Rabu, 26 Oktober 2011

AMNE MACHEN GUNUNG SILUMAN PENEBAR KUTUKAN

Gunung ini disebutkan sebagai yang tertinggi di dunia. Namun, tak semua orang yang bisa melihatnya. Malah celakanya, mereka yang melihat gunung ini akan mati secara misterius....

Menurut sebuah sumber yang sangat terpercaya, di wilayah perbatasan antara Tibet dan Cina, terdapat sebuah gunung siluman yang sangat misterius. Dikatakan misterius, karena gunung ini benar-benar aneh bin ajaib.
Namanya Gunung Amne Machen. Gunung yang hanya memperlihatkan diri sewaktu-waktu ini telah lama menggoda banyak kalangan untuk membuktikannya. Anehnya, Gunung ini diyakini hanya akan menampakkan wujudnya kepada orang-orang tertentu saja. Konon, Amne Machen ini seribu kaki lebih tinggi dari Mount Everest, puncak tertinggi di dunia.
Seperti kita ketahui, Mount Everst yang sendiri terdapat di pegunungan Himalaya, yang dianggap sebagai gunung paling tinggi di dunia. Jadi dapat dibayangkan, betapa tingginya Gunung Amne Machen itu.
Penduduk di sekitar lereng Himalaya yang pada umumnya akan enggan untuk mempercakapkan gunung yang satu ini. Pasalnya mereka takut kualat, karena Amne Machen dianggap sebagai gunung angker penebar kutukan. Mereka meyakini, siapa yang sempat melihat keberadaan Amne Machen, maka tidak lama kemudian dia akan mengalami malapetaka yang sangat tragis. Lebih-lebih bila yang melihat itu adalah orang kulit putih atau orang Barat.
Menurut sebuah cerita, Jenderal Pereira, tentara Inggris yang sudah purnawirawan, mati mendadak tidak lama setelah dia melihat Gunung Amne Machen.
Dikisahkan, dalam perjalanan dari Shanghai menuju Laut Kaspia, Pereira sempat singgah hingga beberapa lama di dataran Tibet. Di sini dia mendengar tentang gunung aneh Amne Machen. Karena sangat penasaran, Pereira bertekad untuk mencarinya sampai ketemu. Dia bahkan bersumpah tidak akan pulang ke negaranya sebelum membuktikan sendiri cerita kuno yang telah tumbuh secara turun-temurun itu.
Setelah beberapa lama, apa yang didambakannya itu jadi kenyataan juga. Pada suatu hari, Pereira berhasil melihat Gunung Amne Machen pada jarak ratusan mil dari suatu tempat yang tinggi di sebuah bukit di sekitar Himalaya. Menjulang ribuan kaki ke atas, dinding gundul sebuah gunung raksasa terlihat berselimutkan awan.
Menurut catatan Pereira, gunung tersebut tmapak sedemikian tinggi, sehingga dalam menatapnya Pereira seperti kehilangan nafas, sehingga dia meyakini bahwa gunung ini tingginya memang sangat sulit dibayangkan atau diukur. Apalagi sebelum melihat pemandangan ini, Pereira adalah seorang yang pernah menjelajahi banyak benua. Dia pernah menyaksikan Canadian Rockies, pernah mendaki puncak Himalaya, bahkan juga pernah menagkulan pegunungan Andes di Amerika Selatan yang bersuhu sangat ganas itu.
Namun tak ada yang membuatnya gugup sampai sedemikian rupa dan takjub luar biasa, seperti pada saat dirinya melihat Amne Machen. Bahkan dalam catatannya, Pereira memastikan bahwa itu adalah gunung yang paling hebat di antara gunung-gunung yang pernah disaksikannya.
Segera melihat dengan mata kepala sendiri betapa hebatnya Gunung Amne Machen, Pereira memutuskan untuk segera pulang ke Inggris, dan kemudian berencana menyelenggarakan suatu ekspedisi sendiri. Dia sudah begitu gembira dengan harapan akan dapat termasyhur dengan penemuan terbesar dalam abad ini, sehingga sama sekali melupakan peringatan penduduk setempat tentang kutukan gunung siluman itu.
