Kamis, 07 Oktober 2010

Mengejar Kebahagiaan

Mengejar Kebahagiaan

oleh Taufik Hidayat pada 06 Oktober 2010 jam 19:14

Bilamana Anda merasa bahagia? Apakah ketika Anda meraih kesuksesan, kekayaan, atau kesenangan? Tentu saja Anda tidak mau terjebak oleh kebahagiaan semu: ibarat musafir di padang sahara yang melihat fatamorgana dari kejauhan. Ini sebuah kisah yang menceritakan seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang istri. Ia sangat mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik di antara semua istrinya. Pria itu selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini. Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Ia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia selalu khawatir kalau istrinya ini lari dengan pria lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Dia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapan pun pedagang ini mendapat masalah, ia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, pedagang itu tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang kepadanya, namun sang suami tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari bahwa ajalnya akan tiba. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati: “Saat ini aku punya empat orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

Lalu ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya, “Kaulah yang paling kucintai. Kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kau mendampingiku dan menemaniku?” Ia terdiam. “Tentu saja tidak,” jawab istri keempat, lalu pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga, “Aku pun mencintaimu sepenuh hati. Saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati.” Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu ia bertanya pada istri keduanya, “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau kumati, maukah kau ikut dan mendampingiku?” Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya, “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti akan kubuatkan makam yang indah buatmu.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang pun merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan setia bersamamu.” Sang pedagang lalu menoleh ke sumber suara. Ia mendapati istri pertamanya di sana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat kumampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah ini? Sesungguhnya dalam hidup ini, kita punya empat istri. Istri yang keempat adalah tubuh kita. Seberapa pun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap Sang Khaliq.

Istri yang ketiga adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sedangkan istri yang kedua adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan sesungguhnya, istri pertama adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi ke mana pun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak. Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Tiada berguna menyesal belakangan.

Bahagia Itu Pilihan Kita semua tentu mendambakan kebahagiaan. Bukan hanya di akhirat kelak, melainkan juga di dunia yang sekarang nyata. Hasrat inilah yang mendasari berbagai aktivitas kita agar kehidupan ini dirasakan berarti dan berharga. Abraham Maslow, tokoh psikologi humanistik, mempopulerkan piramida kebutuhan (hierarchy needs) manusia. Semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhannya. Pada tingkat yang paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum (physiological needs). Ia hanya memuaskan kebutuhan biologisnya. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik pada tingkat selanjutnya. Kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan akan kasih sayang (belonging and love needs) serta ketenteraman dan rasa aman (safety needs). Lebih atas lagi adalah kebutuhan akan perhatian dan pengakuan (need for esteem). Lebih tinggi daripada itu adalah kebutuhan akan aktualisasi diri (need for self actualization).

Konon, sebelum ajal menjemput, Maslow sempat menyesal karena teori piramida kebutuhan manusia yang dibuatnya ternyata terbalik. Dia sadar, piramidanya membuat orang menjadi tamak, egois, dan materialistis. Sehingga orang tidak punya kepedulian sosial karena hanya mengejar kebutuhan dasar. Padahal, jika aktualisasi diri dipenuhi lebih dahulu, kebutuhan dasar dengan sendirinya akan terpenuhi. Belakangan Maslow menempatkan kebutuhan ruhaniah (transcendental needs) sebagai puncak kebutuhan manusia.

Mungkin banyak di antara kita yang meyakini bahwa bahagia itu apabila kita sukses, kaya, atau dapat menikmati beragam kesenangan. Keyakinan itu demikian kuat sehingga kita terpesona melihat orang yang memiliki salah satu atau ketiga-tiganya. Nyatanya, kekayaan dan kesuksesan tidak dapat membeli kebahagiaan. Semuanya hanyalah alat untuk mencapai kebahagiaan. Hasil kajian Paul Wachtel, ahli psikologi sosial, pada masyarakat Amerika menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup selalu berbanding terbalik dengan akumulasi kekayaan. Makin meningkat jumlah kekayaan materi yang dimiliki, makin meningkat pula jumlah permasalahan kehidupan, makin tinggi tingkat stres kehidupan, dan makin tidak bahagia kehidupan manusia.

Bagi seorang muslim, hakikat kebahagiaan terletak pada keridhaan Allah dalam setiap aktivitasnya. Ketika kita mampu mengendalikan semua kebutuhan dan keinginan kita agar bersesuaian dengan kehendak Allah, maka sikap tersebut akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan. Ibnu Mas’ud ra berkata, “Sesungguhnya Allah dengan keadilan dan pengetahuan-Nya, menjadikan kebahagiaan dan suka cita di dalam sikap yang yakin dan ridha, dan menjadikan duka dan nestapa di dalam sikap ragu-ragu dan benci terhadap ketentuan-Nya.”

Baiknya kita coba renungkan ungkapan William Shakespeare berikut ini: “Jalan menuju kebahagiaan itu tidak ditaburi bunga mawar yang harum, melainkan penuh duri dan pahit.” Ya, meraih kebahagiaan memang bukan perkara mudah. Namun, kita hampir selalu bisa meraih cita-cita dan keinginan, baik karena kita adalah pribadi yang lebih sabar, lebih hati-hati, dan tak kenal lelah untuk berusaha meraih cita-cita dan keinginan baik itu. Dengan semua itu, apa yang dapat menghalangi kita untuk mengejar kebahagiaan? Mahabenar Allah dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu memperoleh kebahagiaan.” (QS. Al-Maaidah [5]: 35) [AA]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail (1909-1998)

  H. Abdul Hadi (1909-1998) Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH. Ismail dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor Kelurahan Jawa, Manggarai Ja...