Jumat, 15 Oktober 2010

Motivasi ~ Kisah Orang Utan, Orang Desa dan Orang Kota

Kawan, pernahkah engkau pergi ke pusat2 perbelanjaan, ke mal2 dan
lihatah betapa besar, penuh barang2 dan manusia di sana? Tiada hari
yang tiada ramai, dan tiada hari yang tiada memerlukan segala macam
kebutuhan. Pernahkah engkau pikirkan, mengapa kita manusia modern ini merasa memerlukan sangat banyak kebutuhan? Pernahkah engkau bandingkan kehidupan kita (orang kota) yang begitu banyak memiliki kebutuhan, dengan kehidupan orang2 desa yang sederhana, yang tak pernah terlalu sibuk untuk menikmati mekarnya mawar, atau mencium wanginya bunga kopi yang sedang merekah, atau wangi tanah kemarau yang tersiram hujan disenja hari?

Tampak jelas sekali dari begitu besarnya pusat2 perbelanjaan, dari
begitu banyaknya barang2 yang diperjualbelikan, orang2 kota spt kita
ini seakan2 tiada habis2nya memiliki kebutuhan. Dari kebutuhan dasar
berupa makan-minum, pakaian dan tempat tinggal, kita beranjak menuju kebutuhan2 lain semacam hiburan (kehidupan kota membuat kita stress), perawatan tubuh (polusi kota menyebabkan tubuh kita mudah menua dan mudah sakit) pendidikan (persaingan yang ketat cuma menyisakan mereka yang kuat), aksesoris (penampilan luar adalah nilai utama, soal mutu bisa direkayasa), transportasi, komunikasi..dsb.

Kawan, kita sering melihat di kota mana pun, selalu ada kesibukan yang luar biasa. Lalu lintas macet karena banyaknya mobil, meskipun jalan raya sudah di buat sampai bertingkat-tingkat dan selebar-lebarnya.
Pabrik-pabrik beroperasi sepanjang hari, menghasilkan barang2 yang
kita anggap sebagai kebutuhan. Orang-orang hilir mudik, dan semuanya tampak sibuk.

Mengapa kita demikian sibuk, kawan? Apa yang kita cari? Harta benda? Uang, uang, uang? Gengsi dan kehormatan kelas? Kenikmatan hidup atawa hedonisme? Bukankah untuk mencapai tujuan sejati manusia-kebahagiaan-kita tidak butuh tetek bengek sebanyak itu?
Bukankah semua yang kita anggap sebagai kebutuhan, sesungguhnya cuma prioritas terendah dari kehidupan yang sebenarnya?

Kawan, satu hari saya melihat seekor orang utan sedang duduk santai
sambil makan sebuah pisang. Terlihat betapa sederhananya kehidupannya.
Dia tak membutuhkan apa pun selain makan, atap untuk berteduh, dan rasa aman bagi diri dan kelompoknya untuk mencari makan, beristirahat, dan berkembang biak.

Pernahkan engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan sebuah mobil, rumah berikut kolam renang ukuran olympic, pergi ke salon perawatan? Atau pernahkah engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan komputer dan akses internet, atau segala macam tetek bengek benda2 yang kita anggap sebagai kebutuhan padahal sebenarnya tidak?

Kawan, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mengajak anda untuk
menjadi orang utan, hidup cuma untuk makan dan berkembang biak. Saya cuma ingin kita coba merenung sejenak, mengapa dari hari ke hari kita selalu sibuk mencari nafkah, selalu tampak tergesa-gesa mengejar kesempatan, dan selalu tiada habis2nya memiliki kebutuhan2 yang tiba2 muncul untuk dipenuhi?

Renungkanlah, mengapa kita semakin menjadi budak dari rutinitas kita
sendiri. Pagi bangun bersiap2 untuk kerja, sarapan dengan terburu-buru karena takut macet di jalan, kerja keras demi meningkatkan prestasi dan ujung2 demi uang yang lebih banyak lagi..lebih banyak lagi.dan lebih banyak lagi, untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang muncul dengan tiba2, merengek2 minta dipenuhi. Bukankah keadaan spt ini tiada berbeda dengan kondisi seorang pecandu putauw?

Renungkanlah, mengapa dari hari ke hari kita semakin menjadi budak
dari keinginan kita sendiri. Didorong oleh segala macam godaan
duniawi, kebutuhan semu yang diciptakan oleh iklan2 yang menampilkan gaya hidup semu oleh bintang2 yang juga semu, betapa makin kaburnya pengertian kita akan bedanya kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan kawan, ada batasnya. Tetapi keinginan, sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan batasnya.