Sebelum terbang ke Inggris, persisnya tatkala Pereira tiba di sebuah dusun yang terletak di perbatasan Tibet dan Cina, berjumpalah Pereira dengan pengelana tersohor dari Amerika, Joseph Rock. Diutarakannya kepada Rock tentang apa yang telah disaksikannya itu. Mendengar cerita Pereira yang tampak sangat bombabtis, orang Amerika tersebut tidak percaya.
Barulah setelah lama berbincang tentang masalah itu, dan Pereira bersumpah tentang apa yang telah disaksikannya, akhirnya Rock yakin bahwa Pereira memang telah menemukan sesuatu yang luar biasa. Pada keesokan paginya Pereira bertolak menuju daerah pantai dalam perjalanan pulanngya.
Namun kemudian datanglah musibah itu. Beberapa jam setelah meninggalkan wilayah Tibet dan bersama serombongan pedagang menempuh perjalanan di negeri Cina, Pereira mendadak meninggal dunia. Dia terjungkal jatuh dari atas kudanya, dan kedua tangannya menekan dada pada arah jantungnya. Sekonyong-konyong dia berpaling ke belakang dan memandang ke arah Tibet, kemudian sekarat dan mati.
Apakah kutukan gunung Amne Machen yang menewaskannya? Tentu saja begitulah pendapat orang-orang Tibet dan Cina. Para saudagar yang mendengar bahwa Pereira pernah menyaksikan gunung itu, tak seorang yang mau menjamah tubuhnya. Mereka membiarkan saja mayatnya tergeletak di situ, dan selanjutnya melaporkan kematiannya kepada seorang penginjil Inggris, yang kemudian mengusahakan pemakaman Jenderal Pereira.
Setiap orang yang kenal dengan Jenderal pensiunan Inggris itu, merasa heran dengan kematiannya yang disebabkan oleh penyakit jantung. Soalnya pada masa hidupnya, Pereira selalu sehat dan penuh gairah.
Tatkala memulai perjalanannya yang jauh, dia baru saja melampaui usia 40 tahun. Tak seorangpun dia ntara mereka yang mempercayai bahwa Pereira mati terbunuh oleh suatu kutukan.
Juga, tak seorang pun orang di luar Tibet dan Cina yang percaya pada dongeng mengenai gunung angker itu, sampai kemudian dalam perang dunia kedua disebutkan ada beberapa pilot pesawat termput yang telah melihat gunung tersebut. Dalam laporan itu dikatakan bahwa mereka nyaris menabrak sebuah gunung misterius, yang berada di perbatasan antara Tibet dan Cina.
Untungnya, mereka dapat menghindarkan pesawatnya, sehingga kecelakaan bisa terelakkan. Mereka heran sekali menghadapi hal itu, sebab meteran penunjuk ketinggian terbang di pesawat menunjukkan angka lebih dari 30.000 kaki, hampir seribu kaki lebih tinggi dari puncak Mount Everest.
Beberapa tahun seusai perang dunia, seorang wartawan Amerika yang tertarik oleh kisah perjalanan Pereira dan penemuannya yang ajaib itu coba melakukan pencarian terhadap gunung maha tinggi seperti yang ditulis sang jendral dalam catatannya. Beberapa lama kemudian dia mengatakan, bahwa dia pun sudah berhasil menyasikan Gunung Amne Machen dengan mata kepalanya sendiri.
Sayangnya, peralatan-peralatan ilmiah untuk mengukur ketinggian gunung yang dimiliki oleh si wartawan telah rusak, kerana perlakuan kasar orang-orang pribumi yang membawanya. Juga akibat berbulan-bulan diangkut di atas kuda, melalui daerah-daerah yang masih liar dan ganas.
Terdapat tiga orang kulit putih dalam ekspedisi itu. Salah seorang tewas akibat musibah tanah longsor, beberapa hari setelah mereka menyaksikan Amne Machen. Yang kedua mati di Peking, setelah terserang penyakti tipus. Adapun si wartawan sendiri tewas tenggelam beberapa bulan setelah menyaksikan gunung yang didambakannya itu.
Benarkah kutukan Amne Machen yang telah membunuh mereka? Yang dapat dipastikan adalah bahwa tak seorang pun orang kulit putih yang menyatakan telah melihat gunung siluman itu yang dapat hidup lebih lama. Mungkin juga benar kepercayaan mistis orang Tibet bahwa siapapun yang melihat gunung itu maka matilah sebagai tuntutannya.

