Jumat, 08 Oktober 2010

Kisah Sejati ~ Suami Yang Melayang

Ah! Seandainya hidup boleh memilih, mungkin bagi Nyonya Tri, ia tidak akan mau hidup menjanda. Bagaimanapun hidup seorang janda, tetap saja tidak enak. Bukankah cukup banyak contoh kehidupan seorang janda yang akhirnya menjadi bahan gunjingan?

Satpam...


Nyonya Tri, terpaksa menjanda karena ulah suaminya. Hidup memang terkadang misteri. Sewaktu belum menikah, Triini hidup membujang sampai hampir menyentuh usia 38 tahun. Ia sendiri sudah dilangkahi adiknya yang lebih dulu menikah.

Setiap hari ia berdoa, agar diberi jodoh. Orangtuanya juga tak henti-hentinya berdoa, dan berupaya mencarikan suami. Giliran ada yang mau, dua orang langsung ingin menikahinya. Tapi, Tri akhirnya memilih orang yang lebih dulu mendekati dirinya.

Lalaki yang beruntung mempersunting itu adalah orang Betawi asli. Sebut saja dia Mulani. Dia bukan perjaka lagi. Dia duda dengan tiga anak, dan istrinya belum lama meninggal. Akhirnya mereka pun menikah.

Tri dan Mulani mengawali hidup dengan sangat pilu, terutama bagi Tri. Ini karena dia biasa hidup sendiri, sekarang harus ikut pula mengasuh tiga anak tiri. Selain itu, dia juga harus hidup di satu rumah yang dihuni lebih dari lima keluarga. Ya, Tri dan suami dengan tiga anak, hanya kebagian satu kamar. Masih mending karena ada anaknya yang tidur bersama neneknya.

Tri hanya kuat beberapa bulan. Akhirnya, pasangan baru itu pindah ke rumah kontrakan. Dari sini sebenarnya drama baru dimulai. Saat akan menikah, Mulani mengaku bekerja sebagai teknisi di sebuah pabrik di Kawasan Industri. Sebulan, dua bulan, akhirnya kedok Mulani terbongkar satu kebohongannya. Ternyata sudah lebih dari enam bulan, ia sudah tidak bekerja lagi. Itupun setelah Tri menelepon langsung ke perusahaan tersebut. Tri curiga karena Mulani tidak pernah memberi uang belanja, tetapi justru meminta untuk ongkos.

Selama berbulan-bulan, Mulani hidup layaknya orang kerja. Berangkat pagi, pulang sore. Setiap kali ditanya tentang gajinya, selalu dijawab sudah diberikan kepada ibunya untuk membiayai anak-anaknya. Tri bukan tidak setuju, tetapi mengapa ia tidak pernah kebagian, dan justru ia nombok untuk mengokosi sang suami.

Setelah itu, suami jelas-jelas menganggur. Meski begitu, pasangan ini akhirnya hamil dan melahirkan. Untuk biaya kelahiran anaknya, Tri dibantu saudara-saudara kandungnya. Sementara suaminya tidak bisa apa-apa, karena masih tetap menganggur.

Belum sebulan mengurus anak, Tri sudah harus masuk kerja lagi. Meski ia sebenarnya mendapat cuti melahirkan sampai dua bulan lagi, Tri memilih masuk kerja. Bukan ia tipe workholic, melainkan semata-mata jika masuk kerja ia ada kesempatan untuk lembur. Dan, uang lembur itulah yang akan dipakai untuk tambah uang belanja.

Cukup lama ia menjadi tulang punggung keluarganya. Di saat kontrak rumah selesai, suami belum juga memiliki pekerjaan. Sedangkan uang tidak ada, maka Tri dan anaknya terpaksa boyongan ke rumah mertua lagi. Kali ini tidak terlalu lama. Itu karena suaminya akhirnya diterima sebagai satpam di Kawasan Berikat Nusantara di daerah Cakung, Jakarta Timur.

Lama tak terdengar, kehidupan keluarga ini pun damai-damai saja. Bahkan Tri hamil untuk anak yang kedua. Semula berjalan lancar, hingga memasuk hari-hari yang membuat hatinya teriris-iris. Di saat hamil itu, diam-diam suaminya pacaran dengan pegawai pabrik tempat ia bekerja. Bahkan, dengan si perempuan itu, Mulani berani memberi “DP”, bukan down payment tetapi menghamilinya.

Tri semula tidak tahu persoalan suaminya. Yang ia tahu, suaminya tiba-tiba jarang pulang. Dan, yang lebih parah lagi, ia tidak diberi uang untuk kebutuhan hidup. Bahkan, sekedar untuk makan pun tidak diberi. Di awal pertengkaran, Tri masih bisa meminjam ke sana sini. Tetapi, makin lama makin pahit. Dari seminggu sekali pulang, hingga berbulan-bulan ia suaminya tidak pulang.