Kita bukan robot kawan, dan kita bukan budak siapa pun. Jangan biarkan diri kita diperobot dan diperbudak oleh sesatnya nilai2 materialisme dan hedonisme. Jangan biarkan remote control diri kita berada di tangan tuan rutinitas, tuan materialisme dan nyonya hedonisme. Mari kita bentengi diri kita dengan kebijaksanaan untuk dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Cinta ~ Kisah Cinta gadis bugis yang berakhir dengan tragis

Aku menatap ibuku. Wanita yang telah membesarkanku dengan kasih sayang. Tangannya yang telah berkerut dimakan usia membelai rambut panjangku. Sorot matanya memencarkan sebuah harapan besar kepadaku. Aku tertunduk. Pandanganku menyapu lantai kamar. Detik berikutnya air mataku berderai.

Betapa beratnya untukku mengabulkan permintaanya. Selama ini ibuku tidak pernah mengharapkan apa-apa dariku. Selama ini dia mengorbankan apa yang ada padanya agar aku bisa tetap kuliah hingga selesai. Namun setelah aku menjadi seorang sarjana dengan perjuangan yang berat di tanah perantauan, aku harus mengubur dalam-dalam impianku untuk menjadi seorang insiyur.

“Ibu tidak punya pilihan lain,” suaranya yang serak menghembus ke dinding telingaku.

Air mataku terus mengalir tak tertahan lagi.

“Ibu berharap kamu setuju,” ucapnya dengan dialek bugis yang kental.

“Ibu mungkin tidak punya pilihan tapi saya punya hak untuk memilih,” kataku diantara isak tangis.

“Ayahmu sudah memutuskan semuanya. Sudah tidak ada lagi gunanya kita bersuara. Kamu tahu sendiri ayahmu. Dia tidak mungkin akan merubah keputusannya.”

“Aku tidak mencintainya, bu! Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya.”

“Ibu juga dulu menikah dengan ayahmu karena dipaksa. Tapi kami bisa hidup rukun sampai sekarang.”

“Tapi itu dulu, bu. Sekarang zaman sudah berubah.”

“Zaman bisa berubah tapi ada yang tidak pernah bisa berubah. Cinta. Kamu bisa mencintainya setelah kalian hidup bersama nanti. Seperti ibu dan ayahmu dulu,” kata ibuku yang pensiunan guru SD.

“Aku mencintai orang lain, bu. Kami sudah berjanji untuk sehidup dan semati.”

“Hidup dan mati ditangan Tuhan, nak. Kamu tahu kalau kamu menolak pinangan ini maka harga diri keluarga kita akan hilang.”

Aku sudah kehabisan kata-kata untuk kujadikan untaian kalimat yang dapat menggambarkan isi hatiku. Aku merebahkan diriku di pembaringan. Aku terlelap dalam tangisan panjang. Dulu aku selalu menolak semua lamaran pria yang ingin menjadikanku sebagai pendamping hidup mereka. Bahkan sejak aku lulus SD ada yang berani melamarku tapi alasanku menolak mereka karena aku masih ingin sekolah. Namun sekarang… Aku tidak bisa lagi menolak karena lamaran telah diterima oleh ayahku tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu

#####

“Aku mencintaimu, Ana.”

Kalimat itu kembali diucapkannya. Meski lewat ponsel tapi aku bisa merasakan kejujurannya.

“Aku juga. Tapi kamu tahu sendiri, aku tidak mungkin mengubah semua rencana keluargaku.”

“Aku tidak akan menikah selain dengan dirimu,” ucap Dewantara dengan tegas.

Aku hanya diam.

“Cintaku padamu bukan cinta tersisa. Aku tidak sempurna tapi aku mencintaimu dalam kesempurnaan. Cintaku padamu tak akan pernah kering selama samudera tetap berombak. Cintaku padamu tak akan pernah berubah sekalipun tubuhku menyatu dengan tanah.”

“Aku tahu itu! Aku percaya!”

Tak ada suara. Aku menatap sang purnama lewat daun jendela kamarku. Sinarnya memancarkan keindahan ditengah kegundahan hatiku.

“Kita kawin lari saja, Ana!”

“Tara! Itu tidak mungkin. Itu aib bagi keluargaku.”

“Kita tidak ada pilihan lain.”