"Cindaku" Manusia Harimau Kerinci Yang Menyimpan Misteri: "


Menurut kepercayaan masyarakat Kerinci, Jambi, manusia memiliki hubungan batin dengan harimau. Mereka lebih mengenal manusia harimau dengan sebutan, 'Cindaku'.

“Bahwasannya di Bumi sakti ini, tumbuh suatu kepercayaan magis spritual tentang hubungan bathin manusia dengan harimau, sehingganya kemudian tidak mengherankan di tengah masyarakat Kerinci ada pula yang berkeyakinan kalau nenek moyang mereka adalah harimau.”

Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kerinci tentang harimau, merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang konon telah berperan serta dalam melestarikan hutan di wilayah Kerinci yang merupakan habitat asli dari harimau Sumatra.

Diceritakan dalam cerpen Cindaku tentang adanya perjanjian yang dilakukan oleh nenek moyang mereka yang disebut Tingkas, dengan harimau yang tinggal di suatu hutan di wilayah Kerinci. Perjanjian tersebut berisi tentang pembagian wilayah, antara wilayah hunian harimau dan wilayah manusia.

“Ini tidak terlepas dari legenda yang berkembang di mana disebutkan, dahulu Tingkas, nenek moyang orang Kerinci telah menjalin hubungan dengan harimau. Dan dalam hubungan itulah terbentuk perjanjian yang membatasi dan mengatur hubungan manusia dengan alam terutama hutan rimba. Perjanjian itulah yang mengontrol nafsu masing-masingnya, sehingga tidak sampai memakan wilayah satu sama lainnya. Hutan rimba adalah wilayah hunian harimau. Tingkas dan anak cucunya tidak boleh merampas hak itu. Sementara kampung dan kota adalah wilayah manusia, harimau pun tidak akan pernah berani berkuasa atau menunjukkan kebuasannya di sini.'

Perjanjian tersebut merupakan suatu penggambaran sifat manusia yang mau menghargai kehidupan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Hal tersebut dapat pula dihubungkan dengan kearifan lokal (local wisdom), dimana suatu masyarakat mampu menyerap pesan-pesan yang disampaikan oleh para nenek moyang melalui cerita-cerita atau dongeng-dongeng yang bersifat peringatan maupun pendidikan.

Dalam kasus ini, pesan yang disampaikan adalah sebuah peringatan tentang adanya pembagian antara wilayah harimau dan wilayah manusia yang harus dihormati keberadaannya. Kearifan lokal itu sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Kerinci.

Selain sebagai suatu penghargaan terhadap nenek moyang, tetap dipegangteguhnya warisan nenek moyang tersebut berhubungan dengan konsekuensi yang berat terhadap orang yang berani melanggarnya.

Konsekuensi yang dimaksud dapat berhubungan dengan kematian yang disebabkan oleh serangan harimau, juga dihubungkan dengan kemunculan cindaku yang merupakan pelindung bagi harimau sekaligus penjaga wilayah huniannya.

'Perjanjian itulah yang disebut perjanjian garis tanah, yang berlaku selama ranting mati yang ditanam di tanah waktu itu tidak tumbuh berdaun apalagi berbunga. Ini berarti perjanjian itu akan berlaku selama-lamanya, karena ranting mati yang di tanam itu mustahil akan hidup dan tumbuh seumur-umur dunia.'

Kutipan diatas menunjukkan adanya unsur-unsur estetis yang diungkapkan melalui perumpamaan ranting kering yang tak mungkin bisa tumbuh lagi. Perumpamaan tersebut digunakan untuk menegaskan, bahwa pejanjian antara manusia dan harimau berlaku untuk selama-lamanya.

