak" yang pernah saya punyai. Saya hubungi dia lewat SMS, dan itulah awal kedekatan kami kembali. Respons dia sangat luar biasa dan di luar dugaan saya. Sejak itu, tiada hari tanpa SMS darinya. Jam 11 malam pun dia SMS sekedar mengucapkan, "Good Night, kamu harus kuat." Pagi saat bangun, dia pun pasti langsung SMS. Lalu, kami sepakat bertemu karena kebetulan saya harus menjalani pemeriksaaan di kota di mana ia tinggal. Dia menawarkan saya tinggal di rumahnya. Saya terima, karena secara teknis menguntungkan saya. Suami dan orang tua saya pun setuju. Bu, saya laksana anak belasan tahun yang tengah jatuh cinta. Hubungan saya dengan istrinya juga baik-baik saja. Setiap saya check up, "kakak" menemani saya. Di saat saya kesakitan, ia menghibur. Itu pun tanpa istrinya. Bagaimana saya tidak serasa melayang mendapat perlakuan seperti itu, Bu?Dia tetap kirimi saya SMS setiap malam, dan kami mengobrol sampai larut malam. Padahal kami cuma beda kamar. Apakah dia mengasihani saya karena umur saya tidak lama lagi? Dia bilang sejak dulu mencintai saya, tapi tidak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Dan suatu malam, untuk pertama kalinya ia mengatakan "I love you." Saya lebih syok lagi mendengar kami dulu sebetulnya sudah dijodohkan. Orang tua saya amat berharap dia mau jadi menantunya, juga sebaliknya, tapi karena salah seorang kakaknya tidak setuju, maka orang tua saya tak meneruskannya. Dia sendiri baru tahu setelah menikah. Bu, dia kemudian memeluk, mencium saya, dengan rasa yang berbeda. Semua itu dia lakukan tanpa sepengetahuan istrinya. Apakah ini sudah dapat dikatakan perselingkuhan? (ya, tentu saja, RH). Saat perawatan sudah usai dan saya harus kembali, ada ketakutan yang teramat sangat. Takut kehilangan! Malam sebelum saya pulang, kami sama-sama tidak tidur sampai pagi. Tengah malam, dia SMS saya dan bilang menunggu saya di luar. Saya bingung dan takut. Bagaimana mungkin saya melakukan itu sementara istrinya terlelap. Namun, akhirnya saya keluar juga untuk pamit dan mengucapkan terima kasih padanya. Malam itu, kami hanya duduk berhadapan tanpa bisa bicara apa-apa. Kami sama-sama hanyut dalam tangisan. Kami berpelukan, erat sekali. Entah berapa kali dia ucapkan "Saya mencintai kamu" malam itu. Sekarang saya sudah kembali ke istana saya bersama suami dan anak-anak yang mencintai saya. Tapi sekarang ada bayangan lain yang kerap hadir dan mengganggu, Bu. Sejak malam itu, kami masih tetap berhubungan via SMS. Malah makin parah daripada sebelumnya. Suami tahu saya sering SMS-an dengan "kakak" dan ia oke saja. Perlu Ibu ketahui, saya dan suami bekerja di bidang entertainmen, sehingga kecemburuan jarang sekali ada. Prinsip kepercayaan kami junjung tinggi. Yang lebih parah, pihak keluarga sangat mendukung kedekatan kami kembali (walaupun tanpa tendensi apa-apa). Orang tua saya malah menitipkan saya pada "kakak." Bu, saya sangat butuh dia untuk menyemangati saya, menguatkan hati saya. Serakahkah saya, Bu? Saya butuh dan tidak ingin kehilangan keduanya. Mereka punya arti berbeda tapi sama dalam hidup saya. Tolonglah saya menemukan sikap yang terbaik. Terima kasih. X - Somewhere

Bu X yang terhormat, Saya yakin Anda tidak menyurati saya dengan harapan saya akan memberikan pembenaran pada apa yang Anda lakukan kini, atas nama apa pun! Bahkan, ketika umur kita tinggal beberapa tarikan napas pun, yang tidak diizinkan oleh ajaran agama, tidak akan berubah menjadi "boleh dilakukan," bukan?

Saya ingin sekali mengajak Anda menelaah, mengapa emosi mengalahkan akal sehat Anda. Rasanya, bertambahnya usia belum berperan banyak pada bertambahnya kematangan kepribadian Anda. Kebetulan, ada faktor pencetus yang relatif "hebat," sehingga dampaknya juga terasa seru.

Bayangkan saja, bertemu dalam keadaan sakit yang tak tersembuhkan, ternyata "kakak" sangat memerhatikan Anda, lalu "old flame" alias api cinta yang lama berkobar lagi dan terasa makin seru karena masing-masing sudah terikat dalam perkawinan!

Sisi intelegensi Anda saya rasa berada di taraf yang cukup tinggi. Cara Anda bercerita menunjukkan Anda punya cara berpikir yang runtut, sistematis, dan logis. Saya harus katakan, orang seperti Anda, bila tak dibarengi pemilikan norma dan nilai kehidupan yang jelas dan (lebih penting lagi) benar, akan mudah sekali mencari pembenaran atas apa-apa yang ingin dilakukan, serta berani pula menanggung risiko untuk "melawan arus" dalam arti tampil beda. Alasan yang paling umum dipakai biasanya adalah: "Yang penting saya tidak mengganggu orang lain."