Aku menghembuskan nafasku dengan berat diantara dinginnya angin malam. Kenapa hidup harus memilih? Kenapa setiap pilihan yang ada selalu berat dan sulit untuk diputuskan? Meski aku tahu jawabannya, aku tetap bertanya dalam hati. Hidup penuh dengan resiko. Setiap pilihan penuh dengan resiko. Tapi bukan hidup namanya kalau tidak ada resiko didalamnya. Resiko dari hidup adalah meninggal dunia. Resiko dari usaha adalah kegagalan. Resiko dari mencintai adalah tidak bisa memiliki seutuhnya orang yang kita cintai.

“Aku berjanji padamu, kita akan bersama satu satu hari nanti.”

“Tapi sampai kapan aku harus menunggu?”

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Dewantara. Tuhankah aku sehinga aku mengetahui apa yang akan terjadi besok? Aku hanya seorang gadis Bugis yang terikat dengan adat istiadat.

“Aku percaya kita akan bersama meski aku sendiri tidak tahu kapan waktunya. Aku hanya menggantungkan pengharapanku kepada Yang Maha Kuasa.”

Aku menutup pembicaraan hari itu dengan sebuah undangan agar Dewantara hadir di hari pernikahanku nanti. Aku tahu itu akan menyakiti hatinya.

######

Air mataku tak terbendung lagi saat melihat Dewantara hadir dipernikahanku. Betapa hancurnya hatinya ketika melihatku bersanding dengan pria lain. Dengan pria yang hampir seusia ayahku. Kalau saja pria itu bukan orang kaya dan terpandang, ayahku tidak mungkin akan menerima pinangannya. Apa lagi uang maharnya yang sangat besar. Aku masih beruntung karena masih memiliki kesempatan kuliah. Sementara banyak gadis Bugis lainnya menikah di usia yang sangat dini. Bahkan anak tetanggaku sendiri, terpaksa berhenti sekolah karena ada yang melamarnya. Dia hanya lulusan SD saja. Haknya untuk meraih cita-citanya dipasung oleh ego orang tuanya.

Betapa sulitnya menjadi gadis Bugis sepertiku. Gadis yang hanya dipandang sebagai pelayan untuk suaminya dan alat untuk melahirkan ahli waris bagi suaminya. Aku tersenyum bahagia jika melihat ada gadis bugis yang berhasil meraih cita-citanya meski kadang merasakan perihnya dijuluki perawan tua oleh ibu-ibu penggosip yang hidup seperti tempurung dalam kelapa karena tak pernah melihat dunia luar.

Dari kecil aku memegang prinsip “Maradeka Towajoe Adena Napopuang” ( *Artinya secara bebas :maradeka to wajoe –>> bahwa orang wajo itu merdeka, adena napopuang –>> hanya ade(konstitusi) yang dipertuan. Wajo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan.) Ketika aku diperhadapkan antara cinta, cita-cita dan keluarga yang menjunjung tinggi adat istiadat aku ingin memilih meraih cita-citaku lalu menggapai cinta. Tapi sayang aku tidak bisa memilih.

Setelah melakukan semua ritual adat pernikahan aku sudah memutuskan. Keputusanku tak akan bisa berubah lagi. Hanya aku, Dewantara dan Tuhan yang tahu keputusan yang telah kubuat. Aku sudah melakukan bagianku sebagai seorang anak dengan mengikuti keinginan kedua orang tuaku dan sekarang aku ingin mengikuti kata hatiku. Hati yang penuh dengan cinta. Aku berharap keputusan dan kenekatanku kaan menjadi pelajaran bagi banyak orang. Aku tidak akan menyerahkan keperawananku kepada orang tidak aku cintai meski dia suamiku sendiri.

######

Aku terus berlari bersama Dewantara diantara gelapnya malam. Jantungku berdetak dengan kencang. Aku sudah kelelahan berlari menelusuri hutan hampir dua jam menelusuri hutan. Apa lagi resepsi pernikahan telah menguras banyak tenagaku. Akhirnya aku dan Dewantara memutuskan berhenti sejenak.

“Menyerahlah kalian,” teriak seseorang yang kukenal. Itu suara ayahku. Terdengar lolongan anjing pemburu diantara suara langkah kaki orang banyak. Aku tidak tahu pasti berapa jumlah orang yang mengejarku dan Dewantara.