'Untung dada nak Saketi ini tidak sampai menyentuh tanah... Karena kalau sampai menyentuh tanah, maka wujud nak Saketi inipun akan berubah jadi harimau pula. Sebenarnya dia sudah tahu lawan yang dihadapinya itu adalah adalah salah satu sisi dari dirinya sendiri, eksistensi kehidupannya sebagai manusia yang terlahir dari tanah Kerinci. Dan rupanya makhluk-makhluk berwujud setengah harimau setengah manusia yang disebut cindaku itu, juga cukup menyadari akan hal ini... Nak Saketi, ternyata baru hari ini memasakkan ilmu batinnya, dan ini berjalan secara alami,' Ujar dukun memberitahukan.

Para lelaki itu masih belum mengerti dan tetap tak mengerti sampai ketika erangan kembali terdengar. Kali ini lebih mirip erangan seekor harimau. Tiba-tiba mata saketi terbuka menikam langit-langit dan alangkah kagetnya keempat lelaki itu menyaksikan mata Saketi, ternyata telah berubah jadi hijau dan tajam sekali. Dan semakin terkejut mereka ketika di tubuh Saketi bermunculan bulu-bulu kasar bercorak loreng. Terus tumbuh sampai akhir menutupi tubuh lelaki muda itu.

Kepercayaan tentang cindaku hanya terdapat di wilayah Kerinci saja. Orang Kerinci yang berkemampuan cindaku, hanya bisa berubah menjadi harimau bila dadanya menyentuh tanah Kerinci, tanah yang merupakan tempat berpijak harimau Sumatra, yang berkaitan dengan hak-hak hidup harimau dan manusia yang harus senatiasa dijaga keharmonisannya.

Cindaku adalah jelmaan dari manusia yang terlahir dari tanah Kerinci. Tidak semua orang Kerinci adalah cindaku, hanya sebagian orang saja yang mempunyai darah Tingkas (nenek moyang orang Kerinci) dan orang tertentu saja yang mampu berubah menjadi harimau.

Orang tertentu yang dimaksud adalah orang-orang yang mempunyai bakat supranatural dan mampu menyerap ilmu yang diberikan oleh cindaku. Lebih khusus lagi, tidak semua keturunan Tingkas mampu merubah diri menjadi cindaku, dalam legenda Kerinci, cindaku akan menampakkan diri, jika ada yang mencoba untuk melanggar perjanjian garis tanah saja, sehingga keturunan Tingkas tidak bisa sesuka hatinya untuk mengubah diri menjadi harimau.

Dari hal tersebut dapat dikatakan, bahwa suatu kekuatan besar tidak bisa seenaknya digunakan untuk hal-hal yang kurang bermakna, karena dengan kekuatan tersebut, para cindaku mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga apa yang seharusnya tetap terjaga.

Perilaku manusia yang mengetengahkan ambisi dan dendam banyak tertuang dalam cerpen Cindaku. Diceritakan tentang Martias, seorang pimpinan suatu perusahaan developer raksasa berusaha memenangkan tender dari pemerintah untuk mebuat jalan yang melintasi Muaro Bungo-Kerinci, melewati hutan rimba TNKS - yang merupakan habitat harimau Sumatra - tembus di Renah Pemetik.

Tentu saja Cindaku tidak tinggal diam. Pada saat melakukan observasi, salah satu anak buah Martias tiba-tiba menghilang dan ditemukan kembali dalam keadaan mati dengan tubuh tercabik-cabik harimau.

Kematian itu sebenarnya merupakan sebuah pesan, lebih tepat lagi ancaman terhadap pelanggar perjanjian garis tanah. Saketi sebagai orang kepercayaan Martias telah mengingatkan atasanya itu, agar membatalkan rencananya, namun peringatan itu tidak menyurutkan ambisi Martias.

Martias pada akhirnya memenangkan tender. Hal itu disebabkan oleh kematian salah satu anak buah Martias yang mati akibat terkaman harimau yang menciutkan nyali saingan Martias.

Sikap yang diambil Martias untuk meneruskan proyek pemerintah tersebut, banyak memakan korban. Sikap tersebut sangat bertentangan dengan apa yang menjadi kepercayaan masyarakat Kerinci. Keadaan yang semula tenang, secara tiba-tiba berubah menjadi suatu konflik yang berakibat fatal.

