Jumat, 08 Oktober 2010

Motivasi ~ Berjalan di Atas Tali…

Berjalan di Atas Tali…

oleh Taufik Hidayat pada 08 Oktober 2010 jam 14:41

Seperti menepuk air di dulang, terpecik ke muka sendiri. Aib keluarga, bila diceritakan hanya akan mengotori wajahnya sendiri. Tapi, seorang teman rela melakukan itu.

Panggil saja teman kita dengan nama Wahono. Dia teman saya dalam sebuah organisasi. Kami berteman baru sekitar 4 tahun ini. Tetapi, rasanya, kami sudah mengetahui semua rahasia hidup. Paling tidak saya tahu tentang siapa dia.

Wahono ini seorang pengusaha. Dia bersama istrinya merintis bisnis jasa catering sudah cukup lama. Keduanya, dulu karyawan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Saat merasa jemu bekerja, Wahono mencoba-coba menjual makanan di antara teman-temannya saat makan siang. Beberapa teman dia tawari untuk makan siang dari dirinya. Karena makanannya banyak yang memuji, dan banyak suka, istri Wahono lantas mencoba menyeriusinya.

Mereka lantas menawarkan ke peruasahaan di Kawasan Industri Pulogadung dan Cikarang. Semula hanya satu perusahaan yang tertarik memakai jasa Wahono. Tapi, ini pun sudah cukup untuk menguatkan tekad Wahono untuk melepaskan status sebagai karyawan. Setiap dini hari, Wahono sudah di pasar. “Saya yang belanja,” katanya.

Meski satu perusaaan yang memakain jasanya, rupanya ordernya cukup tinggi. Ini karena perusahaan ada tiga shift kerja. Dan setiap shift harus menyediakan 150 paket nasi. Sekitar tujuh tahun lalu, Wahono pernah sempat keteteran. Ada 5 perusahaan yang meminta order penyediaan catering.

Karena keuntungan sudah banyak, Wahono dan istri pun merencanakan untuk menenuiakan ibadah haji. Ia menyetor ke bank, dan sudah mencari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) untuk persiapan. Nah, di saat persiapan itu, kok ujian datang tanpa terasa. Tiba-tiba lonjakan pesanan cateringnya meningkat tajam. Dari informasi mulut ke mulut, banyak perusahaan yang menawarkan agar Wahono menjadi vendor.

Saya tidak tahu pasti berapa jumlahnya. “Pokoknya, sampai nggak sanggup melayani,” kata Wahono. Nah, karena godaan keuntungan besar di depan mata, akhirnya niat ibadah haji itu mereka batalkan. Mereka berpikir, tahun berikutnya toh masih bisa. Dan, kesempatan mendapatkan keuntungan berlipat toh belum tentu datang lagi.

Mereka kembali berkutat mengurus dunia. Di saat itulah, Wahono harus mengela nafas. “Rumah saya terbakar, hampir semuanya habis,” katanya. Bisa dibayangkan betapa ngilu dan perih hati Wahono. Keuntungan di pelupuk mata, akhirnya justru menjadi petaka. “Mungkin saya terlalu ngoyo, mengejar untung jadi kena sentil dari Alloh,” katanya.

Wahono tidak terpuruk. Kebakaran rumahnya benar-benar ia maknai sebagai peringatan agar tak rakus. “Wong sudah mau ibadah kok ya masih mikirin bisnis,” katanya. Ia pun lantas berusaha bangkit dari petaka itu. Pelan-pelan, ia kumpulkan tenaga dan dana. Ia kais satu demi satu keping harapan, juga keuntungan untuk membangun kembali bangunan rumah, juga bangunan “semangat hidup”.

Akhirnya, dua tahun setelah kebakaran melanda, Wahono dan istri berhaji. Di tanah suci, dia masih pula mendapat cobaan. “Dompet saya hilang. Semua bekal uang saya ada di situ,” katanya. Beruntung ada teman-teman yang membantu. Pengurus KBIH juga memberi pinjaman. Maka, “selamatlah” hidup di tanah rantau itu.

Tiba di Tanah Air, berbagai cobaan datang silih berganti. Pertama, ayah yang dicintai meninggal. Berikutnya, Ibu mertuanya meninggal. Belum sampai di situ. Istri tercinta, Nani, terkena penyakit yang sampai sekarang belum jelas benar. Yang dirasakan Nani, di bagian perut, seperti terus diperas-peras, badan mendidih, dan lemas. Belum lama ini, Nani dirawat di rumah sakit berhari-hari. Kini, Nani masih menjalani terapi dan juga pengobatan Ruqyah.

Wahano khawatir istrinya sakit karena “dikerjain” tetatangganya. Kok bisa? Ceritanya, tahun lalu, ada satu klien perusahaan yang sudah lama menjadi langganan, mendakdak menghentikan kontrak di tengah jalan. Selidik punya selidik, ternyata orang kepercayaannya selama ini yang menggergaji. Dia ingin mengambil alih. Tetangga itu, selama ini sangat dia bantu. Saat mereka menganggur, suami istri direkrut untuk membantunya. Pasangan suami istri itu juga dipercaya untuk menjadi semacam manager. Si istri mengurus dapur, dan suami mengurus pengiriman. Wahono tentu menegur dengan tindakan itu. Nah, saat itulah keluar ancaman. “Ya, dia ngancam mau ngerjain kami,” kata Wahono.

Keduanya akhirnya dipecat. Dan, entah yang terjadi selanjutnya. Apakah suplai di perusahaan itu, jadi direbut pembantunya atau tidak. Yang pasti, Wahono setelah itu harus menjalani upaya marketing ke beberapa perusahaan lain. Ya, biar omset tidak turun drastis.

Ujian belum selesai. Tiba-tiba, anaknya tersangkut masalah. Menantunya terlibat cinta terlarang dengan perempuan lain. Awalnya, mereka tidak mau campur tangan. Hanya saja, anak dan menantu itu semakin tidak harmonis. Bahkan, menantunya konon pernah mengambil uang kas perusahaan. Akhirnya, Wahono meminta agar anaknya bercerai saja. Dia yang mengurus, dan yang mengkongkosi. “Ya gimana lagi, udah nggak bener?” katanya.

Setelah bercerai, Wahono berharap masalah tidak ada lagi. Tidak tahunya, giliran si anak yang menikah diam-diam. “Dia menikah dengan lelaki sudah beristri. Tanpa ngasih tahu ke orang tuanya,” kata Wahono kesal. Yang lebih kesal lagi, si anak itu selain tak minta izin, juga menikah tanpa kehadiran Wahono sebagai wali.

Toh Wahono ini tidak pernah mengeluh. Dia bercerita seperti sedang baik-baik saja. Seolah semua berjalan normal. Hanya istrinya yang sering tensinya naik. Wahono sangat tegar menghadapi semua cobaan itu. “Mau bagaimana lagi? Nangis juga nggak menyelesaikan masalah,” katanya tertawa. Bahkan, ketika kami berjumpa, banyak canda yang dia lontarkan. Ia tetap segar dan tegar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...