Aku menatap Dewantara dalam ketakutan. Dia hanya tersenyum. Sebuah senyuman pahit. Dia menarik tanganku dan mengajakku berlari. Kami terus berlari dan dikejar oleh orang sekampung. Rasa lelahku hilang seketika dan bergantikan ketakutan. Lankah kaki kami berhenti. Tak ada lagi tanah yang bisa kami pijak. Dihadapan kami berdua menganga sebuah jurang yang dalam. Aku memalingkan kepalaku ke belakang. Ayahku dan kawanannya semakin mendekat. Aku kembali menatap Dewantara diantara nafasku yang memburu.

Dewantara memelukku. Pelukan yang membuatku damai. Aku menatap kilauan badik yang terpantul sinar bulan digenggaman ayahku yang berjarak beberapa puluh meter dari tempatku dan Dewantara berdiri.

“Kita sudah mengikrarkan janji setia sehidup semati. Hari ini ikrar itu akan terkabulkan,” ucap Dewantara pelan dan lembut di daun telingaku.

Kami saling bertatapan. Sorot matanya tak pernah berubah semenjak aku mengenalnya pertama kali. Tatapan yang selalu dan selalu saja menggetarkan hatiku.

“Tidak ada yang mampu memisahkan kita selain maut karena cinta kuat seperti maut,” balasku.

“Menyerahlah kalian!”

Detik berikutnya aku dan Dewantara berlari sekuat tenaga sambil berpegangan tangan. Jurang tajam menjadi saksi bisu kekuatan cintaku kepada Dewantara. Waktu seakan berhenti ketika melintasi ruang kosong yang menjatuhkan berat badanku. Waktu benar-benar berhenti ketika tubuhku terhempas dibebatuan raksasa. Tak ada kesempatan lagi untukku mengucapkan kata cinta. Tak ada penyesalan yang ada sebuah kisah tragis.

Motivasi ~ Pengorbanan Seorang Ibu

Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayiyang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.” Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan padanya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorangyang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapayang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah… bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekalibisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.



Kamis, 14 Oktober 2010

Keluarga ~ Ibuku Seorang Pembohong


oleh Taufik Hidayat pada 15 Oktober 2010 jam 9:43

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.



Humor ~ WANITA MEMANG SUSAH DIBUAT “BAHAGIA” !!


oleh Taufik Hidayat pada 15 Oktober 2010 jam 9:19

WANITA MEMANG SUSAH DIBUAT “BAHAGIA” !!

Jika dikatakan cantik dikira menggoda ,

jika dibilang jelek di sangka menghina.

Bila dibilang lemah dia protes,

bila dibilang perkasa dia nangis .

Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak.

(sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)

Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut.

(sambil ngomel,Egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan)

Jika di tanyakan siapa yang paling dibanggakan, kebanyakan bilang Ibunya ,tapi kenapa ya ….

. lebih bangga jadi wanita karir, padahal ibunya adalah ibu rumah tangga.

Bila kesalahannya diingatkankan, mukanya merah.. bila di ajari mukanya merah, bila di sanjung mukanya merah jika marah mukanya merah,kok sama semua ? bingung !!

Di tanya ya atau tidak, jawabnya diam; ditanya tidak atau ya, jawabnya diam; ditanya ya atau ya, jawabnya :diam, ditanya tidak atau tidak, jawabnya ; diam,

ketika didiamkan malah marah (repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya).

Di bilang ceriwis marah, dibilang berisik ngambek, dibilang banyak mulut tersinggung, tapi kalau dibilang S u p e l wadow seneng banget..padahal sama saja maksudnya.

Dibilang gemuk engga senang padahal maksud kita sehat gitu lho dibilang kurus malah senang padahal maksud kita “kenapa elho jadi begini !!!” Itulah WANITA makin kita bingung ....makin senang DIA !!

Keluarga ~ Sebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku


oleh Taufik Hidayat pada 15 Oktober 2010 jam 7:48

Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.

Anak kami sedang belajar di luar negeri. kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.

Dewi hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.

Dewi berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.”

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.”

Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?. Aku ada sedikit urusan dikantor”

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.

Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? “

Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa mbayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.”

Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.

Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,”Ada sesuatu yang harus kukatakan”

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.

“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut,”kenapa?”

“Aku serius.”

Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”.

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkimpoian kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..

Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.

Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.

Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?”

Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.

Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.”

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkimpoiannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh.

Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,”Wah, papa membopong mama, mesra sekali”

Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita.”

Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana.”

Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk.

Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,”Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok.