”Pada hari pertama jatuh satu korban. Ini sempat membuat nyali para buruh dan ciut..”

Peringatan sudah diberikan, namun orang-orang Martias belum mampu terbangun dari ketidaksadaran mereka akan bahaya yang mereka ciptakan sendiri. Ketidaksadaran tersebut terkait dengan sifat manusia yang berpandangan sempit dan sepele terhadap hal-hal yang seharusnya dihormati eksistensinya.

Manusia terkadang kurang menghargai adanya pesan-pesan leluhur yang berelevansi dengan keseimbangan alam. Terkadang pula manusia mudah melupakan tanda-tanda dan peringatan yang telah dilontarkan oleh alam. Oleh karena itu, sering terjadi bencana yang menyebabkan manusia bertanya-tanya apa gerangan yang menjadi sebabnya.

“Pada hari ketiga jatuh lagi satu korban, sementara pembangunan sudah semakin jauh masuk ke dalam hutan. Dan pada hari kelima jatuh lagi satu korban. Para buruh semakin gempar dan geger mentalnya. Seakan telah jadi satu hukum kepastian dalam selang waktu dua hari maka hutan ini menuntut tumbal, nyawa manusia. Pertanyaan-pertanyaan siapa yang akan jadi korban berikutnya, senantiasa menghantui benak mereka.”

Keadaan semakin memburuk, orang-orang Martias mulai sadar akan kejadian apa yang sedang dan akan menimpa mereka. Mereka sadar, bahwa apabila tidak segera diakhiri, proyek tersebut akan memakan lebih banyak korban lagi.

“Martias terobsesi untuk menciptakan prestasi terbesar dalam sejarah perjalanan karir hidupnya sebagai developer.”

Namun Martias yang telah dibutakan oleh obsesinya, tidak memperlihatkan tanda-tanda untuk menghentikan proyeknya. Obsesi manusia merupakan penyulut bagi hadirnya ambisi. Tidak sedikit manusia yang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan suatu obsesi, walaupun harus mengorbankan sesamanya.

Diantara gencarnya peringatan dengan cara kekerasan yang dilakukan cindaku, masih ada sebuah kebijakan yang dilakukannya, yaitu dengan memberi peringatan secara halus.

Sebagai seorang kakek, ia menyatakan, bahwa proyek tersebut merupakan bumerang bagi masyarakat Kerinci, dan menggambarkannya seperti pintu bendungan. Perumpamaan tersebut mengandung nilai-nilai estetis yang membangun pernyataan yang dinyatakan oleh cindaku untuk meyakinkan Martias.

'Tidak anakku, orang-orang Kerinci belumlah siap dengan semua itu. Pembukaan jalan ini malah bisa menjadi bumerang, dan membawa bencana seperti pintu bendungan yang akan menghantarkan air bah kepada mereka, dan ini bisa menghanyutkan atau menenggelamkan mereka dalam arus dunia yang ganas seperti sekarang ini.”

Pada akhirnya, harimau-harimau yang menghuni TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) melakukan penyerangan terhadap orang-orang Martias. Harimau-harimau tersebut menyerang bukan tanpa alasan, mereka menyerang karena habitat mereka terusik.

Ada tradisi yang menyatakan, bahwa harimau Sumatara hanya akan menyerang orang yang berada di pihak yang salah. Harimau pada dasarnya bersifat “pemalu” dan “sopan”, sifat yang seringkali tertutup akibat reputasinya yang mnyeramkan.

Karena sifat alaminya tersebut, harimau lebih sering menarik diri sebelum terjadi kontak dengan manusia. Legenda setempat mengatakan, bahwa jika seekor harimau bertemu dengan seseorang, maka ia harus membayar dendanya dengan tidak makan sepanjang 40 hari dan 40 malam.

Permasalahan harimau memang sering menjadi kontroversi di derah Kerinci, Jambi. Para anti konservasi yang menganggap harimau sebagai pengganggu manusia, sering melakukan perburuan terhadap harimau yang justru perlu diselamatkan dari kepunahan. Pada dasarnya dapat dikatakan, bahwa perburuan itulah yang menjadi penyebab harimau mengganggu manusia

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...