Kenapa Anda merasa cocok sekali dengan "sang kakak"? Rupanya ada banyak hal yang bisa dicari persamaannya. Bukankah Anda dan dia sama-sama menikah karena kecelakaan? Sama-sama menikmati hal-hal terlarang demi pemuasan syahwati? Dengan memohon maaf, ingin saya ingatkan bahwa untuk tetap berada pada posisi pembuatan keputusan yang tidak mengedepankan emosi dan memporak-porandakan akal sehat (seperti istilah Anda), landasan utama yang harus dan mesti ada sebenarnya adalah agama, Bu.

Di dalam setiap aspek kehidupan kita, termasuk di dalamnya perkawinan, titik inilah justru kerawanan Anda berada. Bisa saja Anda mengatakan keluarga Anda fanatik dan kuat, tetapi nyatanya dalam rentang kehidupan hingga kini, hal itu tidak tercermin pada keputusan penting yang Anda buat dalam menapakinya. Sudah di masa muda Anda menikah karena kecelakaan, Anda tetap berbeda keyakinan dengan suami walau sudah punya 2 anak, dan yang paling mutakhir, walaupun Anda katakan suami adalah the best yang bisa Anda miliki, ternyata Anda khianati juga kepercayaannya.

Seorang dikatakan fanatik beragama bila ia memiliki keyakinan penuh atas apa yang dikatakan sebagai kebenaran, kebaikan dan keburukan, serta apa yang disuruh dan dilarang agamanya. Nah, silakan periksa diri, apakah kriteria ini "masuk" bila dilekatkan pada diri dan perilaku Anda selama ini?

Secara psikologis, kebutuhan Anda untuk memperoleh penguatan dari sosok lain di sekitar Anda, selain orang tua dan suami, sebenarnya amat dapat dipahami. Seseorang yang divonis mengidap penyakit yang membuatnya merasa dekat dengan kematian, biasanya merasa lemah, sendirian, dan amat sensitif terhadap bentuk-bentuk perhatian dan sikap peduli lingkungannya. Tetapi, bila ini lalu dibarengi oleh pemahaman dan keyakinan kuat bahwa dalam kondisi apa pun manusia harus hidup di relalias jalur yang sesuai dengan ajaran agamanya, maka ia tidak perlu terjerumus ke dalam perselingkuhan, bukan?

Mudah-mudahan Anda sepakat dengan saya, setiap manusia yang hidup di dunia ini sebenarnya setiap saat justru bergerak menjauhi kehidupan, karena ia makin mendekat pada kematiannya. Maka, bila ia percaya akan ada kehidupan setelah mati, sebuah kehidupan di mana manusia sudah tak punya peluang lagi untuk berbuat amal kebaikan, niscaya setiap kesempatan akan ia pakai untuk memperbanyak "tabungan"nya.

Bila Anda katakan, "kan saya tidak berhubungan intim?", pada hemat saya, begitu perempuan merasa nyaman saat berinteraksi dengan laki-laki yang bukan suaminya, ia sudah mulai melakukan perselingkuhan. Tingkat keparahannya bertambah bila intensitas hubungannya makin teratur dan seperti yang Anda katakan, kebutuhan untuk terus berhubungan lalu makin meningkat pula.

Anda sudah tahu melakukan semua ini berarti akan berpeluang buruk bagi kelangsungan rumah tangga Anda, batin Anda akan makin tidak tenang karena gejolak antara rasa senang berlawanan dengan rasa bersalah di dalam diri. Anda juga sudah tahu, kok, yang bisa menghentikan ini semua adalah Anda sendiri.

Saya tak mau membuang waktu bicara tentang "kakak" Anda itu, karena saya berpendapat laki-laki tidak akan bisa melanjutkan "serangan-serangan" dan rayuan gombalnya kalau perempuan tidak memberi respons. Minta ampun pada Tuhan sekaligus kesembuhan untuk penyakit Anda. Kalau saya jadi Anda, akan saya buang kartu telepon saya dan saya ganti yang baru, lalu saya tolak semua upayanya menghubungi saya!

Dekatkan diri terus kepada Tuhan, sambil mensyukuri hari-hari dalam kehidupan yang masih bisa Anda nikmati, karena ini berarti Anda masih diberi kesempatan memperbanyak amal kebaikan Anda. Kalau ini masih belum cukup kuat untuk memotivasi diri, ada satu cara lagi yang saya anjurkan.

Berdiam dirilah sejenak dan bayangkan bila Anda sudah meninggalkan dunia yang fana ini, dengan cara apa Anda ingin dikenang oleh orang-orang terdekat Anda? Suami, anak-anak, dan orang tua Anda? Bagaimana rasanya kalau anak Anda pada suatu hari di dalam hidupnya akan menjawab seperti ini: "Memang, sih dia ibu saya, tapi saya tidak bangga padanya, karena hidupnya tidak diwarnai oleh ketaatan beragama. Dia begini dan begitu, yang isinya dosaaa melulu."

Tidak nyaman, kan, Bu? Apalagi untuk yang masih hidup di dunia ini. Nah, buatlah "rekaman kehidupan" yang diwarnai keindahan budi pekerti dan kasih sayang yang tulus, sehingga bila Anda kelak meninggal dunia, orang-orang terdekat Anda akan mengenang Anda dengan penuh cinta dan air mata kerinduan, karena yang muncul di ingatan mereka adalah ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya dan istri yang menjunjung tinggi kesetiaannya pada sang suami.

Pilihannya ada pada Anda, Bu X. The Choise is yours ...Salam sayang. 

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...