Lalu ia melihat,”Semua pakaianku kebesaran”.

Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.

Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.

“Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”

Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.

Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.

Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”.

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.

“Kamu tidak demam”.

Kutepiskan tanganya dari dahiku “Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”

Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.

Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”



Rabu, 13 Oktober 2010

Cinta ~ Jeritan Hati Kaum Laki laki


oleh Taufik Hidayat pada 14 Oktober 2010 jam 10:15

Selama ini yang sering diungkap selalu tentang Girls Rulez, kini saatnya kami para Pria mengungkapkan isi hati kami.

Ini adalah cerita dari sisi kami, Kaum Cowok!! Kaum adam!! Aturan kami!!

Untuk para cewek2…

1. Tidak Semua cowok seperti Dedy Cobuzer.

Jadi jangan harap kami bisa membaca isi pikiranmu disaat kamu manyun tanpa suara. Apa susahnya sih bilang : “Aku Laper, Aku minta dibeliin pakaian, Tolong Rayu Aku…!!”

2. Hari Minggu itu waktunya istirahat setelah 6 hari bekerja, jadi jangan harap kami mau menemani seharian jalan2 ke mall.

3. Berbelanja BUKAN olahraga. Dan kami gak akan berpikir ke arah situ.

Bagi kami belanja ya belanja, kalau sudah pas ya beli saja, perbedaan harga toko A dan B cuma 1,000 perak jadi nggak usah keliling kota untuk cari yang paling murah, buang2 bensin aja.

4. Menangis merupakan suatu pemerasan.

Lebih baik kami mendengar suara petir, guntur , bom meledak daripada suara tangisanmu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa2.

5. Tanya apa yang kamu mau. Cobalah untuk sepaham tentang hal ini.

Sindiran halus tidak akan dimengerti. Sindiran kasar tak akan dimengerti Terang2an menyindir juga kita gak ngerti! Ngomong langsung kenapa!?

6. Ya dan Tidak adalah jawaban yang paling dapat diterima hampir semua pertanyaan. It’s Simple.!!

7. Cerita ke kami kalo mau masalah kamu diselesaikan.

Karena itu yang kami lakukan.. Pengen dapet simpati doang sih, cerita aja ke temen2 cewekmu.

8.. Sakit kepala selama 17 bulan adalah penyakit. Pergi ke dokter sana !

9. Semua yang kami katakan 6 bulan lalu gak bisa dipertimbangkan dalam suatu argumen. Sebenernya, semua komentar jadi gak berlaku dan batal setelah 7 hari. Janji kami untuk menyebrangi lautan dan mendaki gunung itu hanyalah klise, jangan dianggap serius.

10. Kalo kamu gak mau pake baju kayak model2 pakaian dalam, jangan harap kita seperti artis sinetron dong.

11. Kalo kamu pikir kamu gendut, mungkin aja. Jangan tanya kami dong. Cermin lebih jujur daripada Lelaki.

12. Kamu boleh meminta kami untuk melakukan sesuatu atau menyuruh kami menyelesaikannya dengan cara kamu. Tapi jangan dua2nya dong. Kalo kamu pikir bisa melakukannya lebih baik, kerjain aja sendiri.

13. Kalau bisa, ngomongin apa yang harus kamu omongin pas iklan aja.

Ingat, jangan sekali2 ngomong apalagi pas saat tendangan finalty.

14. Kami bukan anak kecil lagi, jadi tak perlu mengingatkan jangan lupa makan, selamat tidur, dll. Menurut kami itu hanyalah pemborosan pulsa saja.

15. Kalo gatel kan bisa digaruk sendiri. Kami juga kok.

16. Kalo kami nanya ada apa dan kamu jawab gak ada apa2, kami akan berpikir memang gak ada apa2. Ingat, seperti no.1 kami bukanlah pembaca pikiran. Ngomong baby…ngomong. …!!

17. Kalo kita berdua harus pergi ke suatu tempat, pakaian apapun yang kamu pakai, pantes aja kok. Bener. Jadi tidak ada alasan gak mau pergi ke pesta karena tidak ada baju.

18. Jangan tanya apa yang kami pikir tentang sesuatu kecuali kamu memang mau diskusi tentang bola, game, billyard, memancing atau mungkin juga ttg teknik mereparasi mobil.

19. Kami malas berdebat secara hati dan perasaan, ingat!! kami hanya pakai logika.

20. Terima kasih sudah mau baca ini. Iya, aku akan tidur di sofa nanti



Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...