Karena tak sanggup lagi mengutang, akhirnya membuka aib ke saudara-saudaranya. Lantas Tri pun diboyong ke rumah saudaranya. Si Mulani ini penakut. Ia baru berani menemui istri dan anaknya setelah sekian bulan. Itupun ia datang dalam keadaan mulut bau alkohol. Oleh saudaranya, dia diinterogasi. Mengapa nggak ngurus istri, mengapa tidak pernah pulang. Ia menjawab, selama ini tidak pulang karena ditugaskan ke luar kota. Uangnya selain untuk membiayai anak-anaknya yang dititipkan di rumah neneknya, Mulani mengaku habis untuk berjudi.

Datang berikutnya, ia mengaku akan mengajak istrinya untuk hidup sebagai suami istri lagi. Kali ini, istrinya menurut. Mereka pun kembali mengontrak di dekat Cakung. Selama sebulan, suaminya memang membiayai hidup dan terlihat hidup normal. Hanya sampai di situ. Setelah itu, ia kembali raib dan seperti ditelan bumi. Anak dan istri kembali di telantarkan. Beruntung Tri dibekali sedikit uang oleh saudara-saudaranya. Uang itulah yang dipakai untuk keperluan makan sampai beberapa bulan.

Maka, aib itu pun akhirnya terbongkar. Karena penasaran akan keberadaan suaminya, Tri dengan diantar adiknya mendatangi kantor Mulani bekerja. Ia bertemu dengan pihak HRD, mengadakan perilaku Mulani. Pihak HRD berjanji akan memanggil dan meminta agar segera pulang. “Waktu itu suamiku langsung pulang,” katanya.

Ketika Mulani pulang, ia bukan meminta maaf karena tidak memberi nafkah. Ia justru mengamuk karena merasa dipermalukan oleh istrinya. Setelah puas ngamuk, Mulani pergi lagi meninggalkan rumah. Istri dan anak kembali ditelantarkan. Tri menahan malu. Dia tidak mau lagi hidup menumpang di rumah saudara-saudaranya. “Malu. Malu sama saudara,” katanya.

Hanya saja, ia juga tidak bisa mencari nafkah karena anaknya masih kecil. Baru saja bisa jalan. Ia berusaha menggunakan ketrampilan menjahit untuk sedikit mencari penghasilan. Ini juga tidak berjalan lama, karena kandungannya makin besar. “Ah udah habis air mata saya,” katanya.

Maka, ketika kehamilannya sembilan bulan, Tri tidak tahu harus berbuat apa saat hendak melahirkan. Ia hanya menelepon ke kantor suaminya, sekedar untuk memberitahu dirinya akan melahirkan. Selebihnya, ia diurus tetangga. Yang mengantar ke rumah sakit, yang mengurus anak yang masih kecil, juga tetangga. “Dia nggak tahu apa-apa. Pas mau anak lahir baru datang,” ujarnya.

Barangkali, si anak mengerti akan penderitaan orang tuanya. Si bayi pun meninggal setelah lahir. Menurut dokter, si anak meninggal beberapa waktu sebelum dilahirkan. Beruntung masih bisa keluar tanpa operasi. Tri antara senang dan sedih. Ia sedih karena anak lelaki yang dikandungnya sembilan harus meninggal. Ia gembira, karena di dalam hatinya tersembul kekhawatiran: takut tidak diurus bapaknya.

Setelah kehilangan anak, saya kira Tri akan mendapat perlakuan berbeda dari suaminya. Ternyata tidak. Sampai tiga bula, ia tidak diurus suaminya. Kadang seminggu pulang sekali, kadang tidak. “Kalo ngasih uang paling banyak Rp 5.000,” katanya. Itu untuk makan dia dan anaknya. Belum kebutuhan lain. Tri sendiri sampai malu, karena banyak utang di warung tetangga. Beruntung ada satu tetangga yang berhati mulia. Dialah yang sering memberi makan.

Tak tahan dengan perlakuan suaminya, Tri akhirnya memutuskan pulang kampung. Dan, Alloh mantakdirkan ia menjadi perawat ibunya. Tak lama setelah di kampung, sang ibu terkena stroke. Sampai 10 tahun kemudian, Trilah yang mengurus Ibu. Karena bakti terhadap Ibunya itu, Tri sekarang malah bahagia. Meski tidak bersuami, ia memiliki anak dan punya segudang bekal amal dari merawat ibunya. Beberapa saudaranya juga tak pernah henti mengirimi segala kebutuhan Tri, juga anaknya.

Lalu ke mana suaminya? Sampai sekarang sang suami tidak pernah mencaraikannya. Tetapi, sekitar dua tahun sejak Tri pulang kampung, perempuan yang diberi “DP” tadi meninggalkannya. Ia memilih menjadi TKI ke Taiwan, setelah uang pesangon Mulani habis. Mulani dipecat karena perlakuan buruk menelantarkan anak dan istri.

Sejak saat itu, Mulani menyesal. Ia stres berat. Ia menghukum dirinya. Ia sangat menyesal telah menelantarkan anak dan istri yang sangat menyayanginya. Ia meninggal dalam derita. Tri pun tak bisa menahan sedih. “Dia suamiku. Ayah anakku,” katanya.

Ia menangis. Dan, sampai sekarang Tri masih menjaga hubungan baik dengan mertuanya. Tri berdamai dengan masa lalu. Melupakan kenangan pahit. “Biar anakku tahu asal-usul ayahnya,” kata Tri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...